Home Ekonomi Tanam Sayur dan Budidaya Ikan dari Air Olahan Limbah

Tanam Sayur dan Budidaya Ikan dari Air Olahan Limbah

Karanganyar, Gatra.com- Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terpusat di Kampung Manggung Rt 03/Rw IX Kelurahan Cangakan Karanganyar, Jawa Tengah dijadikan percontohan. Dari hasil pengolahannya, memudahkan bercocok tanam hingga beternak ikan.

Di kampung ini, fasilitas itu memproses air limbah dari 53 saluran rumah (SR). Kapasitas maksimal 150 SR. SPALD merupakan proyek instalasi pengolahan air limbah (IPAL) bersumber Dana Alokasi Khusus (DAK) yang menyasar perumahan dan kawasan kumuh.

"Pembuatan instalasi dan sistem yang diterapkan selama tiga bulan. Untuk trialnya selama 1-4 pekan. Istilahnya menguraikan rata-rata sebulan. Semua limbah rumah tangga masuk ke bak. Lalu proses pengendapan menjadi lumpur. Di situ proses anaerob berlangsung. Menjadi aerob sampai aroma tak sedap hilang baru mengalir ke sungai," kata Wakil Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Manggung Jaya, Suranto kepada wartawan usai peresmian SPALD di Cangakan Karanganyar, Jumat sore (6/11).

Air kotor yang diolah menjadi air berkualitas standar dimanfaatkan menjadi sumber pengairan kebun sayur. Adapun biaya operasional pengolahan SPALD dari hasil penjualan sayuran.  "Ada pepaya California, sayuran untuk pok coy, terung dan kangkung. Sedangkan ikannya jenis lele," katanya.

Lanjut Suranto, air limbah yang telah diolah akan diuji di laboratorium. "Pendamping akan mengambil sampel untuk diuji ke laboratorium DLH supaya tahu standar baku mutunya," jelasnya.

Donny Prabawa dari Rumah Revolusi Mental Indonesia ikut membantu melakukan optimalisasi IPAL di Manggung. Sebab sebelumnya masih memunculkan bau kurang sedap. Selanjutnya, Donny melakukan treatment dengan microbakter pengurai  sehingga air limbah terurai sempurna. "Setidaknya IPAL Manggung bisa menjadi percontohan kedepannya dalam membangun IPAL komunal domestik di Kabupaten Karanganyar," tambahnya.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Karanganyar Agus Cipto Waluyo mengatakan DAK tersalurkan Rp490 juta ke proyek tersebut. Ia terus akan mengajukan anggaran ke pusat untuk kegiatan serupa di perkampungan lainnya.

Sedangkan Bupati Karanganyar Juliyatmono mengapresiasi terobosan tersebut. Ia meyakini lingkungan lebih sehat dan bersih apabila masyarakat mulai beralih ke air minum non sumur.  "Kalau sumur tidak benar-benar dalam, dikhawatirkan tercemar septic tank. Sebaiknya limbah rumah tangga memang diproses sampai benar-benar nol limbah baru bisa dialirkan ke sungai," katanya.

553