Home Politik Genjot Wisata Ngopi, Anggota DPR RI Beri Bantuan Puluhan Ribu Bibit Kopi

Genjot Wisata Ngopi, Anggota DPR RI Beri Bantuan Puluhan Ribu Bibit Kopi

Purworejo, Gatra.com - Anggota Komisi IV DPR RI, Vita Ervina bekerja sama dengan Kementrian Pertanian lewat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP), Jawa Tengah memberikan bantuan 10.000 bibit kopi kepada beberapa kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Kaligesing, Purwodadi, Jawa Tengah. Penyerahan secara simbolis diberikan kepada Poktan Bangun Semi dan Sinoman Tani Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing.

"Kegiatan penanaman bibit kopi ini bekerja sama dengan Kementan yang diinisiasi BPTP Jateng dari program aspirasi DPR RI. Selain itu, kami juga memberikan bantuan huller, pulper, pembubuk, roasting dan pengemasan serta bibit kopi jenis klon Robusta. Selain bibit, paska panennya pun kita bantu," jelas Vita Ervina usai penanaman bibit kopi, Ahad (31/10).

Kopi Robusta merupakan turunan dari spesies utama Canephora. Oleh sebab itu, variasi tanaman Robusta tidak disebut varietas, namun disebut klon. Ada empat Klon Robusta yang diserahkan ke petani Desa Donorejo, yaitu Sa 237, Bp 534, Bp 234 dan Bp 409.

"Saya melihat Desa Donorejo ini memiliki potensi wisata dan budaya yang bisa dikembangkan. Dalam perjalanan ke sini, saya melihat banyak sekali tempat-tempat kopi di daerah Kulonprogo yang bagus. Saya yakin di sini juga bisa membuat wisata ngopi seperti itu," kata legislator PDI Perjuangan ini.

Kepala BPTP Jawa Tengah, Joko Pranoto menjelaskan bahwa, selain membawa bantuan bibit, pihaknya juga mengintroduksi (mengenalkan) sistem tanam poliklonal. "Sistem poliklonal adalah cara menanam beberapa bibit klon kopi. Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas, jika ditanam secara monoklonal (hanya satu jenis) produksi (hasil panen) akan kurang. Dengan sistem yang kami kembangkan ini, bisa menghasilkan dua kali lipat," kata Joko.

Karena yang diberikan adalah bibit unggul, tambah Joko, dalam jangka waktu tiga tahun saja, kopi sudah bisa dipanen. Jika jenis biasa, bisa lima tahun baru berbuah.

"Kami tidak hanya memberi bantuan bibit lalu berhenti, kami berikan pengetahuan teknologi pertanian. Untuk petani kita adakan bintek, ada petugas yang terjun langsung mendampingi petani," ujar Joko.