Home Milenial SOS Anak Korban Covid-19, Swasta-Pemerintah Galang Kolaborasi

SOS Anak Korban Covid-19, Swasta-Pemerintah Galang Kolaborasi

Jakarta, Gatra.com – Pandemi Covid-19 sudah hampir berlansung selama 2 tahun sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Berdasarkan penelitian The Lancet, terdapat 1,5 juta anak di seluruh dunia kehilangan orang tua karena Covid-19.

Kondisi tersebut menjadi fondasi utama untuk SOS Children’s Villages Indonesia bergerak untuk dapat menganalisis data awal dan merumuskan solusi yang tepat dan cepat dalam pemenuhan hak-hak anak yang terdampak, khususnya di bidang pengasuhan alternatif berbasis keluarga.

Terkait persoalan tersebut dan rangkaian 49 Tahun SOS Children’s Villages Indonesia, kata Direktur Nasional SOS Children's Villages Indonesia, Gregor Hadi Nitihardjo, dalam keterangan pers pada Sabtu (11/9), pihaknya melakukan webinar bertajuk "Respon Kondisi Anak yang Kehilangan Orang Tua karena COVID-19" pada pekan ini.

Menurutnya, webinar ini juga untuk dapat menganalisis data awal dan merumuskan solusi yang tepat dan cepat dalam pemenuhan hak-hak anak yang terdampak, khususnya di bidang pengasuhan alternatif berbasis keluarga.

Direktur Jenderal (Dirjen) Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos), Harry Hikmat, selaku narasumber pertama, menyampaikan, pihaknya telah melakukan beberapa hal, salah satunya adalah upaya pendataan. Data anak yatim, piatu, dan yatim piatu yang telah dihimpun per 7 September 2021 sejumlah 25.202 anak.

“Anak yatim, piatu, maupun yatim piatu mengalami kondisi yang sulit. Dari sisi pengasuhan, ada risiko anak tidak ada yang mengasuh sama sekali, bahkan buruknya menjadi gelandangan. Itu yang sangat tidak kami inginkan,” ujarnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang sudah berjalan sejak 2019 dan dapat menjadi jawaban untuk kondisi sekarang ini. ATENSI merupakan layanan rehabilitasi sosial yang menggunakan pendekatan berbasis keluarga, komunitas, dan atau residensial.

Menurutnya, hal itu dilakukan melalui kegiatan dukungan pemenuhan kebutuhan hidup layak, perawatan sosial dan atau pengasuhan anak, dukungan keluarga, terapi fisik; psikososial; dan mental spiritual; pelatihan vokasional, pembinaan kewirausahaan, bantuan sosial dan asistensi sosial, serta dukungan aksesibilitas.

“Yang sudah kami lakukan dapat disebarkan kepada masyarakat luas. Kami tahu kami belum maksimal, jadi memang diperlukan kerja sama dengan pihak-pihak lain," katanya.

Sistemnya, lanjut dia, sudah ada di pemerintah, namun bukan berarti pemerintah mampu menampung atau meng-cover semuanya. “Kami terbuka untuk bekerja sama dengan Kawal Masa Depan ataupun SOS Children’s Villages Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Relawan Kawal Masa Depan, Kalis Mardiasih, menyambut ajakan kerja sama tersebut. Menurutnya, Kawal Masa Depan adalah inisiatif dari publik untuk membantu anak yatim, piatu, ataupun yatim piatu yang orang tuanya meninggal dunia karena Covid-19.

“Ini adalah respons cepat dari masyarakat ketika melihat situasi yang terjadi. Dalam hal ini tentunya kami butuh kolaborasi dari banyak pihak,” katanya.

Ia menyampaikan, terdapat dua bentuk bantuan Kawal Masa Depan, yaitu dalam Jangka Pendek berupa santunan uang Rp1 juta untuk masing-masing anak yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan Jangka Panjang berupa program beasiswa dan monitoring beragam keahlian untuk anak-anak yatim.

