Home Gaya Hidup Memulihkan Alam Untuk Kesejahteraan Warga

Memulihkan Alam Untuk Kesejahteraan Warga

Sergai, Gatra.com - Di era tahun 90 an, wilayah Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) merupakan kawasan miskin. Kawasan tepi laut yang dihuni nelayan tradisional itu mengalami kerusakan alam.
 
Kerusakan diakibatkan adanya operasional salah satu perusahaan tambak. Operasional yang menjadi alasan untuk menghabisi seluruh bakau di daerah itu. Akibatnya nelayan tradisionl jadi korban. Hasil tangkapan ikan berkurang dan sejumlah biota mengalami gangguan pertumbuhan yang sangat buruk.
 
Dampak kerusakan itu terjadi hingga tahun 2009. Masyarakat mengalami gangguan perekonomian yang cukup besar. Pasang air laut pun menjadi ancaman baru untuk warga. Terutama abrasi pantai, akibat tidak adanya penahan air di sekitar pantai. Lahan-lahan pertanian warga di sekitar pantaipun mulai mengalami genangan. Garis pantai bergeser dan mengakibatkan banjir pasang yang menambah penderitaan warga. 
 
Abrasi air laut hingga ratusan meter tepi pantai Desa Sei Nagalawan juga menimbulkan ketakutan masyarakat. Kondisi perekonomian warga semakin tidak menentu. Terlebih ketika para nelayan tradisional juga dihadapkan pada perilaku buruk orang-orang yang mengambil hasil laut dengan serakah. 
 
Namun saat ini, hal buruk itu mulai dapat diatasi. Sejak tahun 2009, warga berkelompok dan mulai melakukan penghijauan kembali. Warga menanami mangrove dan merawatnya sebagai pelindung bibir laut. Warga memilih menanam mangrove karena perakaran mampu sebagai bentuk adaptasi dari habitat yang mengalami fluktuasi perendaman air karena adanya pasang surut.
 
Dengan harapan perkampungan mereka terjaga dari ancaman gelombang laut dan biota juga dapat tumbuh dengan baik. Kelompok masyarakat yang menanam mangrove itupun terus melakukan pengembangan komunitas. Mereka membenahi sumber daya manusia agar mampu mengelola alam dengan baik dan berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat. 
 
Dibawah kepemimpinan Sutrisno, warga yang bermukim di Dusun III itu mengembangkan komunitasnya menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU). Dengan berbadan hukum KSU, warga mengelola kawasan mangrove secara mandiri. Aktifitas penghijauan terus dilakukan serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV. 
 
Sutrisno mengatakan bahwa proses pembangunan kembali hutan mangrove bukan hal yang mudah. Pasalnya mereka harus terlebih dahulu mengubah paradigma warga terkait dengan pengembangan diri dan penjagaan alam. Karena proses pemulihan alam yang sudah rusak membutuhkan waktu yang panjang, bahkan bertahun-tahun. Sementara warga membutuhkan hasil yang instan akibat tuntutan ekonomi. Namun Sutrisno dan sejumlah pengurus tidak patah semangat.
 
Bersama puluhan anggotanya mereka terus melakukan pembenahan diri. Termasuk pembersihan pantai dari sampah-sampah. Serta mengajak mitra untuk ikut membangun hutan mangrove. 
 
Saat ini hasilnyapun memuaskan. Warga sudah merasakan dampak yang baik. Mereka tidak lagi sekedar menanam mangrove tetapi sudah merasakan hasil yang baik dari keberadaan hutan tersebut. 
 
Hutan mangrove Desa Sei Nagalawan saat ini menjadi salah satu objek wisata edukasi serta objek wisata ramah anak. Habitat laut melimpah dan dapat digunakan sebagai sumber perekonomian untuk membangun kesejahteraan warga.
 
"Hal paling sulit membangun paradigma, saya terus belajar membangun organisasi. Dari situ kita kembangkan semua. Termasuk pengelolaan hutan mangrove agar menjadi kawasan alam natural yang potensial untuk kesejahteraan warga," terangnya ketua KSU Muara Baimbai, Sutrisno.
 
Lelaki yang kini berusia 46 tahun itu mengatakan bahwa prinsip pertama yang ditanamkan dalam diri anggota kelompoknya adalah mereka bukan warga miskin. Serta mereka adalah warga sejahtera yang mampu hidup dengan alam. 
 
"Ketika hutannya bagus maka kehidupan masyarakat nelayan atau pesisir pasti sejahtera. Karena itu kami menjaga hutan mangrove ini dengan baik. Ditempat ini dulu adalah lahan kritis. Sekarang lahan lestari dan dapat dikelola dengan baik oleh masyarakat," jelasnya. 
 
Sutrisno mengatakan bahwa banyak pihak yang terlibat dalam rehabilitasi mangrove. Salah satunya Osmar Tanjung yang saat ini duduk sebagai komisari independen PTPN IV. Sutrisno mengatakan bahwa keterlibatan semua pihak mendukung penghijauan itu mempermudah melestarikan alam. 
 
"Dampaknya sangat banyak, dulu banyak biota laut yang sangat sulit kami temukan disini. Salah satunya kepiting bakau. Setelah ini kita kembangkan kita membuktikan hasilnya melimpah. Selain itu banyak turunan dari pengolahan mangrove mulai dari kerajinan tangan hingga kuliner," jelasnya. 
 
Sutrisno mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sangat bersyukur atas dukungan PTPN IV yang memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menanam 50 ribu batang mangrove. Sutrisno yakin bantuan kepercayaan yang diberikan kepada mereka akan sebagai dukungan dari PTPN IV untuk menambah populasi penjaga pantai yang alami.
258