Home Kebencanaan Sentra Jamu Bantah Dapat Danais, Pemda DIY Diminta Tak Seperti Srimulat

Sentra Jamu Bantah Dapat Danais, Pemda DIY Diminta Tak Seperti Srimulat

Yogyakarta, Gatra.com - Aktivis lembaga antikorupsi, Jogja Coruption Wacth (JCW), Baharuddin Kamba, berharap Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta serius dalam mengelola Dana Keistimewaan (danais).

"Danais sebesar Rp. 1,3 triliun yang  bersumber dari APBN selama ini belum menyentuh persoalan esensial apalagi menyentuh  kesejahteraan masyarakat," kata Kamba dalam pernyataan tertulis, Kamis malam (8/8).

Kamba mengutip pernyataan Aris Eko Nugroho, Paniradya Pati Kaistimewaan, bahwa alokasi danais memang tidak langsung untuk penanganan Covid-19.

Menurut Kamba, penggunaan danais masih jauh panggang api dan tidak seperti yang diharapkan.

"Pembangunan pagar Alun - alun Utara Rp2,3 miliar dan tembok benteng keraton senilai Rp4,8 miliar. Esensi buat masyarakat DIY itu apa?" katanya.

Di tengah pandemi, danais juga digunakan untuk pembelian Hotel Mutiara Rp 170 miliar dan pengadaan tanah bekas kampus STIE Kerjasama Rp150 miliar.

Selain itu, pembangunan jembatan Lemah Abang Rp60 miliar dan kamar mandi bawah tanah di depan Bank Indonesia, tak jauh dari Malioboro Rp 5,7 miliar.

"Terbaru, Aris menyebut sejumlah dana digunakan untuk pembinaan pelaku jamu gendong di bidang kesehatan sebesar Rp1,7 miliar," ujarnya.

Kamba berharap danais tidak melulu digunakan untuk hal-hal yang bersifat hiburan atau kebudayaan, bahkan membangun pagar, tetapi untuk menyejahterakan masyarakat DIY secara luas.

"Jangan sampai dengan alasan terkuncinya regulasi atau aturan yang ada terkait danais, maka akan menambah korban Covid -19 semakin banyak. Toh, sekarang bukan lagi zaman batu untuk melakukan komunikasi. Sebaiknya, Pemda DIY dapat melakukan komunikasi secara intensif ke pusat," tegasnya.

Untuk itu, ia meminta danais dikelola secara serius. "Warga DIY tentu berharap Pemda DIY tak seperti grup lawakan Srimulat dalam menggunakan danais," kata Kamba.

Ketua Desa Wisata Jamu Gendong Dusun Kiringan, Kecamatan Jetis, Bantul, menyatakan sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan bantuan dari danais.

"Untuk Kiringan belum dapat bantuan dari danais. Tadi saya sudah tanya ke ketuanya dan kepala dusun," tulisnya lewat pesan.

Kiringan dikenal sebagai sentra jamu gendong di Kabupaten Bantul. Pedagang jamu gendong di desa ini terhimpun dalam empat kelompok. Dari total 132 anggota yang terdaftar, Sutrisno mengatakan kurang dari 100 orang yang aktif.

"Terakhir bantuan yang kami terima dari salah satu bank berupa alat penggiling. Setelah itu tidak ada lagi sampai sekarang," jelasnya.

454