Home Info Sawit Saksi Bisu Tanpa Sangu

Saksi Bisu Tanpa Sangu

302

Pekanbaru, Gatra.com - Sebetulnya, ruang tengah berukuran 3x9 meter di rumah di kawasan Kelurahan Kempas Jaya Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Riau itu, adalah ruang keluarga.

Ruangan itu sangat sederhana, cuma dibalut karpet plastik berhiaskan etalase kaca yang biasa dipakai jualan. "Hanya begitulah adanya, saya belum sanggup menukar karpet plastik itu dengan keramik," kata si pemilik rumah, Tedi Susilo, kepada Gatra.com, Senin (14/9).

Meski sangat sederhana, sejak tiga tahun lalu, ruangan itu telah menjadi saksi bisu bagi anak-anak Inhil yang lulus beasiswa kelapa sawit Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa sawit (BPDPKS).

Sebab sebelum mengikuti seleksi, di ruangan itulah lelaki 50 tahun ini menggembleng anak-anak supaya lebih bisa menghadapi seleksi beasiswa yang semakin tahun, semakin ketat. Maklum, untuk berinternet saja, anak-anak baru belajar mengetik google.

Calon peserta yang sudah pernah duduk di karpet plastik itu, sudah hampir dari semua kecamatan yang ada di Inhil. "Ada yang dari Keritang, Kemuning, Tembilahan Kota, Kempas, Sungai Salak, Kempas Hulu, Mumpa Tempuling dan kecamatan lain," urai ayah tiga anak ini.

Alhamdulillah kata Tedi, tahun 2017, ada 9 orang yang lulus. Tahun berikutnya 2 orang, tahun lalu 8 orang dan tahun ini 6 orang.

Salah satu yang lalus tahun ini adalah Atika Nazwa Anggraini, putri sulung Tedi sendiri. Atika lulus di Politeknik Sawit Kampar, Riau, bersama dua temannya.

Yang dua lagi lulus di AKPY STIPER Yogyakarta dan satu lagi, Dede Solehudin. Anak buruh tani ini lulus di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis perkebunan (STIP-AP) Medan, Sumatera Utara (Sumut).

"Tahun ini yang ikut seleksi ada 26 orang, hingga di tahap wawancara masih bertahan 8 orang dan akhirnya lulus segitu tadi, 6 orang," rinci Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) ini.

Dari awal sampai sekarang kata Tedi, dia tak pernah memungut duit sepeser pun kepada anak-anak yang ikut bimbel itu. "Enggak pakai sangu, alias gratis. Saban akan mengikuti seleksi, saya ngasi bimbel itu 8 kali. Sekali seminggu lah," katanya.

Biar anak-anak pulangnya tidak ada yang kemalaman, Tedi menjadwalkan bimbel dari pukul 08:00 Wib-11:30 Wib. "Kan banyak yang jauh, jadi waktunya saya atur begitu," ujarnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tedi membimbing anak-anak mulai dari persiapan berkas, teknik pengisian soal, hingga teknik seleksi wawancara.

Apapun yang berkaitan soal kelapa sawit dikupas dalam bimbel itu. Mulai dari apa itu gawangan, berapa batang ideal pohon kelapa sawit perhektar hingga hal-hal teknis seperti bagaimana menghadapi interview, diajarkan oleh jebolan Teknik Teknologi Perkebunan Yogyakarta ini.

"Mereka itukan anak-anak kampung, mereka sangat awam soal yang semacam ini, makanya harus dibimbing," terangnya.

Tedi tidak menetapkan hari bimbel kepada anak-anak. Maklum, lelaki ini juga berkejaran dengan waktu bersama timnya untuk sosialisasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"Jadi kalau jadwal sosialisasi PSR Apkasindo enggak padat, di sela waktu itulah saya kabari anak-anak, kebetulan kami sudah bikin group whatsapp untuk memudahkan komunikasi," katanya.

Munculnya inisiatif bimbel gratis tadi kata Tedi, bermula dari kekhawatirannya terhadap anak-anak yang akan kesulitan menjawab pertanyaan ujian beasiswa nanti.

"Sebab mereka kan anak-anak lulusan SMA/SMK yang sama sekali tak mengerti apa itu kelapa sawit kalau pertanyaanya dibikin dalam bentuk kalimat, apalagi kalau ujiannya online. Nah, biar mereka lebih terbantu, saya bikin lah bimbel itu," cerita Tedi.

Baca juga: Cerita Cuci Darah dan Lulus Beasiswa

Awal muncul beasiswa BPDPKS, tak mudah bagi Tedi meyakinkan banyak orang kalau beasiswa itu ada. Banyak orang yang was-was dan malah ada yang ngomong, "Jangan-jangan nanti anak kita dijual Pak Tedi ke Jawa," Tedi menirukan omongan orang itu sambil tertawa.

Meski didera oleh omongan miring, Tedi tak ambil pusing. Dia terus door to door mendatangi anak-anak yang akan dan sudah taman SMA/SMK untuk ikut seleksi beasiswa. "Ngasi tau cuma lewat WA, enggak efektif, musti turun langsung ke lapangan," katanya.

Sepanjang upaya Tedi mensosialisasikan beasiswa tadi, dia didukung terus oleh istrinya, Aprida Iriani yang guru di SMA Dharma Pendidikan, Kempas.

Iriani ikut mensosialisasikan beasiswa tadi di sekolah dan saat Tedi bilang mau menjadikan rumah mereka sebagai tempat bimbel gratis, Iriani justru senang.

Perlahan, jeri payah Tedi tadi mulai membuahkan hasil. Anak-anak yang dia bimbing, semuanya tahu diri.

Enam orang yang sudah lulus dari kampus beasiswa, sudah bekerja. Lalu yang masih kuliah, semuanya punya nilai sangat bagus.

Kusno yang di CWE misalnya, Indeks Prestasi (IP)nya 3,66. Lalu Diah Sari Ningtyas di Stiper IP 3,44.

"Satu lagi yang di Politeknik Perkebunan LPP Yogyakarta, IP nya juga 3,44. Namanya Muhammad Rizki, D3 Teknik Kimia Pengolahan," rinci Tedi.

Lalu yang terbaru, Lukman Tri Wahyudi dengan IP 3,83, Lisa 3,78, Doni 3,50 dan Siti 3,37.

Kini, Tedi sudah tak sesulit dulu lagi untuk menggembar-gemborkan beasiswa kuliah tadi ke masyarakat. Sebab sudah ada lulusan yang kapan saja bisa diboyong Tedi sebagai bukti.

"Alhamdulillah. Tak ada usaha yang membohongi hasil. Saya bangga dengan anak-anak yang mau bekerja keras dan kemudian berhasil. Itulah kebanggan tersendiri buat saya," katanya.

"Meski mereka bukan anak-anak saya, tapi mereka adalah generasi penerus Inhil yang harus lebih maju dan berkembang dari generasi sebelumnya," Tedi berharap.

Tedi hanyalah satu dari sederet pengurus Apkasindo yang dengan sukarela meluangkan waktu untuk mensosialisasikan dan membantu anak-anak untuk ikut seleksi beasiswa sawit BPDPKS itu, “Kami sangat bersyukur adanya beasiswa ini, makanya kami mati-matian mengupayakan supaya anak-anak petani miskin bisa lulus. Mudah-mudahan tahun depan, seleksi tidak lagi berbasis internet, susah kami di kampung dapat signal, apalagi beli paket internet,” ujar Tedi.

"Bagi kami, beasiswa sawit itu adalah anugerah yang selama ini belum pernah ada. Kami, pekebun kelapa sawit, diberikan kesempatan untuk naik kelas oleh BPDPKS. Tentu, kami harus syukuri ini dengan mengerahkan semua potensi kami yang ada untuk mensosialisasikannya," kata Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung.

Apkasindo kata Gulat, ada di 118 kabupaten kota, 22 provinsi di Indonesia. "Kami sangat tahu dimana saja anak-anak petani dan buruh tani yang ada. Kami beri tahu mereka. Meski kami tidak menjadi panitia dalam proses seleksi itu, kami tidak berkecil hati. Sebab inilah tanggungjawab moral kami, sebagai asosiasi petani," ujarnya.


Abdul Aziz

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS