Home Info Sawit PSR Muba, Bisa Panen Tanpa Duit Hutang

PSR Muba, Bisa Panen Tanpa Duit Hutang

1271

Sungai Lilin, Gatra.com – Tembok yang berdiri kokoh di jalan lintas Desa Panca Tunggal Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin itu masih kelihatan kokoh dan kinclong. Nama-nama orang yang terpahat di dinding tembok itu juga masih nampak jelas; Presiden Joko Widodo beserta 8 nama lainnya.

Di urutan paling akhir, ada nama H. Bambang Gianto, lelaki yang sedari tadi mematut-matut tugu yang dibangun 13 Oktober 2017 itu. “Tugu ini sebagai pertanda bahwa Presiden Jokowi pernah datang ke sini untuk melakukan penanaman perdana program Peremajaan sawit Rakyat (PSR),” cerita lelaki 46 tahun ini kepada Gatra.com.

Ayah 8 anak ini kemudian mengajak Gatra.com mengitari pohon-pohon kelapa sawit yang tumbuh subur dan berbuah lebat, tak jauh dari tugu itu. “Ini tanaman Pak Jokowi. Buahnya sudah besar dan matang. Kami rindu, beliau lah juga yang memanen perdana tanaman ini,” sekelebat harap terlontar dari mulut Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Mukti Jaya ini.

KUD Mukti Jaya sendiri adalah satu dari 8 koperasi yang ikut PSR di dua kecamatan di Musi Banyuasin; Sungai Lilin dan Keluang. Kalau 7 koperasi lainnya hanya membawahi satu desa, KUD Mukti Jaya justru enam desa; Mulyo Rejo, Cinta Damai, Berlian Makmur, Bukit Jaya, Bumi Kencana dan Panca Tunggal.

Total luas lahan kebun kelapa sawit di 6 desa ini mencapai 3.848 hektar, tapi yang ikut menjalani peremajaan (replanting) hanya 3.226 hektar. Tapi yang dilauncing Jokowi, mencapai 4.446 hektar. Semuanya milik 4 koperasi, di dua kecamatan tadi.

Walau belum genap tiga tahun, semua tanaman hasil PSR sudah berbuah. Berat rata-rata Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit hasil panen, 4,1 kilogram. Meski masih kecil, sudah dibanderol pakai harga penetapan Dinas Perkebunan (Disbun). Soalnya rendemen --- kadar minyak --- TBS ini sudah di angka 18,1 persen.

“Dari hasil panen itu, masing-masing anggota sudah kebagian duit antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta setiap bulan. Itu penghasilan bersih, setelah dipotong biaya panen dan ongkos angkut,” cerita Bambang.

Lebih jauh Bambang merinci, jumlah penghasilan anggota beragam. Itu terjadi lantaran replanting dilakukan tiga tahap. Masing-masing tahapan menghabiskan waktu sekitar 5-6 bulan.

“Sekarang tanaman paling tua sudah berumur 33 bulan, tapi sejak tiga bulan lalu sudah menghasilkan. Perkiraan kami, satu hektar tanaman sudah menghasilkan 6 ton pertahun. Pada Tanaman Menghasilkan (TM) I nanti, produksinya akan di atas 12 ton,” lelaki asal Ngawi Jawa Timur ini optimis.


Abdul Aziz

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS