Home Info Satgas Covid-19 Pemkot Surabaya Vaksinasi 33 Ribu Nakes

Pemkot Surabaya Vaksinasi 33 Ribu Nakes

Surabaya, Gatra.com - Pemerintah provinsi Jawa Timur akan memulai pemberian vaksin Covid-19 pada 14 Januari mendatang. Pemberian vaksin tersebut ditujukan kepada semua tenaga kerja di bidang kesehatan di Jawa Timur.

Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo menjadi tiga kota pertama yang akan melakukan vaksinasi kepada tenaga kesehatan. Pemerintah Kota Surabaya sendiri, baru akan memvaksin semua tenaga kerja bidang kesehatan pada tanggal 15 Januari mendatang.

Plt Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana mengatakan, sudah ada sebanyak 33,420 dosis vaksin yang disiapkan untuk memvaksinasi tenaga kesehatan dengan jumlah yang hampir sama. Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan beberapa tempat khusus berkapasitas total 60 ribuan untuk menyimpan vaksinnya.

"Nanti kami minta tambahan delapan ribu (dosis vaksin) untuk tenaga layanan publik lainnya. Misalnya, polisi, Satpol PP, BPD Linmas, dan lainnya. Tahapannya sudah diatur. Data sudah kami terkirim dan tenaga screening sudah kami siapkan," kata Wisnu kepada wartawan, Selasa (12/1).

Wisnu menjelaskan, tenaga screening itu nantinya akan memeriksa kondisi kesehatan para penerima vaksin. Apabila ada penerima vaksin yang memiliki komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes, atau lainnya, tidak akan mendapat jatah vaksin.

Untuk itu, lanjutnya, proses screening akan dilakukan sehari sebelum pemberian vaksin, untuk menghindari antrian vaksinasi. Selain itu, vaksinasinya nanti akan dilakukan satu kali karena jatah vaksin yang didapat merupakan single dosis.

"Sinovac itu single dosis. Sudah 12 (tenaga kesehatan) lolos screening. Nanti, menjelang divaksin itu di screening. (diperiksa) tensi darahnya dan diperiksa suhu badan," jelas Wisnu.

Soal lokasi vaksinasi, Wisnu mengatakan bahwa ada 46 rumah sakit dan 63 puskesmas yang telah disiapkan. Semua puskesmas dan tujuh rumah sakit diantaranya telah melakukan simulasi vaksinasi.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita menjelaskan, apabila ada tenaga kesehatan yang ternyata memiliki komorbid, maka tetap akan divaksin. Hanya, vaksinasinya tidak dilakukan pada tahap pertama.

"Nanti dari para ahli yang menyatakan bahwa komorbid. Kalau misalnya mereka punya komorbid tapi terkendali, dia bisa diberikan (vaksin). Tapi tidak dalam tahap pertama ini," kata Febria.

Ia menjelaskan, akan ada proses pemantauan pasca vaksinasi. Febria tidak menjelaskan rinci apa saja yang dipantau setelah seseorang divaksinasi. Yang jelas, ada aplikasi tersendiri yang sudah disiapkan untuk memantau kondisi fisik penerima vaksin.

356

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR