Home Info Sawit Minyak Nabati dari Sawit Tak Terkalahkan

Minyak Nabati dari Sawit Tak Terkalahkan

Jakarta, Gatra.com - Nyaris, di dunia ini, tak ada produk pelengkap bagi manusia yang tak mengandung minyak nabati berbahan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit. Minyak sawit adalah minyak sayur yang paling populer di dunia. Keberadaannya bisa ditelisik dalam 50% produk-produk konsumen.

Minyak sawit ada di sabun, sampo, pasta gigi, bahkan roti, margarine, hingga kreamer kopi, dan kosmetik. Produk turunannya membentang dari saat kita bangun tidur, hingga hendak menuju ke peraduan. Kehadiran sawit di kehidupan kita, sebagiannya karena kandungannya yang unik, menjadikannya bahan campuran makanan yang mendekati sempurna.

Minyaknya memiliki titik didih tinggi dan lemak jenuh tinggi, ideal untuk menciptakan krim dan penganan yang leleh di mulut. Sebagian besar minyak sayur lain harus dihidrogenasi — yakni proses penambahan atom hidrogen secara kimia ke dalam molekul lemak — untuk meraih bentuk yang sama. Namun, proses ini akan menghasilkan lemak tak jenuh yang tidak sehat.

Berkat kandungan kimia unik pula, minyak sawit tahan terhadap suhu tinggi dalam proses memasak, dan tahan disimpan dalam waktu lama, cocok untuk berbagai produk.

Minyaknya juga bisa dipakai sebagai bahan bakar, begitupun biji kelapa yang tersisa yang masih bisa diproses kembali. Batoknya dihancurkan dan dipakai untuk membuat beton, dan abu sisa pembakaran sabut dan batoknya pun bisa digunakan sebagai pengganti semen.

Selain mengandung kalori tinggi, sawit juga kaya akan asam lemak esensial dan membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak. Saat permintaan global akan daging, unggas, dan produk berbahan susu naik, maka permintaan akan sawit juga akan terus meningkat.

Kelapa sawit mudah tumbuh di daerah tropis dan sangat menguntungkan bagi petani. Bahkan tanah yang gersang sekalipun, belakangan banyak digunakan sebagai perkebunan sawit.

Namun ekspansi besar-besaran perkebunan sawit dituduh menjadi biang kerok pembabatan hutan masif di Indonesia dan Malaysia, termasuk menghancurkan habitat hewan-hewan yang terancam punah di sana, seperti orang utan.

Petani sawit menghasilkan 77 juta ton minyak sawit untuk pasar global pada 2018, dan angka ini diprediksi naik hingga 107,6 juta ton pada 2024.

Namun, di tengah kontreversi lingkungan yang melekat pada minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO, produk itu masih dinilai sebagai minyak nabati terbaik yang tidak tergantikan.

"Jika orang-orang mau melihat kenyataan yang terjadi saat ini, saya yakin sebenarnya mustahil menggantikannya (kelapa sawit) dengan mudah," kata James Fry, Chairman di lembaga analisis LMC International, beberapa tahun lalu di Bali.

Meski begitu, riset untuk mencari alternatif dari minyak sawit yang lebih ramah lingkungan juga sudah dilakukan. Seperti merek kosmetik LUSH dari Inggris menggantikannya dengan campuran minyak dari biji rapeseed dan minyak kelapa. Perusahaan ini juga mencoba meneliti berbagai bahan dari minyak bunga matahari, mentega kakao, minyak olive, dan biji gandum.

Di tempat lain, para ahli makanan dan kosmetik membuat ramuan dengan alternatif yang lebih eksotis, seperti minyak dari shea, sal, jojoba, kokum, illipé, jatropha dan kulit mangga.

Dengan hidrogenasi dan mencampurkan minyak eksotis ini, campuran baru yang menyerupai sawit bisa tercipta. Namun tidak satupun yang semurah atau semudah bila bahan bakunya dari minyak sawit.

Kacang shea Afrika, misalnya, dipanen dan dijual dengan jumlah kecil oleh komunitas lokal. Ini menjadikan rantai persediaan sangat kecil dan rentan terhadap gangguan.

Belum lagi dengan efisiensi penggunaan lahan sebenarnya sawit juga lebih unggul. Dengan kata lain minyak nabati lain sebenarnya lebih banyak menggunakan lahan dibanding sawit.

Berdasarkan data dari Oil World Statistics tahun 2017, total penggunaan lahan di dunia untuk minyak nabati adalah 277 juta hektar dengan total produksi 199 juta ton. Perkebunan kedelai sendiri menggunakan total lahan 122 juta hektar untuk memproduksi 45,8 juta ton minyak, dengan produktivitas sebesar 0,4 ton per hektar.

Demikian pula dengan perkebunan sunflower (bunga matahari) memerlukan 25 juta hektar untuk menghasilkan 15,9 juta ton, dengan produktivitas sebesar 0,6 ton per hektar. Perkebunan rapeseed menggunakan 36 juta jektar lahan dalam memproduksi 25,8 juta ton minyak, dengan produktivitas 0,7 ton per hektar.

Sedangkan perkebunan kelapa sawit membutuhkan lahan yang paling sedikit yaitu 16 juta hektar untuk menghasilkan 65 juta ton minyak, dengan produktivitas 4 ton per hektar.