Home Info Sawit Genjot PSR, AKPY Lakukan Ini di Jambi

Genjot PSR, AKPY Lakukan Ini di Jambi

312

Jambi, Gatra.com - Tiga bulan belakangan Jajuri dan kawan-kawan Desa Tanjung Benanah Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabar) punya kesibukan baru.

Selain mencari tahu di sudut mana saja kelak lahan kebun kelapa sawit mereka bisa dijejali tanaman sela, bersama para pengurus, Ketua Koperasi Karya Mandiri ini juga sedang membikin konsep pemanfaatan lahan pekarangan rumah anggotanya yang masing-masing seluas setengah hektar itu.

Kebetulan, Jajuri dan sekitar 531 kepala keluarga lainnya adalah eks transmigrasi yang menjadi petani plasma perkebunan kelapa sawit.

Masing-masing kepala keluarga punya dua hektar kebun dan setengah hektar lahan tanaman pangan sekaligus lokasi tempat tinggal. Begitulah dulu pemerintah membaginya.

"Lantaran kondisi yang masih tidak stabil dan akses yang masih sulit, dulu lahan tanaman pangan itu kami tanami kelapa sawit. Nah ke depan kami akan manfaatkan itu benar-benar sesuai peruntukannya: areal tanaman pangan," kata lelaki 65 tahun ini kepada Gatra.com, Sabtu (12/12).

Ayah lima anak ini mengaku semakin semangat untuk melakukan penataan itu lantaran sejak Agustus lalu, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), datang mendampingi mereka.

Tak hanya untuk memberikan pemahaman soal program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang mendapat duit hibah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) itu, tapi juga mencekoki mereka soal ilmu dan cara supaya tetap punya penghasilan walau kebun sedang diremajakan.

"Kebun kami memang sudah masuk peremajaan. Luasannya sekitar 1.158 hektar. Mudah-mudahan pertengahan tahun depan kami sudah mulai menanam, sekarang lagi pembibitan. Kalau di Tanjabar, potensi kebun yang musti di PSR malah mencapai 5000 hektar," katanya.

Nah, soal ilmu tadi, awal-awal pendampingan, AKPY sudah menulari mereka ilmu membikin sabun dan hand sanitizer.

Lalu industri rumah tanggal koperasi yang sudah ada seperti keripik jamur sawit, dodol umbut sawit dan ragam olahan jahe merah, sudah dibantu pula pemasarannya, termasuk pemasaran online.

Sebetulnya, di Jambi sendiri bukan Tanjabar saja yang jadi sasaran AKPY, tapi juga Muara Bungo.

Petani kelapa sawit di Desa Kuamang Kuning Kecamatan Pelepat Ilir mendapat perlakuan sama seperti petani di Tanjung Benanah tadi.

Puncaknya, dari tiga hari lalu hingga hari ini, 50 orang petani dari dua desa itu dikumpulkan di Kota Jambi ibukota Provinsi Jambi. Mereka dicekoki ilmu tentang bercocok tanam tadi.

Dinas Perkebunan dan Dinas Pertanian UMKM Jambi juga diajak. Sebab kata Direktur AKPY, Sri Gunawan, peran dua lembaga pemerintah ini teramat penting bagi para petani tadi.

Biar sejalan dengan misi workshop itu; pendampingan penguatan kelembagaan desa sawit mandiri pangan dan energi berbasis UMKM.

"Peran dinas untuk kesinambungan usaha-usaha yang dilakukan petani ini sangat penting dan strategis," katanya.

Kepada Gatra.com, penanggung jawab workshop, Hartono, cerita bahwa misi utama mereka melakukan pendampingan kepada petani adalah untuk percepatan PSR.

"Banyak petani yang takut tak dapat duit lagi kalau pohon sawitnya yang sudah tua, ditebang dan diganti baru. Gara-gara Ketakutan tadi, mereka mengulur-ulur PSR. Ketakutan inilah yang ingin kita hilangkan lewat solusi pendapatan baru bagi mereka," kata lelaki 50 tahun ini.

Hari ini kata ayah dua anak ini, peserta workshop tadi diajak ke lapangan untuk praktek sekaligus membikin demplot.

Ragam tanaman yang bakal ditanam. Mulai dari jahe merah, lemon California, hingga jambu kristal. "Kami akan dampingi mereka sampai semua berjalan semestinya," ujar Hartono.

Kalau situasi dan kondisi memungkinkan kata Hartono, AKPY tidak hanya selesai di Jambi, tapi juga akan ke provinsi lain penghasil kelapa sawit khususnya kawasan yang sawitnya akan diremajakan. 

"Beginilah cara kami untuk ikut menyukseskan program PSR nasional yang digagas oleh Presiden Jokowi," katanya.


Abdul Aziz

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS