Home Info Sawit Sentuhan Baru 'Penulis Malam'

Sentuhan Baru 'Penulis Malam'

Jakarta, Gatra.com - Sedari tadi Canting yang dijepit jemari perempuan itu meliuk di atas bentangan kain sutra di depannya.

Dan selama itu pula malam yang ada di dalam Canting tadi meluncur dan menempel di setiap lekuk lukisan motif tumbuhan di kain sutra itu.

Setelah beres, perempuan ini mengintip belakang lukisan tadi, tak ada malam yang merembes, apalagi tembus.

Dia kemudian menaruh Canting, lalu mengacak-acak kain sutra itu. Setelah kusut masai, kain itu dibentangkan lagi.

Perempuan paruh baya ini sumringah, "Malam yang menempel enggak tembus ke sebelah, enggak rusak," katanya sambil mengambil kain itu dan dimasukkan ke rebusan air, diaduk-aduk lalu diangkat.

Senyumnya kian mengembang setelah menengok malam yang menempel tadi begitu gampang hilang tapi warna yang ditinggalkan malam justru menyatu kinclong pada motif lukisan tadi.

Perempuan itu adalah satu dari lebih dari 200 orang perwakilan kelompok pebatik yang mencoba malam bikinan Indra Budi Susetyo, salah seorang Perekayasa di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Malam itu bukan malam berbahan Parafin (benda padat bertekstur lunak dari minyak bumi atau batu bara minyak serpih) yang sudah biasa dipakai pebatik.

Tapi justru malam berbahan terbarukan yang bersumber dari Palm Stearin (fraksi lebih solid dari fraksinasi minyak sawit setelah kristalisasi pada suhu terkontrol).

Palm Stearin ini saban hari dihasilkan oleh sekitar 90 Pabrik Refinery berkapasitas total 56 juta ton yang tersebar di sembilan zona di Indonesia.

"Kalau misalnya CPO yang diolah 30 juta ton per tahun, berarti ada sekitar 6 juta ton Palm Stearin yang dihasilkan. Sebab dari 100% Crude Palm Oil (CPO) yang diolah, 80% jadi minyak goreng, sisanya Palm Stearin," cerita Indra saat berbincang dengan Gatra.com, kemarin.

Lantaran wujudnya lemak padat alami, Palm Stearin ini sangat baik sudah jamak dipakai untuk produk-produk shortening, kue, roti dan margarin.

"Ternyata Palm Stearin ini juga sangat bisa dijadikan bahan baku malam. Ini berarti bahan baku kita melimpah dan terbarukan," ujar ayah 4 anak ini.

Dibilang melimpah lantaran kebutuhan bahan baku malam untuk sekitar 55 ribu Industri Kecil Menengah (IKM) batik, masih sekitar 39 ribu ton setahun.

Soalnya dalam satu ton malam, Palm Stearin yang dibutuhkan sekitar 25%-30%.

Selama ini kata Indra, Parafin yang biasa dipakai pebatik rata-rata barang impor. Seperti yang sudah dibilang tadi, Parafin ini terbuat dari minyak fosil yang tidak terbarukan.

"Kalau Palm Stearin ini kita pakai, berarti kita bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan ketergantungan pada minyak fosil," ujar lelaki 65 tahun ini.

Apakah kelak Palm Stearin bisa 100% menganti Parafin kata Indra, itu tergantung formulator malam nya. Soalnya jenis malam itu banyak, sama kayak masakan. "Yang pasti Palm Stearin sudah bisa mengurangi pemakaian Parafin dan halal," katanya.

Apa yang digagas oleh Indra dan kawan-kawannya ini langsung disambut oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dua hari lalu, sosialisasi dan workshop malam jenis baru ini pun digelar BPDPKS bersama BPPT di Semarang. Puluhan pebatik diajak praktek.

"Ini adalah pasar baru bagi industri kelapa sawit dan pasar ini besar. Sebab saat ini pebatik tidak lagi hanya di Jawa, tapi sudah di hampir semua provinsi yang ada di Indonesia dengan motif lokalnya," kata Kepala Divisi UMKM BPDPKS, Helmi Muhansyah kepada Gatra.com.

Hanya saja kata Helmi, potensi pasar ini dimulai dari Jawa dulu. "Kalau di Jawa malam jenis baru ini sudah berterima, di luar Jawa kemungkinan besar juga akan berterima," ujarnya.

Dan jika semua itu terjadi, maka impor Parafin akan berkurang dan bisa jadi berhenti, tapi geliat ekonomi baru berbahan lokal dan berkelanjutan justru akan berjalan kencang. "Inilah yang disasar BPDPKS," kata Helmi.

Indra sepaham dengan Helmi. Sebab bagi lelaki ini, wilayah kuno penghasil batik di Jawa, sangat matang menggunakan malam.

Oleh kematangan itu, para pebatik ini akan kritis tentang bahan baku malam. "Kalau mereka sudah berterima, luar Jawa juga akan menerima. Alhamdulillah yang di Jawa mulai berterima," katanya.


Abdul Aziz

 

 

343