Home Info Sawit Harga Meroket di Dalam Negeri, India Turunkan Pajak Impor Sawit

Harga Meroket di Dalam Negeri, India Turunkan Pajak Impor Sawit

Mumbai, Gatra.com - Rencana India memangkas pajak impor dasar untuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari, menjadi strategi untuk mengendalikan kenaikan harga minyak nabati di dalam negeri negara itu, yang saat ini tengah mengalami kenaikan hingga mencapai rekor tertinggi.

Pengurangan pajak ini diharapkan dapat menurunkan harga minyak nabati di India dan meningkatkan konsumsi.

Pajak impor dasar untuk minyak sawit mentah di India diturunkan menjadi 2,5 persen dari tarif sebelumnya 10 persen, sedangkan pajak atas minyak kedelai mentah dan minyak bunga matahari mentah dikurangi menjadi 2,5 persen dari 7,5 persen.

Sedangkan pajak impor dasar untuk kadar olahan minyak sawit, minyak kedelai dan minyak bunga matahari dipotong menjadi 32,5% dari 37,5%.

Setelah pemotongan, impor minyak sawit mentah, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari akan dikenakan pajak total 24,75%, termasuk bea masuk dasar 2,5% dan pajak lainnya.

Sedangkan kadar minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari yang dimurnikan akan dikenakan tarif 35,75% pajak secara keseluruhan.

Sebagai negara yang mengonsumsi dua pertiga permintaan minyak nabatinya melalui impor, India telah berjuang untuk menahan kenaikan harga minyak di pasar lokal selama beberapa bulan terakhir.

Negara ini mengimpor CPO terutama dari Indonesia dan Malaysia. Sementara minyak nabati lain, seperti kedelai dan bunga matahari, diimpor India dari Argentina, Brasil, Ukraina, dan Rusia.

Direktur Eksekutif Solvent Extractors Association of India, B.V. Mehta menegaskan, meski Pemerintah India memotong pajak impor untuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari, tetapi tetap mempertahankan bea masuk untuk minyak rapeseed mentah sebesar 38,5 persen.

"Ada kebutuhan untuk menurunkan pajak impor minyak rapeseed juga karena harganya hampir dua kali lipat dalam setahun," kata Mehta, seperti dikutip Reuters, Senin (12/09). "India adalah pasar yang sangat sensitif terhadap harga dan harga tinggi saat ini kemungkinan akan mengurangi permintaan lebih lanjut,” tambahnya.