Home Info Sawit Menabur Benih Hingga ke Asal Usul

Menabur Benih Hingga ke Asal Usul

1857

Pekanbaru, Gatra.com - Bisa jadi hanya segelintir yang tahu kalau sejak 1916 silam, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sudah mendistribusikan lebih dari 1 miliar kecambah dan bibit kelapa sawit ke seantoro Nusantara.

Uniknya, kecambah dan bibit PPKS ini juga sudah sampai ke negeri 'nenek moyang' Kelapa Sawit; Afrika. Ke Sri Langka juga, sampai.

"Tak mudah bagi kami untuk capaian seperti itu. Panjang proses yang sudah kami lalui," cerita Direktur Pusat PPKS, Muhammad Edwin Syaputra Lubis kepada Gatra.com, kemarin.

Soalnya kata doktor ilmu tanah jebolan Universitas Putra Malaysia ini, PPKS tidak sekadar berusaha menghasilkan bibit berkualitas, tapi juga mengulik segala sesuatu yang berkaitan dengan tanaman asal Mauritius, Afrika Timur itu.

Dari 1965 sampai sekarang kata lelaki 50 tahun ini, PPKS sudah melakukan riset tanah dan survei lahan, termasuk juga kultur teknis, proteksi, dan produksi.

Lantas pada rentang waktu 1973-1985, riset pemuliaan untuk produktivitas tinggi dengan skema seleksi berulang timbal balik atau Reciprocal Recurrent Selection (RRS) dilakukan.

Periode ini menjadi siklus pertama RSS yang kemudian menghasilkan 6 varietas DxP unggul.DxP ini adalah persilangan antara Dura x Psipera. Orang-orang jamak menyebut hasil persilangan ini; Tenera.

Baca juga: Tak Sekadar Cerita Dari Katamso 51

Terus, di periode 1983-1986, introduksi dan riset serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus) untuk peningkatan produksi, dilakukan.

"Pada periode 1986-2010, kami melakukan RRS siklus II dan menghasilkan 5 varietas DxP unggul. Nah, dari 2011 sampai sekarang, kami sedang melakukan RSS siklus III untuk produktivitas dan adaptif lingkungan. Termasuklah gimana menghasilkan bibit tahan pada kekeringan dan minim hara seperti yang saya ceritakan sebelumnya," kata Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ini.

Lelaki kelahiran Siantar ini kemudian merinci kalau kecambah yang diproduksi PPKS saat ini adalah DxP dengan varietas; DxP PPKS 718, DxP PPKS 239, DxP Yangambi, DxP Avros, DyxP Sungai Pancur 1 (Dumpy), DxP Langkat, DxP Simalungun, DxP PPKS 540 dan DxP 540 NG.

"Semua kecambah ini memenuhi ketentuan SNI benih kelapa sawit. Sertifikasi TUV Rheinland juga dilakukan untuk jaminan sistem manajemen mutu," katanya.

Varietas tadi kata Edwin, punya karakter khusus yang kemudian membuat benih itu cocok untuk kondisi tertentu.

DxP 540 NG misalnya, dia tahan terhadap Ganoderma boninense. Artinya benih ini cocok untuk daerah yang endemik Ganoderma.

DxP PPKS 239, punya rendemen CPO dan PKO tinggi. Ada juga varietas yang memiliki tandan besar atau pertumbuhan meninggi yang lambat.

"Walau tiap varietas tadi punya karakter spesifik, tapi semuanya memiliki produksi tinggi dan daya adaptasi yang relatif baik pada berbagai kondisi lahan," Edwin merinci.

Seiring waktu, kelapa sawit menjadi primadona di Indonesia, 22 dari 34 provinsi yang ada di Nusantara, sudah dijejali pohon kelapa sawit.

Hitungan terbaru dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, luas kebun kelapa sawit di Indonesia sudah menembus angka 16,3 juta hektar. Luasan ini kemudian membikin kelapa sawit menjadi penyumbang devisa terbesar.

Kelapa sawit bakal benar-benar booming ternyata sudah diperkirakan oleh PPKS. Itulah makanya, sederet program dibikin.

Program ini tidak hanya mendukung pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat, memberikan kesempatan bagi kelompok tani bahkan petani untuk menjadi penangkar benih biar ketersediaan bibit unggul benar-benar terjamin, tapi juga pendampingan budidaya dan pengolahan mitra PPKS dalam penyediaan bahan tanaman unggul.

"Semua itu terdapat pada tiga program unggulan kami; Program Sawit untuk Rakyat (PROWITRA), Program Penyaluran Benih Sawit untuk Penangkar (ProPAKAR) dan Program Intensifikasi Sawit Bersama Mitra (ProMITRA). Nah, hal paling penting juga kenapa tiga program ini kami optimalkan adalah untuk meminimalisir peredaran bibit palsu" ujar Edwin.

Saat ini kata anggota Dewan Pakar DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) ini, untuk mendukung kelancaran program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang digagas langsung oleh Presiden Jokowi, PPKS punya 20 lokasi pembibitan.

Di Sumatera Utara (Sumut) ada 8, 5 di Riau, 2 di Jambi, 2 di Sumatera Selatan, 1 di Kalimantan Barat, dan 1 di Kalimantan Selatan.

Adapun total mitra/penangkar PPKS dari tahun 2019-2020 mencapai 65 penangkar. Mereka tersebar di 14 provinsi.

"Di Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara dan Lampung masing-masing 1, Kalimantan Timur, Bengkulu dan Bangka Belitung masing-masing 2, 3 di Sumatera Selatan, Sulawesi Barat, Riau dan Aceh masing-masing 4, Sumatera Utara 6, Jambi 9, Kalimantan Barat 10 dan di Sumatera Barat ada 16," Edwin merinci.


Abdul Aziz

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS