Home Ekonomi Menilik Model Industri Indonesia yang Bergeser ke Ekonomi Digital

Menilik Model Industri Indonesia yang Bergeser ke Ekonomi Digital

Jakarta, Gatra.com – Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Mochamad Ashari, memandang bahwa model industri Indonesia saat ini telah hijrah ke ranah ekonomi digital. Hal tersebut ia ungkapkan dalam e-press conference bertajuk Bincang PERSpektif Trakindo: Masa Depan Pendidikan Teknologi di Indonesia Pasca-pandemi Covid-19 yang digelar Kamis, (10/6).

“Semua perusahaan, baik yang baru atau yang lama, bergeser ke ekonomi digital. Artinya pertemuan antara pembeli dan penjual sudah bergeser, bukan di mall atau pasar lagi, tapi di gadget melalui e-commerce. Pembayaran sudah tidak pakai cash lagi, pakai e-payment. Pengiriman pun sudah menggunakan e-logistics,” ujar Ashari.

Ashari membagi model industri Indonesia saat ini ke dalam dua klasifikasi. Yang pertama adalah industri baru yang menggunakan platform IT seperti Gojek, Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan lain-lain. Sementara industri kedua adalah industri konvensional yang berbasis sumber daya alam (SDA) dan jasa, seperti Telkom, Pertamina, Garuda, dan sebagainya.

Ashari melihat bahwa hari-hari ini, industri baru memiliki valuasi yang lebih besar ketimbang perusahan-perusahaan konvensional. Walau valuasinya besar, ia menilai belum tentu asetnya juga besar karena asetnya lebih banyak berwujud intangible.

Dengan berkembang pesatnya industri baru yang berbasis teknologi ini, Ashari kemudian membayangkan automatisasi yang diaplikasikan ke banyak lini bisnis. Sebagai contoh, muncul pertanyaan semacam apakah traktor akan diganti oleh mesin otomatis untuk menggarap lahan pertanian, apakah industri padat karya seperti bisnis rokok dan sepatu akan dioperasikan sepenuhnya oleh mesin, apakah taksi akan digerakkan secara otomatis tanpa supir, dan seterusnya.

“Ini semua sangat mungkin dan itu semua keniscayaan saja. Itu akibat dari teknologi dan ekonomi,” ujar Ashari.

Ashari menilai bahwa semua hal tersebut bisa menjadi kenyataan apabila para pegusaha mau melangkah ke arah sana. “Para pengusaha itu hanya melihat kalau masuk secara ekonomi, why not? Mau pasang robot yang pintar sekalipun tidak ada masalah,” ujar Ashari.

Hanya saja, Ashari menyatakan bahwa agar keinginan tersebut terwujud, infrastruktur yang layak harus terpenuhi dulu. Infrastruktur tersebut meliputi listrik hingga jaringan internet 5G. Selain itu, pemerintah juga wajib turut andil dalam pengembangan ekonomi digital ini dengan regulasi yang cepat.

“Regulasi juga pemerintah [harus] membolehkan. Nah, regulasi ini biasanya agak lambat. Teknologi jalan, regulasinya belum siap,” ujar Ashari.


 

181