Home Info Sawit Petani di Riau: Rp25 Juta Cuma-Cuma, Duit Dari Mana?

Petani di Riau: Rp25 Juta Cuma-Cuma, Duit Dari Mana?

2392

Pekanbaru, Gatra.com – Lelaki 53 tahun ini tak pernah menyangka bakal bisa meremajakan kebun kelapa sawitnya tanpa merogoh kocek pribadi. “Sama sekali enggak nyangka,” kata Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Makmur ini kepada Gatra.com di Desa Kebun Lado Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Senin pekan lalu.

Sarimin kemudian cerita kalau tiga tahun lalu, para petani kelapa sawit eks plasma PT. Wana Sari Nusantara sudah mendengar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bakal menggelontorkan duit bantuan peremajaan kelapa sawit.

Hanya saja, dia dan semua petani plasma di kampungnya di Desa Sungai Sirih Kecamatan Singingi itu, sama sekali tak percaya. “Semua petani enggak percaya, termasuk petani di Sembilan desa lainnya. Soalnya nilai bantuan itu besar, Rp25 juta perhektar,” katanya tertawa.

Jangankan petani kata ayah tiga anak ini, bank mitra juga begitu. “Masa ada bantuan cuma-cuma sebanyak itu, uang dari mana?” begitulah komentar yang dia dengar.

Tapi setelah dinas perkebunan setempat mulai menggelar sosialisasi dan pelatihan, petani berangsur percaya, meski rasa ragunya masih lebih besar. “Waktu mengumpulkan berkas, kami masih belum percaya,” wajah lelaki ini kelihatan polos.

Singkat cerita, bulan Juni lalu kata Sarimin, duit PSR bantuan BPDPKS pun cair untuk lahan seluas 654 hektar. “Petani sangat senang. Benar-benar enggak menyangka. Insya Allah KUD kami akan menerima pencairan tahap kedua April tahun depan,” Sarimin semangat.

Ada 10 KUD kata Sarimin yang bakal menjalani Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Total lahan sekitar 8.800 hektar. Tapi dari total luasan itu, baru 6.600 hektar yang mengajukan PSR. Ada yang sudah pencairan, ada pula yang masih tahap rekomendasi teknis (rekomtek).

Kalau dihitung-hitung kata Sarimin, total duit yang dibutuhkan oleh tiap petani untuk meremajakan kebunnya hingga sampai pada tahap P3 --- tanaman belum menghasilkan ---sekitar Rp75,7 juta.

“Nah, lahan tiap petani kan dua hektar. Ini berarti kebagian bantuan Rp50 juta. Kekurangan yang Rp25,7 juta alhamdulillah sudah kami dapat dari Bank Riau-Kepri yang menyediakan kredit khusus replanting,” katanya.

Bunganya yang hanya sekitar 9,8 persen kata Sarimin sangat menolong petani. “Kami dikasi tenggat waktu pembayaran selama 6 tahun. Sistim pembayarannya dari awal kecil dulu, sampai tanaman menghasilkan,” terangnya.


Abdul Aziz

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS