Home Kesehatan Warga Australia Positif Covid Sembuh Terapi Isa Robotik

Warga Australia Positif Covid Sembuh Terapi Isa Robotik

Jakarta, Gatra.com - Pandemi virus Covid -19 belum berakhir, para ilmuwan di seluruh dunia telah berlomba menemukan vaksin atau obat untuk penyembuhan korban terpapar virus corona. Saat ini perkembangan vaksin atau obat virus corona belum final, banyak negara masih melakukan proses uji klinis.

Vaksin virus corona jenis baru penyebab Covid-19 diproduksi oleh Sinovach Bitoech Ltd. Vaksin Covid-19 dari perusahaan asal Cina itu telah diserahkan ke PT Bio Farma untuk diuji klinis. Selain itu, terdapat beberapa peneliti dan praktisi kesehatan yang terus melakukan riset dalam rangka misi sosial dan kemanusiaan dalam penyembuhan pasien positif Covid-19.

Salah satunya upaya yang dilakukan oleh Yayasan Biotech Methodologi Tubuh lewat pakar herbal dan praktisi kesehatan Muhammad Isa (Isa Robotik). Racikan obat Isa Robotik dilaporkan mampu menyembuhkan pasien positif Covid-19. Yang terbaru, Harris James Jay (52), pria asal Australia yang divonis positif Covid dari pemeriksaan PCR SARS-CoV 2 yang dilakukan di RS Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Jakarta pada 7 September 2020.

Setelah terindikasi positif Covid-19, Harris kemudian mendatangi Yayasan Biotech Methodologi Tubuh untuk melakukan pengobatan mandiri. “Dia datang ke kantor yayasan dalam kondisi terpapar positif Covid-19, dan kita suntik obat mutakhir Limfosit T Nano, dan setelah 3 hari hasil PCR swab yang dikeluarkan oleh dr. Hadi Purnomo, AKP hasilnya negatif,” ujar Pembina Yayasan Biotech Methodologi Tubuh, Wibisono di Jakarta, Selasa (22/9).

Selain menyembuhkan pasien mancanegara, ribuan pasien Covid dalam negeri juga diklaim berhasil disembuhkan oleh Yayasan Biotech. Wibisono menambahkan saat ini perkembangan virus Covid-19 sudah bermutasi menjadi virus SARS- CoV 4, dan memasuki fase gelombang ke 4 akan memasuki fase gelombang 5.

“Banyak klaster baru muncul, seperti klaster perkantoran dan klaster keluarga, serta klaster pilkada, maka vaksin atau obat Covid-19 yang telah diuji klinis saat ini tidak akan mampu menghadapi klaster baru gelombang 4 yang mampu merusak jaringan saraf dan oksigen di otak dengan masa inkubasi 63 hari , dengan jarak penularan 6 meter serta bertahan diudara sekitar 14 jam,” ujarnya.

Wibi menyebut kondisi itu yang terkadang diabaikan oleh praktisi kesehatan sehingga pengobatan Covid yang diberikan menjadi tidak manjur. “Inilah yang luput dari prediksi para ilmuwan bahwa strategi untuk melumpuhkan virus ini tidak hanya pendekatan ilmu kesehatan, tapi harus menggunakan strategi perang semesta”.

“Saya berharap pemerintah segera bisa mengakomodir hasil kerja kita (Yayasan Biotech) menjadikan solusi alternatif bagi penanggulangan dan penyembuhan Covid-19, karena angka peningkatan yang terpapar virus Covid-19 kurvanya terus naik,” pungkasnya.

2045