Perkembangan awal Kawal Masa Depan sangat positif. Terdapat lebih dari 750 anak yatim dan wali telah mendaftar untuk mendapat santunan dari KMD, lebih dari 500 orang mulai tertarik menjadi orang tua asuh dengan berdonasi rutin setiap bulan, dan terkumpul donasi dari publik mencapai Rp1,5 miliar dalam waktu 1 bulan.

Kalis berharap, gerakan ini makin berkelanjutan sehingga diperlukan kolaborasi dengan banyak pihak, termasuk sektor swasta.

Senada dengan Kawal Masa Depan, SOS Children’s Villages Indonesia juga menyambut baik ajakan koloborasi demi masa depan anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena direnggut Covid-19.

Menurut Hadi, SOS Children’s Villages Indonesia sebagai organisasi non-profit yang memberikan pengasuhan alternatif berbasis keluarga dan menguatkan serta mendampingi ratusan keluarga Indonesia, sangat senang bila dapat bekerja sama dan mengerjakan misi besar untuk anak Indonesia ini bersama-sama dengan banyak pihak.

“Kami ingin terus mengusahakan dan berjuang bagaimana agar semua anak tidak hidup sendirian dan tidak kehilangan kasih sayang serta hak-haknya,” ungkapnya.

Menurut SOS Children’s Villages Indonesia, lanjut Hadi, salah satu yang penting dalam masa pandemi ini tidak hanya semata-mata anak menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu, melainkan juga sistem keluarga menjadi lemah.

“SOS Children’s Villages memiliki program Family Strengthening yang fokus ingin membantu dan mencegah anak-anak terpisah dari keluarga karena faktor apapun," katanya.

SOS Children’s Villages meyakini bahwa setiap anak harus dibesarkan dalam lingkungan keluarga. Walaupun tidak tinggal dengan orang tua kandungnya, namun setiap anak harus tetap merasakan adanya keluarga. Jangan sampai anak terpisah dengan keluarga.

"Ketika anak-anak sudah tidak mempunyai orang dewasa dan keluarga di dekatnya, di situlah program kami Pengasuhan Alternatif Berbasis Keluarga (PABK) akan bergerak memastikan anak tersebut mendapatkan kasih sayang selayaknya keluarga,” ujar Hadi.

Karena kepentingan hal tersebut, kini SOS Children’s Villages Indonesia sedang melakukan Rapid Assesment untuk mendapatkan data aktual anak-anak kehilangan pengasuhan orang tua. Berfokus pada 3L, yakni Look (melihat apa yang ada di lapangan), Listen (mendengar langsung dari anak), dan Link (menghubungkan kebutuhan dengan anak), SOS Children’s Villages ingin meninjau langsung bagaimana kehidupan anak yang bersangkutan, kesehatannya, pendidikannya, hingga bagaimana mendapat makanan, dan perlindungannya.

“Ini merupakan dasar awal yang ingin kita lihat. Di mana kita bisa intervensi, di situ kita intervensi. Kolaborasi dengan Kawal Masa Depan dan Kementerian Sosial bertujuan memastikan setiap anak terlindungi dan terpenuhi hak-hak mereka, serta memberikan respon dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan anak,” kata Hadi.

Ia menyampaikan, diskusi mengenai anak-anak korban Covid-19 akan terus berjalan selama bulan September 2021 dalam rangka 49 Tahun SOS Children’s Villages Indonesia demi memperjuangkan hak dan masa depan anak Indonesia.

Acara akan dilanjutkan dengan diskusi mengenai solusi, yaitu pengasuhan alternatif berbasis keluarga yang berkualitas bagi anak. Tidak hanya itu, anak-anak diajak untuk menyampaikan aspirasi mereka melalui lomba pidato yang akan disampaikan di depan publik dalam acara Press Conference pada tanggal 30 September 2021.

93