Home Milenial SPS Inisiasi Sekolah di Tengah Pandemi

SPS Inisiasi Sekolah di Tengah Pandemi

Palembang, Gatra.com – Pandemi Covid-19 masih dirasa memberi efek sulit diberbagai sektor, terutama di bidang pendidikan. Belajar di rumah, tidak ada stimulus terutama bagi masyarakat marjinal.

“Buktinya masyarakat yang berada di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Karya Jaya Gandus Palembang, karena faktor ekonomi, faktor lingkungan dan dengan kondisi masyarakat sekarang, mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran dari rumah secara maksimal,” kata Arjuna Kepala Sekolah Pinggiran Sriwijaya (SPS), Rabu (17/3).

Dengan kondisi ini menurutnya, SPS hadir untuk memberikan pendampingan bagi generasi penerus tetap mengecap pendidikan yang layak. SPS sendiri merupakan program Satu Amal Indonesia bernaung di bawah gerakan Sinergi Sriwijaya Peduli yang digagas pada 23 Juni 2020 di TPA Sukawinatan.

“Ternyata di TPA Sukawinatan, sudah banyak interaksi dari komunitas untuk memberikan stimulus pendidikan kepada anak-anak di yang berada di tumpukan sampah. Maka kami mengoptimalkan di TPA Karya Jaya, yang juga sangat membutuhkan,” kata Arjuna.

Latar belakang masyarakat di TPA Karya Jaya, bekerja sebagai petani, pemulung, dan pekerja serabutan, sehingga tingkat kesejahteraan perekonomian masyarakat masih rendah, belum lagi masalah sosial, dan pendidikan di TPA Karya Jaya yang sangat kompleks.

“Hadirnya kami di sana, para orang tua sangat exaited dan Alhamdulillah jika kami bisa meluangkan waktu untuk mengajar di sini,” sambungnya.

Kemudian, Arjuna menjelaskan, untuk kelompok belajar sendiri ada lima kelompok, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga sekolah menegah pertama (SMP).

“Kalau untuk proses pembelajaran ada dua hal yang kita tekankan, pertama pendidikan karakter, dari loyalitas mereka, dari cinta tanah air mereka dan rasa tanggung jawab mereka dan yang kedua itu soft skill mereka, kami kerucutkan dalam satu jangka ke depan berfokus ke bahasa inggris. Hari Rabu belajar Bahasa Inggris dan di hari sabtu pendidikan karakter,” paparnya.

Salah seorang pengajar SPS, Siti Sri Rahayu SPd mengaku, sangat senang bisa bergabung dan mengajar bersama anak-anak di pinggiran kota. Terlebih ia melihat antusias dari anak – anak yang membuat semangat mengajar.

“Di SPS ada 28 orang relawan pengajar dari berbagai kampus di Palembang. Kalau di antara kami tidak dateng pasti ditanyain. Kami membayangkan salah satu anak di sini sukses, menjadi orang berada, dan dia yang nantinya akan membangun tempat ini,” kata Ayu (begitu ia disapa).

Lanjutnya, belajar dengan fasilitas seadanya menjadi satu tantangan tersendiri. Karena tidak ada ruangan untuk mengisi kegiatan belajar mengajar, maka tikar menjadi sarana yang dibentang di pelataran sekitar tumpykan sampah.

“Belajar di tempat terbuka, ya repotnya kalau hujan. Harus buru-buru berteduh di di mushala,” ujarnya.

Ayu berharap, agar ke depannya ada tempat yang memadai untuk berlindung dari hujan, serta setiap anak – anak SPS bisa terpenuhi sarana dan prasarana untuk mengembangkan potensi dan bakat masing – masing.

“Yang suka lukis ada alatnya, yang suka menyanyi ada alat musiknya, yang suka eksperimen sederhana ada alat dan bahannya, dan yang suka nulis puisi, cerpen, dll, ada buku yang bisa dibaca biar wawasannya semakin luas,” tutupnya.

475