Home Kolom Geliat Remitansi, Peluang Wise Indonesia Memperkuat Bisnis (Bag I)

Geliat Remitansi, Peluang Wise Indonesia Memperkuat Bisnis (Bag I)

422

Wawancara Bagian I

Elian Ciptono

Country Manager Wise Indonesia

“Wise Menjawab Semua Kebutuhan”

---------------------

 

Money without borders. Filosofi ini yang ditanamkan oleh Wise selaku perusahaan teknologi global yang bergerak di bidang remitansi, yakni jasa transfer dan pengiriman uang ke seluruh dunia. Perusahaan yang berdiri 2011 di London ini sebelumnya bernama TransferWise. Didirikan oleh Kristo Kaarmann dan Taavet Hinrikus, perusahaan saat ini melayani jasa pengiriman uang ke-80 negara dengan 11 juta pelanggan di seluruh dunia. Pada November 2020, Wise resmi beroperasi di Indonesia, setelah sukses menapakkan layanan di Australia, Malaysia, Singapura, Jepang, Amerika Serikat (AS), Britania Raya hingga Tiongkok (via Alipay).

Country Manager Wise Indonesia, Elian Ciptono menyatakan, Wise memiliki konsep bisnis yang memenuhi empat (4) kriteria yakni instan, nyaman, transparan, dan murah. “Beranjak dari problem-nya co-founder yang menemukan jasa layanan yang lelet, mahal, dan fee-nya enggak transparan,” kata Elian.

Dari sisi harga, Wise menawarkan biaya layanan lebih murah hingga 2,5 kali dari bank dan provider lain di Indonesia. Biaya rata-rata global Wise yakni 0,62%, jauh lebih rendah daripada biaya pengiriman uang rata-rata global Bank Dunia (6,38%). Dari sisi kecepatan, sebanyak 40% dari semua transfer Wise secara global diselesaikan secara instan yakni < 20 detik. “Dari sisi volume transaksi, Wise sudah mengelola [transaksi] senilai US$7,5 miliar per bulan,” ucap Elian.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang model bisnis Wise dan potensi pengembangannya di Indonesia, wartawan Gatra Andhika Dinata mewawancarai Elian Ciptono secara virtual pada 11 November 2021. Berikut petikannya:

TransferWise berganti nama menjadi Wise. Ada perubahan konsep bisnis menyertainya?

Jawaban sih iya. Sebenarnya bukan perubahan business model, kita ganti nama bulan Juni itu sampai sekarang, business model-nya tetap sama. Kenapa kita putuskan untuk ganti nama karena memang secara overall, konsep yang kami tawarkan itu tidak sekadar transfer lagi. Kalau kita bicara digital, itu sebetulnya positioning kita itu adalah ingin menyediakan the best international account on the market. International Account itu adalah akun yang bisa memenuhi semua kebutuhan transaksi yang dibutuhkan customer untuk kehidupannya. Kan orang itu tidak hanya terbatas di suatu negara, dia bisa travelling dan sebagainya. Kita ingin membuat akun yang bisa memenuhi semua kebutuhan mereka itu. Misalnya, saya belum lama ini mengambil MBA (Master of Business Administration) di luar negeri, saya pindah dari Indonesia ke US. Kebutuhan saya itu ada tiga. Pertama, saya butuh pelayanan yang bisa membantu saya mengirimkan uang dari satu negara ke negara lain di manapun negara itu berada. Kedua, saya juga ingin menerima uang dari siapapun di seluruh dunia, dari keluarga saya, atau dari teman saya di Indonesia, itu saya enggak perduli tinggal di mana, saya harus bisa terima uang dari negara itu, juga menyimpannya dalam satu akun, saya juga tidak ingin memindahkannya ke akun lain. Ketiga, dari satu akun itu saya bisa belajar di manapun dengan mudah. Sebenarnya basic activity kita ada di tiga itu tadi. Kirim, terima, belanja. Wise itu sekarang positioning-nya kita menjawab semua kebutuhan orang.

Kalau kita bicara luar negeri, kita ada Wise Transfer yang sekarang ada di Indonesia. Kita juga ada Multicurrency Account, itu kayak kita punya GoPay tapi bukan hanya rupiah. Kita punya 50 currency dalam satu account yang kita sebut Multicurrency Account. Ibarat debit card, kita punya kartu debit ketika kita punya Multicurrency Account, kita mau travelling kemanapun cukup gesek aja. Dia akan mendebit langsung dari wallet. Karena kita bukan sekadar transfer, kita akhirnya memutuskan untuk menghapus kata transfernya dan merubah menjadi Wise. Karena sekarang memang business model kita sudah bukan transfer tetapi ada juga International Account.

Apa saja kelebihan Wise dibandingkan dengan layanan jasa remitansi konvensional lainnya?

Pertama dari sisi harga, in general kita jauh lebih murah. Kalau kita bicara average transaksi global itu ada di 0,62%. Dibandingkan industrial standard kalau menurut Data World Bank itu, industri standar itu di 7%, jadi kita sepersepuluh dari industri standar atau 10 kali lebih murah dari kompetitor. Di Indonesia karena kita baru launching kita setengah 2,5 kali lebih murah dari kompetitor. Namun, seiring bertambahnya volume, cost efficiency kita berupaya untuk menjadi lebih adaptif dari customer. Kedua, kalau dari sisi speed, kita jauh lebih cepat. Kalau kita bicara kompetitor lain itu bisa sampai 1-3 hari standar industri. Kalau di Wise itu 40% itu sudah instan di bawah 20 detik dan 58% itu di bawah 1 jam, itu jauh lebih cepat.

