Home Info Sawit Mengulik Dampak Tanaman Sela di Peremajaan Sawit

Mengulik Dampak Tanaman Sela di Peremajaan Sawit

812

Medan, Gatra.com - Kalau menengok hamparan angka-angka yang disodorkan lelaki 62 tahun ini, ada baiknya pemerintah berpikir ulang menjalankan program Food Estate --- program memanfaatkan hutan sebagai lahan lumbung pangan.

Sebab lahan alternatif untuk itu masih ada. Misalnya lahan kebun kelapa sawit yang sedang menjalani program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Luasannya sangat mumpuni untuk program Food Estate tadi, bisa mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Saban tahun, ada sekitar 625 ribu hektar kebun kelapa sawit rakyat maupun perusahaan yang menjalani PSR.

Ini berarti, ada sekitar 80 persen atau setara dengan 500 ribu hektar potensi lahan kosong yang bisa dipakai petani untuk tanaman sela, baik itu jagung, kedelai, singkong, sorgum atau tanaman lain yang bernilai ekonomi.

Memang di tahun kedua, potensi lahan kosong kebun PSR itu akan berkurang menjadi 50 persen dan di tahun ketiga malah hanya tersisa sekitar 20-30 persen.

"Itu terjadi lantaran semakin hari tajuk (pelepah) kelapa sawit semakin panjang," cerita Kacuk Sumarto, kepada Gatra.com, Selasa (24/11).

Dua hari lalu, penanaman perdana lahan PSR digelar di Desa Cinta Baik, Kecamatan Laut Tador, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara (Sumut). Helat ini simbolis untuk dua kelompok tani (poktan); Mandiri dan Kandangan.

Lalu di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), dimulai pula proses PSR untuk 6 poktan. Poktan ini maupun yang di kabupaten tetangga, Batubara tadi adalah mitra PSR PT. Paya Pinang Group.

Total luas semua lahan itu hampir 700 Hektar. Dari luasan ini, ada potensi lahan kosong yang bisa ditanami tanaman sela sekitar 550 hektar.

Di penanaman perdana tadi, sederet pembesar hadir dalam acara penanaman perdana tadi. Mulai dari Deputi II Kemenko Perekonomian, Musdalifah Mahmud, Bupati Batubara, Zahir, Sekdaprov Sumut, R. Sabrina, pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Timbas Prasad Ginting, perwakilan Pusat penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Agus Susanto hingga Dirut Paya Pinang Group, Kacuk Sumarto, hadir di sana.

Sebenarnya, acara itu tak hanya penanaman perdana, tapi juga panen sorgum di lahan seluas 4 hektar di Perkebunan Mendaris milik Paya Pinang Group di Kecamatan Tebing Syahbandar Kabupaten Sergai. Sorgum itu ditanam akhir Juli lalu.

Penyerahan benih sorgum dan benih jagung untuk tanaman sela di lahan PSR poktan, juga dilakukan termasuk penyerahan pakan ternak berbahan batang sorgum sebagai simbol dicanangkannya integrasi Sawit-Sorgum-Sapi (3S).

“Paya Pinang Group sudah punya pengalaman mengintegrasikan 3S itu, termasuk membikin perkebunan sorgum. Soalnya pertengahan Desember tahun lalu perusahaan sudah panen sorgum pada lahan peremajaan kelapa sawit seluas 15 hektar. Ini hasil riset perusahaan bersama GAPKI Sumut dan PPKS,” cerita Kacuk.

Kalau dihitung-hitung kata Kacuk, kebun sorgum tadi bisa menghasilkan 8-9 ton per hektar per tahun.

“Periode tanam sorgum ini kan tiap 4 bulan. Berarti dalam setahun bisa ditanam tiga kali. Lalu dalam satu periode tanam, hasilnya bisa dipanen 3 kali. Lantaran tanaman sela tahun pertama PSR, lahan kosong yang bisa ditanami 8000 meter persegi,” rinci Wakil Ketua Umum I GAPKI ini.

Sebetulnya kata ayah dua anak ini, kalau sorgum ditanam di lahan full 1 hektar, lahan itu bisa dijejali 52 ribu batang sorgum. Biji kering siap makan yang dihasilkan saat panen mencapai 12 ton per hektar per tahun.

Lalu nira yang bisa untuk bahan alkohol, kecap dan gula merah, bisa mencapai 12 ton per hektar per tahun. Silasis atau batang sorgum untuk pakan sapi mencapai 136 ton per hektar pertahun.

"Biji sorgum kering itu diperkirakan bisa dijual Rp6.000 perkilogram. Lalu nira Rp1.200 perkilogram serta silasis (pakan ternak) Rp200 perkilogram.

Jadi kalau dihitung-hitung, rata-rata pendapatan pertahun dari tanaman sela itu Rp106,5 juta. Kalau dipotong dengan biaya pertahun Rp55 juta, masih ada duit bersih Rp51,5 juta. "Jika duit sebanyak itu dibagi 12 bulan, maka pendapatan petani dari sorgum per bulannya Rp4,2 juta," Kacuk merinci.

Hitungan tadi baru dari satu hektar sorgum. Kalau dalam setahun ada 200 ribu hektar lahan yang masuk dalam program PSR dan bisa dijejali tanaman sela, sudah berapa duit yang bisa dihasilkan petani?

Kacuk tertawa mendengar hitungan itu. "Tinggal lagi gimana caranya pemerintah mempromosikan sorgum sebagai alternatif bahan pangan yang lebih sehat dari pada beras. Terus menggalakkan penanaman sorgum, jagung atau tanaman bernilai ekonomi lainnya sebagai tanaman sela dan menyiapkan pasarnya. Sebab petani pasti akan mau menanam komoditi apapun asal pasar jelas," katanya.

Selain berdampak pada ketahanan dan kemandirian pangan secara nasional, sorgum maupun jagung kata Kacuk sangat bagus untuk diaplikasikan di peremajaan sawit.

Sebab dalam tanaman sorgum atau jagung banyak terdapat fungi mikoriza yang menjadi makanan tricoderma. Sementara tricoderma sendiri adalah musuh alami ganoderma si perusak tanaman sawit itu.

Baik Musdalifah maupun Sabrina, sangat mendukung upaya penanaman tanaman sela itu. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi petani pada saat replanting tanpa mengganggu tanaman induk, dalam skala besar tanaman sela ini dipastikan akan sangat mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional.

Hari ini, Wayan Supadno mengurai integrasi sawit sapi pula dalam webinar bertajuk akselerasi pengembangan kawasan terintegrasi yang ditaja Universitas Jambi.

Dalam paparannya, lelaki 53 tahun ini mengurai gimana untungnya integrasi sapi itu di lahan kelapa sawit.

Satu ekor sapi kata pensiunan tentara ini, menghasilkan 3-4 ton feses kering angin pertahun. Sementara urine bisa mencapai 2000 sampai 2800 liter per tahun.

"Kotoran sapi ini menghasilkan C organik, ini adalah nyawanya tanah. Lalu juga sebagai media biak mikroba pengurai bahan organik, penambat N, pelarut P dan K, biopestisida, reduktor logam berat dan lain-lain. Ada kandungan unsur hara lengkap makro mikro bahkan termasuk hormonal pada urinenya," urai lelaki yang sering dipanggil Pak Tani ini.

Kalau apa yang dibilang Kacuk dan Wayan tadi benar-benar diterapkan pada peremajaan kelapa sawit milik petani maupun perusahaan, bukan cuma ketahanan dan kemandirian pangan yang akan didapat, tapi petani pun akan cepat sejahtera.

Dan sekali lagi, peremajaan sawit tak hanya meningkatkan nilai ekonomis kebun, tapi peremajaan sawit telah juga berkontribusi mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan nasional tanpa harus membuka lahan baru.


Abdul Aziz

 

Abdul Aziz

 

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS