Home Kebencanaan Waspada Cuaca Ekstrem! Aktifkan Desa Tanggung Bencana Segera

Waspada Cuaca Ekstrem! Aktifkan Desa Tanggung Bencana Segera

Cilacap, Gatra.com – Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mengaktifkan seluruh Desa Tangguh Bencana (Destana) pada musim hujan kali ini. Apalagi Badan Meteorologi Iklimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem pada November akibat pengaruh La Nina.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Cilacap, Gatot Arif Widodo mengatakan BPBD telah megintensifkan sosialisasi agar wilayah dengan risiko tinggi bencana hidrometeorologi untuk mengaktifkan ronda untuk mengantisipasi bencana. Harapannya, desa yang belum dibentuk menjadi Destanapun akan mereplikasi sistem mitigasi bencana Destana.

“Di masyarakat sendiri, ketika hujan, sudah saatnya berjaga-jaga, baik siang maupun malam hari, menggunakan sistem ronda itu untuk berjaga-jaga untuk kewaspadaan bencana,” katanya kepada Gatra.com (1/11).

Gatot menjelaskan, di Cilacap dari 284 desa dan kelurahan, sebanyak 131 desa di 12 kecamatan rawan banjir dan 94 desa di 12 kecamatan rawan bencana longsor. Karenanya kewaspadaan bencana menjadi titik penting untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa atau kerugian material lebih besar akibat bencana hidrometeorologi.

Menurut dia, 35 desa di Cilacap sudah menjadi Destana. Akan tetapi, tak semuanya rawan bencana hidrometeorologi, melainkan berbagai jenis bencana alam, seperti gempa, tsunami, kekeringan, dan lain sebagainya. “Seluruh Cilacap itu (jumlah Destana) mencapai 35. Tetapi 35 desa itu, hazard-nya, ancamannya itu bermacam-macam,” jelasnya.

Gatot Arif Widodo menambahkan, mengacu pada banjir bandang Sungai Cigeugeumeuh yang berdampak ke dua desa di Kecamatan Wanareja dan Majenang, masyarakat diimbau untuk membersihkan aliran air dan sungai dari sampah.

Pasalnya, penyebab limpasan banjir 27 Oktober lalu adalah sampah perkebunan dan rumah tangga yang menumpuk dan menutup sungai di jembatan. Akibatnya, air melimpas dan berdampak cukup besar di dua desa tersebut. “Mumpung masih awal musim hujan. Masyarakat diimbau untuk membersihkan sampah yang berpotensi menutup aliran air dan bisa memicu banjir,” katanya lagi. 

Gatot juga mengimbau untuk pengaktifan komunikasi antardesa. Dengan begitu, saat terjadi perubahan di wilayah hulu atau pegunanan, wilayah desa bagian bawah bisa mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana. “Itu harus berhubungan antara satu dengan yang lain. Mungkin bawah tidak hujan, tetapi di atas hujan, tiba-tiba airnya sudah sampai,” ucapnya.

1274