Dari sisi convenience atau kemudahan, kita juga 100% digital, kita dari awal sudah fully digital, customer hanya bisa bayar transfernya itu untuk remitansi dari bank transfer, e-money, jadi enggak ada yang cash. Jadi, terimanya juga langsung lewat bank transfer atau e-money. Dalam satu services, kita bisa kirim ke 80 negara di dunia. Itu sangat mempermudah semua pengguna. Terakhir, dari sisi transfaransi, sampai sekarang banyak provider itu masih menyematkan hidden fees di OS mereka. Kalau kita ke provider coba dicek ke Reuters atau Google, in general, pasti ada fee tambahannya. Tapi di Wise itu enggak dan fee itu kita breakdown ke customer ini-ini. Mungkin dari sisi business model-nya, yang membedakan kita sebetulnya, sebagai company, Wise itu sangat peduli dengan infrastruktur pembayaran.

Seperti apa bentuk penguatan infrastruktur pembayaran ini?

Jadi, Wise itu benar-benar meng-invest, mengembangkan payment infrastructure kita sendiri. Dengan cara buka akun di seluruh dunia, kemudian kita bikin payment infrastructure sendiri, settlement uang sendiri, tinggal bisa menghasilkan proses yang lebih cepat, lebih murah, lebih mudah dan sebagainya. Bahkan, di beberapa negara seperti: Singapura dan UK, kita itu terintegrasi langsung dengan regulator. Seperti Central Bank, regulator di negara itu. Jadi, kita itu ibaratnya disamakan dengan bank, kita bisa langsung settlement dengan financial institution di negara itu. Jadi, kita integrated ke beberapa negara, langsung ke regulator. Kita ingin membuat payment infrastructure yang lebih baik.

Apa saja target dari Wise Indonesia ke depan?

Kita akan invest untuk mengembangkan terus layanan kita sama customer di Indonesia, dan kita langkah-langkah ke situnya sudah terlihat. Pertama, kita sudah dapat license dari Bank Indonesia, dari sana kita akan benar-benar commit. Kita mau menghadirkan layanan yang berlisensi dari regulator. Yang kedua, kita sudah buka office di sini, saya sebagai salah satu pegawai pertamanya. Dan ke depan, kita akan akses layanan-layanan apa sebetulnya yang akan dibutuhkan oleh customer di Indonesia dan itu akan kita introduce. Ketiga, pengembangan-pengembangan itu akan diiringi dengan penambahan sumber daya manusia yang dibutuhkan. Itu akan kita asses secara berkelanjutan. Langkah-langkah itu sudah ada, dan kita commit untuk menyertakannya di Indonesia. Dari sisi prospek, Indonesia jujur sangat atraktif untuk Wise. Ada tiga faktor. Pertama, Indonesia secara market sebagai One of the Biggest di Asia.

Contohnya, dari sisi remitansi, kita berkaca dari sisi bisnis kita. Indonesia untuk outbond-nya US$5 billion per tahun. Inbond-nya itu US$11 billion per tahun. Dan, itu bukan nominal yang kecil. Nominal ini disisihkan sebagai sebuah market untuk kita dan kita akan terus tumbuh. Jadi, market-nya sangat potensial. Kedua, pengguna serta industrinya itu sangat open to innovation.

Apakah regulasi di Indonesia sudah cukup adaptif dan mendukung kehadiran bisnis remitansi?

Dari sisi regulasi, regulatornya Indonesia dan Southeast Asia itu mendorong perkembangan. Contohnya, baru-baru ini BI launching BI Fast, BI Fast itu mempermudah para pengguna untuk menghadirkan layanan yang instan, murah, lebih cepat, lebih murah dan sejalan dengan misi-nya Wise. Kalau kita bicara di Singapura ada DirectFast atau PayNow itu banyak inovasi di situ. Dari sisi swasta, Fintech itu bertumbuhan dengan sangat cepat dan lebih positif lagi itu Fintech-nya disambut lagi oleh customer. Jadi, customer ini sangat suka terhadap produk-produk inovatif yang memudahkan ide mereka.

Yang terakhir, customer Indonesia sangat menyukai digital safety, dan ini sangat sesuai dengan produk kita yang full digital. Ini semua aligned (selaras), kita melihat prospeknya sangat tinggi, customer-nya menyambut baik dan semua orang sudah ready for digital product. Makanya kita bisa enter to market. Kalau pertanyaannya ASEAN, sebetulnya sangat mirip. Kalau kita bicara negara Singapura, Filipina, Thailand, kalau kita lihat data remitansinya juga sangat besar. In general, Southeast Asia is also prospective market. Semuanya juga sangat menyambut baik innovation, orang-orangnya sangat menyukai produk yang inovatif makanya bukan cuma di Indonesia, di Southeast Asia sendiri, Wise invest cukup banyak, kita ingin membangun layanan-layanan kita di Southeast Asia.

(Bersambung ke Bagian II..)

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS