Home Gaya Hidup Wisata Berburu Foto ke Pesisir Jakarta

Wisata Berburu Foto ke Pesisir Jakarta

Jakarta, Gatra.com– Berbagai cara mengisi waktu libur, dari mulai tidur aja, bersih-bersih rumah, hingga berwisata. Bagaimana bila kali ini pilihannya adalah wisata sambil hunting photo, tapi ke tempat-tempat yang bukan obyek wisata seperti pada umumnya.

Jaman sekarang, berburu foto atau photo hunting, tidak hanya digandrungi penggemar dunia fotografi, para traveler atau pecinta jalan-jalan juga tidak mau kalah. Apalagi jaman sekarang kamera pada seluler sudah semakin canggih, cukup mumpuni untuk kegiatan wisata, dan fotonya bisa langsung diunggah ke medsos.

Kota Jakarta menyediakan berbagai macam jenis tempat berburu foto, dari yang gratis sampai berbayar. Berbagai spot atau titik yang menarik tersebar di penjuru kota. Dari rasa urban seperti suasana gedung-gedung tinggi Jalan Sudirman-Thamrin, atau spot bernuansa sejarah di kawasan Kota Tua Jakarta Pusat.

Sebenarnya masih banyak lagi deretan spot foto unik lainnya, seperti pada museum-museum, kawasan taman wisata hingga galeri seni. Tapi jika menginginkan spot yang lebih unik dan menantang, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah mencari informasi yang sudah ada atau menemukan tempat baru tersebut.

Perburuan foto kali ini, Gatra berkesempatan mengikuti jalan-jalan ala para pecinta dunia fotografi ke daerah pesisir Jakarta. Setelah melalui perjalanan sedikit nyasar, walaupun sudah pakai Google Maps, akhirnya sampai juga di daerah Muara Baru sekitar pukul 10 pagi.

Hal yang menarik, ternyata “nyasar” menurut mereka itu mengasyikkan, biar ada ceritanya dan sekaligus menambah ilmu tentang rute-rute jalan. Sebenarnya jarak tempuh tidak terlalu jauh, sekitar 11 km bila start dari depan Museum Nasional Indonesia, kawasan Monas, dengan titik tujuan Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta.

“Akhirnya ketemu juga dan bisa motret ini masjid. Untung ada bocah-bocah yang lagi berenang .... fotonya jadi lebih maksimal,” kata Donal saat jalan-jalan sambil hunting foto di daerah Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (04/11). Untuk spot awal, para pecinta fotografi memilih Masjid Wal Adhuna, di mana bangunannya telah dikelilingi air laut akibat terkena rob sejak sekitar 13 tahun yang lalu.

Sebuah gambaran akan kekuatan alam yang tidak mau kompromi, dengan latar belakang laut teluk Jakarta. Cuaca pagi itu cukup cerah, tapi sangat disayangkan, langit tertutup awan putih, sehingga detil warna dalam foto menjadi datar atau flat. Langit putih atau kabut yang menutupi langit merupakan musuh para hampir semua fotografer saat ingin memotret pemandangan.

Dan itu tidak bisa ditolong dengan apapun, sekalipun merubah white balance atau bahkan menggunakan filter lensa. Kecuali kalau mau manipulasi fakta, merubah langit putih menjadi biru dengan aplikasi edit foto. Dan sepertinya hasil foto berwarna tersebut harus diubah menjadi foto hitam-putih. Untuk meredam dan mengalihkan warna datar langit putih menjadi tidak menonjol.

Dekat dari sini ada juga spot foto dengan suasana deretan kapal pinisi dan aktivitas bongkar-muat, tepatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun kali ini, salah satu ikon sejarah Kota Jakarta tersebut tidak menjadi pilihan para fotografer dalam melampiaskan hasratnya. Jalan-jalan dilanjutkan ke daerah pemukiman pinggir laut yang sering terkena banjir rob, daerah Gedung Pompa Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.

Lokasinya juga tidak jauh, bila dari arah selatan akan ketemu perempatan agak besar, kalau ambil lurus akan masuk ke kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta, ke kanan menuju masjid, dan kiri ke kampung pojok Gedung Pompa. Bagi pengguna roda empat agak sulit mendapatkan parkir di sekitar perkampungan. Untuk motor bisa parkir di dekat mulut jalan masuk, di situ ada beberapa warung yang cukup nyaman untuk istirahat sejenak.

Lebar jalan cukup untuk satu mobil, rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya berada di sebelah kanan atau selatan, sebelah kiri terdapat tembok yang ketinggiannya beragam, kira-kira antara 1,5 – 2,5 meter. Ada beberapa tangga yang terbuat dari beton tapi ada juga dari bambu-kayu melekat pada tembok, dengan jaraknya beragam dari setiap tangganya.

Setelah menaiki tangga dan berdiri di atas tembok, baru sadar, ternyata di sebelah tembok merupakan “pantai kecil” Muara Baru, yang permukaan airnya lebih tinggi dari jalan atau hampir sejajar bangunan satu lantai. Posisi memotret yang paling maksimal agar dapat memperlihatkan perbedaan ketinggian, adalah dari atas tembok tersebut. Atur diafragma ke bukaan kecil, antara f/8 hingga f/11 pada ISO 100, dengan shutter speed atau kecepatan rana mengikuti titik pencahayaan normal.

Tapi kalau foto mau terlihat agak sedikit dramatis, pencahayaan dapat diturunkan secara manual menjadi 1/3 hingga 1/stop, dengan menambah speed. Misalnya, kamera digital menggunakan program manual, ukuran kepekaan cahaya ISO 100, pengukuran normal pada difragma f/8 dengan speed 1/125. Saat diturunkan pencahayaan dengan mempercepat shutter speed, maka speed yang tadinya 1/125 ditambah menjadi 1/160 (1/3 stop), 1/200 (2/3 stop), dan 1/250 (1 stop). Atau silahkan mencoba ke-empat kecepatan rana tersebut, tehnik ini disebut bracketing, agar mendapat beberapa pilihan hasil pencahayaan yang diinginkan.

Perburuan foto tak hanya menangkap perbandingan ketinggian antara laut dan daratan, lebih masuk ke dalam, ada bangunan seperti mushola atau masjid kecil yang rusak akibat banjir rob. Lantainya ada genangan air dan kotor, cat tembok mengelupas sebatas ketinggian banjir rob.

“Saya sudah 3 kali nguruk rumah....naik sekitar 1,5. Dalam 1 bulan kadang bisa 10 hari terkena rob kadang lebih, coba nanti cek aja sekitar jam 6 sore, air udah naik. Biasanya jelang akhir tahun, air laut akan tumpah,“kata Arta Sahara, seorang warga asli kampung pojok Gedung Pompa Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.

Menurut pria yang tinggal di situ sejak 25 tahun lalu, telah menyaksikan pembuatan dan perbaikan tanggul sebanyak 4 kali. “Warga di sini melakukan aktivitas seperti biasa aja... udah tidak kaget lagi. Harapannya kalau bisa dirapihkan sama pemerintah, bisa tetap tinggal di sini tapi infrastruktur diperbaiki. Kalau pun dibongkar, kami ingin dapat tempat yang layak,” ujar pria kelahiran tahun 1970.

Tak terasa posisi matahari sudah tepat di atas kepala, perburuan foto dilanjutkan ke spot berikutnya, Pasar Ikan Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara. Yang mengaku pecinta seafood harus datang ke tempat ini, surga dunia untuk berbelanja segala jenis hasil laut di Jakarta, selain Muara Baru.

Biasanya waktu berburu foto di tempat ini baru dimulai pada pukul 16.00 hingga pagi subuh. Momen yang biasanya diambil yaitu kesibukan saat datangnya hasil laut dari kapal nelayan, dan ramainya para penjual-pembeli. Keutungan saat memotret malam hari, mendapatkan kombinasi warna-warni dan gelap-terang suasana malam yang dibantu lampu pencahayaan pasar.

Untuk hunting pada siang hari memang agak berbeda, di mana aktivitas belum ramai, dan tidak ada gemerlap lampu yang dapat membantu munculnya gradasi antara gelap-terang pencahayaan menjadi lebih menarik. Kalau bisa teliti dan fokus, ternyata banyak juga yang bisa difoto, seperti sisi lain kehidupan pasar selain aktivitas transaksi, kehidupan pekerja angkut, dan masih banyak lagi.

Satu yang juga perlu diperhatikan adalah pengaturan pencahayaan. Terutama bila memotret ke bagian tengah, di mana area pasar tersebut sangat luas dan lampunya tidak menyala pada siang hari. Ada beberapa foto yang sepertinya lebih pas atau cocok untuk dirubah dari berwarna ke hitam-putih. Perubahan dilakukan karena alasan warna dan pencahayaan yang datar atau bisa juga hanya perkara selera.

Tak hanya untuk berburu foto, Pasar Ikan Grosir Muara Angke yang buka 24 jam ini juga asyik untuk berburu seafood segar dengan harga bersahabat. Tidak sulit untuk menuju ke sini, traveler dapat menggunakan transportasi umum Transjakarta jurusan Terminal Muara Angke. Hanya membutuhkan waktu paling lama 5 menit jalan dari terminal ke pasar.

Bagi yang sudah lapar, hasil perburuan belanja seafood bisa langsung dinikmati dengan menggunakan jasa memasak dari rumah-rumah makan yang ada di sekitar pasar. Atau bila tidak mau repot belanja, traveler juga dapat langsung memilih jenis makanan pada menu restoran. Ini baru yang namanya nge-trip menang banyak, sekali jalan dapat foto-foto cakep, pengalaman jalan-jalan mengasyikkan, dan wisata kuliner.


Teks dan Foto: Jongki Handianto