Home Internasional Protes COVID-19 di Paraguay: Minta Pemakzulan Presiden

Protes COVID-19 di Paraguay: Minta Pemakzulan Presiden

Asuncion, Gatra.com - Ribuan warga Paraguay berkumpul di sekitar Kongres di pusat kota Asunción pada hari Senin, menandai hari keempat aksi protes di tengah seruan pamakzulan Presiden Mario Abdo atas tidak seriusnya pemerintah dalam menangani krisis kesehatan COVID-19.

Para pengunjuk rasa, --banyak yang mengenakan kaus sepak bola dan membawa bendera nasional, meneriakkan "Keluar Mario" dan "Semua keluar", sambil mengkritik pihak berwenang atas kurangnya obat-obatan dan tempat tidur perawatan intensif di tengah lonjakan kasus virus corona.

"Di rumah sakit tidak ada jarum suntik, tidak ada tempat tidur," kata seorang pemuda yang mengidentifikasi dirinya sebagai Dudu Dávalos kepada televisi lokal setelah melakukan perjalanan dari kota Hernandarias, 340 kilometer (210 mil) timur Asunción, dikutip Reuters, Selasa (9/3).

“Mereka punya waktu satu tahun untuk bersiap dan tidak melakukan apa-apa,” tambahnya.

Protes meledak hari Jumat saat terjadi gesekan antara polisi yang menggunakan gas dan peluru karet dengan para pengunjuk rasa. Pada hari Sabtu dan Minggu, demonstrasi yang tidak terlalu intens bergeser ke daerah dekat kediaman presiden, di lingkungan Asunción.

Para pengunjuk rasa dan beberapa anggota parlemen telah menyerukan agar Abdo dimakzulkan, meskip dia tampaknya masih memiliki cukup dukungan untuk mengatasi tantangan tersebut. Presiden terpaksa meminta kabinetnya untuk mengundurkan diri demi kepentingan pengamanan.

Pada hari Senin ia menunjuk Kepala Staf baru dan mengukuhkan dokter Julio Borba sebagai menteri kesehatan yang baru.

Sidang pemakzulan hanya dapat dilanjutkan melalui dukungan kelompok yang dipimpin oleh mantan Presiden Horacio Cartes dalam Partai Colorado yang berkuasa. Anggota parlemennya mengatakan mereka akan menganalisis perubahan yang dijanjikan Abdo sebelum membuat keputusan.

Di Paraguay, kasus COVID-19 melonjak sejak September ketika aktivitas dilanjutkan dan telah mencapai angka rekor bulan ini.

Kementerian Kesehatan melaporkan pada Senin terjadinya rekor harian baru sebanyak 1.817 kasus dan 25 kematian, yang meningkatkan jumlah infeksi menjadi 169.870 dan kematian menjadi 3.343.

Sejumlah negara di Amerika Latin memaksa menteri kesehatan mereka untuk mundur karena dinilai gagal menangani pandemi, termasuk di Peru, Argentina, dan Ekuador.

142

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR