Home Info Satgas Covid-19 Istri Melapor, Pemudik di Banyumas Ini Pasrah Dikarantina

Istri Melapor, Pemudik di Banyumas Ini Pasrah Dikarantina

Purwokerto, Gatra.com - Larangan mudik tak mengurungkan niat sejumlah pemudik untuk pulang ke kampung halaman. Meski harus menikmati rasanya menginap di tempat karantina.

Seperti yang dialami Wagiman (48), warga Desa Karangkemiri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Setiba dari kota perantauan, pria paruh baya ini justru dilaporkan sang istri, Sunarti (45), kepada Gugus Tugas Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro tingkat RT.

Alhasil, dia dijemput anggota gugus tugas, pada Kamis (6/5) pagi, dan diantar menuju tempat karantina Gelanggang Olah Raga Satria Purwokerto. Meski demikian, dia sempat makan sahur dan ngopi di kediamannya.

"Saya naik bus, jam 2.00 sampai di rumah. Kalau busnya tidak telat saya tidak akan menginap di sini. Di jalan macet, saya ketiduran, kebablasan turun di Purbalingga. Lalu naik ojek ke Karanglewas," tuturnya polos.

Pria yang berprofesi sebagai buruh bangunan ini mengaku sudah mengetahui adanya kebijakan larangan mudik. Oleh karena itu, dia nekat pulang beberapa jam sebelum hari H. Namun kini, Wagiman harus menjalani karantina bersama 3 pemudik lainnya di GOR Satria selama lima hari.

"Ya saya menerima, tidak apa-apa lima hari dikarantina di sini. Saya pesan pada saudara-saudara lainnya enggak usah mudik. Kalau ingin keluarga sehat semua, jangan mudik. Mudik juga sengsara, karena akan dikarantina seperti saya," ucapnya.

Hampir serupa, pemudik lain, Rasikun (40) juga mengaku rela dikarantina. Sebab, hal itu menjadi konsekuensi karena dia nekat mudik meski sudah dilarang.

"Saya pulang kemarin, tanggal 6. Langsung ada perangkat desa yang mendatangi rumah dan meminta saya dikarantina. Saya ikut saja, karena sudah peraturan, mau gimana lagi," ucapnya.

Kisah Wagiman ini membuat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Bupati Banyumas Achmad Husein dan sejumlah pejabat yang menjenguk tertawa. Bahkan, dia pun memberikan uang saku masing-masing Rp500 ribu kepada kedua pemudik itu.

Ganjar mengatakan, kisah Wagiman tersebut sebetulnya inspiratif. Sebab, yang melaporkan adalah istrinya sendiri. "Jadi dia dilaporkan istrinya. Itu artinya partisipasi masyarakat Banyumas hebat, bahkan suaminya sendiri dilaporkan, sehingga fair. Kalau masyarakat mendukung seperti ini luar biasa. Ini akan jadi contoh buat semuanya," kata Ganjar.

Dia mengaku mendukung kebijakan Pemkab Banyumas yang mengarantina semua pemudik yang pulang pada 6-17 Mei. Meski demikian, Ganjar mengakui tidak semua daerah menerapkan kebijakan ini.

"Daerah lain tidak semua melakukan seperti ini, tapi beberapa melakukan. Mudah-mudahan semua bisa melakukan, sehingga orang akan mikir, nanti pulang dikarantina nggak jadi lebaran. Maka orang akan memilih tidak pulang dan semuanya jadi aman," pungkasnya.

Berdasarkan catatan posko karantina GOR Satria, pemudik yang masuk tempat karantina berkapasitas 300 orang itu berjumlah 4 orang. 1 orang di antaranya memilih untuk karantina mandiri di hotel. Sebelumnya 20 orang telah dipulangkan karena hasil tes cepat antigennya negatif COVID-19.