Home Info Sawit Gubri Jengkel, Banyak Perusahaan Merengkel

Gubri Jengkel, Banyak Perusahaan Merengkel

1775

Pekanbaru, Gatra.com - Lelaki 66 tahun ini tak bisa lagi menyembunyikan rasa jengkelnya saat menerima rombongan Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit (DPW-Apkasindo), di komplek Gubernuran Pemprov Riau di kawasan jalan Diponegoro Pekanbaru, kemarin.

Gubernur Riau (Gubri) ini bukan jengkel kepada perkumpulan petani kelapa sawit itu, tapi justru kepada ratusan perusahaan kelapa sawit yang ada di Riau.

Awal bulan lalu, Syamsuar berkirim surat kepada semua pimpinan perusahaan yang ada di Riau itu supaya ikut kampanye Gerakan Nasional Pakai Masker Cegah Covid-19. Dalam benak lelaki ini, dapat 1 juta lembar saja masker itu, jadilah.

Tapi sayang, hasil yang dia dapat justru mengecewakan, yang mau respon dengan surat itu cuma anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

"Petani saja sanggup menyumbang 100 ribu lembar. Masa satu perusahaan enggak sanggup membantu 10 ribu masker? Kalau dihitung, duit untuk membeli masker sebanyak itu masih sekitar Rp50 juta," Bupati Siak dua periode ini mengomel panjang.

Tak berlebihan sebenarnya omelan ayah tiga anak ini. Sebab sampai sekarang, ada sekitar 273 perusahaan kelapa sawit bercokol di Riau, belum lagi 192 Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Kalau satu perusahaan saja menyumbang 10 ribu masker, sudah 2,6 juta helai yang terkumpul. Berarti urusan masker tuntas.

"Ini bukan buat kepentingan saya, buat masyarakat Riau, lho. Tapi beginilah kenyataan yang ada. Saya minta Kadis Perkebunan, catat mana saja perusahaan yang tidak peduli itu," Syamsuar masih nampak kesal.

Ketua DPD Golkar Riau ini kemudian menengok satu persatu lima karton besar yang diantar rombongan Apkasindo tadi. Wajahnya berangsur sumringah. Sebab di dalam semua karton itu, masker. Totalnya mencapai 50 ribu lembar dari 100 ribu lembar yang bakal diserahkan. 

"Terimakasih banyak Pak Gulat. Saya enggak menyangka petani langsung serespon ini," lelaki ini memandangi Plh Ketua DPW Apkasindo itu. Namanya Gulat Medali Emas Manurung. Ayah dua anak ini juga Ketua Umum DPP Apkasindo.

Sangking senangnya, sampai-sampai Syamsuar memberikan piagam penghargaan kepada Apkasindo atas bantuan masker yang bakal diserahkan dua tahap itu.

"Ini tanda terimakasih saya kepada petani di Riau. Tolong sampaikan salam saya kepada mereka," pinta Syamsuar.

Gulat nampak terharu menengok kepolosan Syamsuar itu. "Beginilah kami petani, Pak. Apa yang bisa kami lakukan, pasti segera kami lakukan. Sebab bagi kami, Bapak adalah marwah Riau. Jadi, apa yang Bapak perintahkan, pasti langsung kami laksanakan," kata kandidat doktor lingkungan Universitas Riau ini.

Kepala Dinas Perkebunan Riau, Zulfadli yang menemani Syamsuar juga tak bisa menyembunyikan rasa harunya. "Terimakasih banyak kepada petani kita, Pak," katanya.

Entah siapa yang kemudian menghembuskan, kekesalahan Syamsuar tadi sudah berpendar kemana-mana, tak terkecuali kepada Presiden Mahasiswa Universitas Lancang Kuning, Amir Aripin.

"Kenyataan ini menjadi bukti kalau di Riau, banyak perusahaan yang arogan. Ini enggak bisa dibiarkan. Gubernur saja yang minta, enggak dianggap, gimana pula kalau masyarakat biasa? Wajarlah di Riau ini masih banyak konflik masyarakat dengan perusahaan perkebunan. Penyebabnya itu tadi, arogansi," katanya.

Ketua Aliansi BEM se-Riau ini kemudian meminta supaya Gubernur Riau mengumumkan perusahaan mana saja yang merengkel --- bandel --- dan mana yang peduli. "Selanjutnya, biar kami BEM se-Riau yang mengejar mereka," tegas Amir.

Yang membikin lelaki ini makin jengkel, di Indragiri Hilir (Inhil), ada perusahaan yang luas kebunnya mencapai 83 ribu hektar. Tapi masker yang disumbang cuma 5 ribu lembar. "Ini benar-benar bikin malu. Perusahaan ini PMA pula," katanya.

Mestinya kata Amir, tak sulit perusahaan menggelontorkan duit untuk beli masker itu. "Kami sudah diskusi dengan pakar-pakar sawit, bahwa ada dana Biaya Operasional Tidak Langsung (BOTL)) yang nilainya mencapai Rp25 miliar sebulan. Duit ini saja dipakai, sudah cukup sebenarnya beli masker, obat-obatan dan PCR. Itu kalau peduli. Ini kan enggak, pelaporan duit BOTL ini saja sudah dua tahun enggak jelas," ujarnya.

Sekjend Forum Mahasiswa Sawit Indonesia (FORMASI), Devi Aditia malah meminta lebih detil lagi; umumkan semua perusahaan di website Posko Penanganan Covid 19 Riau.

"Tak hanya perusahaan perkebunan, tapi juga perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Migas. Biar masyarakat Riau yang menilai," pintanya.

Tokoh Melayu, Bismar Rambah, juga ikut tak habis pikir menengok kelakuan bandel perusahaan di Riau tadi.

"Saat ini harga kelapa sawit lagi bagus-bagusnya. Berapalah duit untuk 1 juta masker itu. Di Riau ada 3,38 juta hektar Kebun sawit, katakanlah 48% nya korporasi, ini berarti ada 1,62 juta hektar kebun korporasi itu. Kalau dikaitkan dengan masker tadi, Rp3000 per hektar. Ini benar-benar sudah keterlaluan dan memalukan," rutuknya.

Oleh kenyataan yang dirasakan Syamsuar tadi, mantan Ketua DPRD Riau, Chaidir, menilainya justru sederhana saja; bahwa inilah gambaran sesungguhnya sebahagian korporasi sawit di Riau.

"Saya melihat ini sudah pembangkangan, patut dipertimbangkan untuk dicabut izinnya. Gubernur Riau tidak perlu menyurati mereka lagi, biar sekalian masyarakat Riau tahu tentang ke-Riau-an korporasi sawit itu, biar jelas jantan betinanya," kata lelaki yang juga seniman ini.

Kalau dipikir-pikir kata Chaidir, seharusnya perusahaan tidak hanya menyumbang masker, tapi juga membikin posko pada radius 10-20 kilometer dari titik usahanya.

"Lantaran posko ini untuk membantu masyarakat, perusahaan wajib menyediakan suplemen, handsanitizer," ujarnya.

Nurani Astra

Sebetulnya sudah ada perusahaan kelapa sawit yang diam-diam memberi andil kepada masyarakat Riau. Namanya Astra Agro Lestari.

Pekan lalu, perusahaan ini sudah membantu dua paket ventilator yang masing-masing senilai Rp400 juta di Pelalawan dan Siak.

Bantuan ini bagian dari program 'Nurani Astra' se- Indonesia. Kalau ditotal semua bantuan itu mencapai Rp151,8 miliar.

"Kami mendistribusikan bantuan itu lima tahap, sejak Maret lalu. Tak hanya bantuan peralatan dan obat terkait covid-19, tapi juga sembako," kata CD Area Manager Riau Astra Agro Lestari, Dede Putra Kurniawan, kepada Gatra.com.

Kalau saja semua perusahaan di Riau mau meniru cara Astra tadi, bisa jadi jengkel Syamsuar enggak muncul kemarin siang itu.


Abdul Aziz

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS