Home Gaya Hidup Berusia 500 Tahun, Tradisi Weh-wehan Membudaya Jelang Perayaan Maulid Nabi

Berusia 500 Tahun, Tradisi Weh-wehan Membudaya Jelang Perayaan Maulid Nabi

Kendal, Gatra.com - Menjelang malam Maulid Nabi atau malam kelahiran Nabi Muhammad SAW, Weh-wehan menjadi sebuah tradisi yang membudaya bagi masyarakat Kaliwungu, Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Tradisi untuk memperingati hari kelahiran Nabi ini dilakukan dengan cara saling memberi makanan antar warga. 

Warga Kaliwungu, mulai anak-anak hingga dewasa hilir mudik dari tetangga satu ke tetangga lainnya untuk saling memberi makanan dan bertukar jajanan.

Menurut Muhammad Tommy Fadlurahman, selaku tokoh masyarakat Kaliwungu, tradisi Weh-wehan pertama kali dicetuskan pada abad ke 15 sejak agama islam masuk ke bumi Kaliwungu oleh Kiai As'ari yang dikenal dengan panggilan Kiai Guru.

"Kiai Guru ini adalah salah satu ulama dari kerajaan Islam Mataram," kata Gus Tommy sapaan akrabnya, Senin sore (18/10).

Disamping sebagai bentuk rasa syukur masyarakat dalam memperingati hari kelahiran Nabi, tradisi Weh-wehan sendiri penuh dengan makna. Tradisi yang diperingati dalam setiap tahunnya ini memiliki sebuah nilai edukasi bagi masyarakat. 

Dengan tradisi Weh-wehan, masyarakat diedukasi untuk memiliki rasa saling peduli dengan mengimplementasikannya melalui cara saling memberi satu sama lainnya. "Ulama-ulama kita jaman dulu cara mendidiknya sangat luar biasa. Umat diajari atau dididik dengan sikap untuk saling bersedekah, memberi satu sama lainnya," ujar Gus Tommy.

Di tradisi ini, ada satu jenis makanan yang paling khas. Makanan tersebut dikenal dengan sebutan Sumpil. Jenis makanan ini mirip lontong atau ketupat, namun dibungkus dengan daun bambu dan berbentuk segitiga. Bumbu kelapa menjadi kawan sumpil saat dihidangkan. 

Menu ini menjadi menu makanan yang menggoda lidah dan memiliki rasa yang tersendiri bagi penikmatnya. Namun seiring perkembangan jaman, makanan ini menjadi susah untuk didapatkan. Warga banyak menggantinya dengan berbagai makanan modern, seperti kue-kuean, es cream dan berbagai jajanan lainnya.

"Sumpil sekarang sudah jarang ditemukan, tapi di sini yang terpenting adalah nilai edukasinya, bukan makanannya. Kalau makanannya sekarang lebih condong mengikuti perkembangan jaman," ungkapnya.

Anggota DPRD Kendal dari Partai Golkar ini juga menyampaikan, mewakili Bupati Kendal Dico M Ganinduto mengucapkan happy Weh-wehan bagi masyarakat Kendal, khususnya kepada warga Kaliwungu.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Krajankulon Kecamatan Kaliwungu, Abdul Latif membenarkan bahwa tradisi Weh-wehan sudah berlangsung sejak jaman penyebaran agama Islam di Kaliwungu dan sudah membudaya turun temurun.

Dia membeberkan, tradisi Weh-wehan awalnya hanya digelar di Desa Krajankulon saja. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi Weh-wehan menjadi sebuah tradisi yang diperingati setiap desa di wilayah Kecamatan Kaliwungu, bahkan meluas lagi hingga ke luar kecamatan lain di Kabupaten Kendal.

"Karena menjadi tradisi turun-temurun maka banyak desa dan kecamatan lain mengikuti tradisi ini," tuturnya.

Dirinya menyampaikan, tradisi Weh-wehan disetiap kampungnya beda waktu pelaksanaannya. Ada yang menggelarnya siang hari sejak pukul 2 siang, ada juga yang menggelarnya sore dan malam hari setelah salat Maghrib. Ia berharap tradisi yang telah turun temurun terus dilestarikan warga dalam memperingati hari kelahiran Nabi dalam setiap tahunnya.