Home Politik Fahri Hamzah: Capres Itu-itu Saja, Cuma Jual Tampang Tak Punya Ide

Fahri Hamzah: Capres Itu-itu Saja, Cuma Jual Tampang Tak Punya Ide

Bantul, Gatra.com - Politikus Fahri Hamzah melihat pola pikir dan perilaku politikus sekarang ini masih bersifat artifisial. Para politisi hanya menjual tampang, bukan gagasan tentang keindonesiaan.
 
"Itu yang saya bilang. Sekarang ini cuma ada ada pertarungan tampang, enggak ada pertarungan ide-ide. Banyak spanduk. Banyak foto. Banyak gimmick. Tapi idenya enggak ada. Padahal yang kita perlukan adalah pertarungan ide," kata Fahri, Sabtu malam (13/11) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
Wakil Ketua Partai Gelora ini hadir di Bantul bersama Ketua Umum Gelora Anis Matta untuk berdialog dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Banguntapan.
 
Menurutnya, kondisi politik semacam itu menunjukkan bahwa dinamika kepemimpinan dikelola secara mengecewakan. Hingga akhirnya, perpolitikan Indonesia hanya berisi pertarungan tampang, pertarungan follower, dan pertarungan subscriber media sosial.
 
"Pertarungan gitu-gitu tidak memfasilitasi kehendak rakyat untuk punya pemimpin yang diolah dalam suatu mekanisme perdebatan yang serius," tegasnya.
 
Fahri melihat ide tentang kepemimpinan di Indonesia sebenarnya banyak dan tersebar. Ide ini bisa digunakan sebagai pembanding dan melahirkan calon pemimpin baru. Namun saat ini bakal calon presiden (capres) hanya diisi nama-nama itu saja.
 
Para calon pemimpin baru Indonesia ini menurut Fahri sebenarnya tidak berkutat di pusat saja. Mereka bisa berasal dari Aceh, Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, atau  Sumbawa. "Kok ya itu-itu saja. Kayak Indonesia ini miskin pemimpin," katanya.
 
Baginya, jika ingin menjadikan Indonesia maju, seorang calon pemimpin seharusnya berkeliling Indonesia untuk berdebat dengan profesor, dosen, dan mahasiswa di berbagai kampus. Langkah ini supaya mereka mampu melihat persoalan rakyat di sebuah daerah dan mampu memfasilitasi kehendak rakyat. Hal ini juga untuk mengasah pemikiran calon pemimpin tentang masa depan republik ini.
 
"Bisa saja debat itu berlangsung setahun penuh sebelum pemungutan suara. Ini agar rakyat tahu bagaimana kualitas pemimpinnya. Sebab kalau mereka tidak menggali, nanti yang ada hanyalah pemimpin bodoh," ujarnya.
 
Menurutnya, pemimpin yang tidak mau melakukan debat atau menelurkan gagasan besar tentang keindonesia akan menghadirkan ketidaktahuan tentang daerah, kebudayaan, teknologi, ilmu pengetahuan, dan yang paling fatal ilmu agama.
 
"Itu yang tidak kita mau. Ciptakan sesuatu yang membuat rakyat punya kesempatan untuk dipilih dan memilih. Ada adu gagasan, tidak  hanya tampang doang yang habis-habisi duit," pungkasnya.
1879