Home Pendidikan Memupuk Inklusivitas dan Cinta Ilmu dalam Olimpiade Antar Perguruan Tinggi Islam

Memupuk Inklusivitas dan Cinta Ilmu dalam Olimpiade Antar Perguruan Tinggi Islam

110

Banda Aceh, Gatra.com - Perhelatan Olimpiade Agama, Sains dan Riset (Oase) yang digelar di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sejak 23 Oktober hingga 28 November lalu akhirnya berakhir. 

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Ali Ramdhani resmi menutup acara tersebut. "OASE merupakan sebuah kompetisi yang luar biasa, bergensi dan inklusif," kata Ali saat pidato penutupan, Ahad (28/11) lalu.

Oase Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia ini menurut Ali, menjadi komitmen bersama untuk memberikan penguatan capacity building kepada mahasiswa, agar memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, menajamkan intelektualitas yang diwujudkan dalam pelbagai karya-karya ilmiah akademik, sebagai implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ajang bergengsi ini juga diharapkan dapat menguatkan jalinan solidaritas antar PTKI dan membangkitkan motivasi mahasiswa dan dosen, pengelola program studi dan pengelola perguruan tinggi lingkup PTKI.

Dimana, pengelola perguruan tinggi keagamaan Islam juga bisa menyiapkan pola pendidikan yang inovatif dan berdaya saing tinggi agar mampu bersaing tidak hanya pada tingkat lokal dan wilayah, tetapi juga tingkat nasional, dan bahkan internasional.

"Oase juga diharapkan mampu menumbuhkan iklim dan tradisi akademik di kalangan mahasiswa dan menjadi salah satu program strategis dalam rangka pembinaan generasi muda (mahasiswa) melalui stimulan untuk pengembangan daya nalar, kritis, kreativitas, inovatif," katanya.

Olimpiade yang diikuti mahasiswa dari perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia ini memang baru pertama kali digelar.

Mengusung tema 'Integrasi Agama Sains Untuk Kebangsaan dan Kemanusiaan' acara ini menurut Ali tepat untuk diagendakan, karena sesuai dengan kondisi bangsa, bahkan kondisi dunia hari ini.

"Di era seperti sekarang ini, kita dituntut untuk bisa bertahan hidup (survive). Kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan atau kepintaran semata, tetapi yang lebih penting adalah kita harus mampu merespons setiap kondisi yang dihadapi," katanya.

Ali juga meminta kepada para Rektor/Ketua PTKI untuk mendukung penuh kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Jika para mahasiswa itu pintar, cerdas dan berdaya saing yang akan menikmati dampaknya adalah PTKI itu sendiri.

Sebuah investasi sumber daya, yang tak ternilai harganya, sebagai pertanggungjawaban kampus di muka publik. Mahasiswa harus dipandang sebagai mitra pengembangan kampus.

Apalagi menghadapi era revolusi industry 4.0 dengan pemenuhan kebutuhan yang serba digital. Maka lahirnya mahasiswa yang kreatif dan inovatif menjadi keniscayaan.

Namun demikian, lanjut dia, perlu dilakukan penguatan nilai-nilai kebangsaan dan moderasi beragama. Tidak mudah namun bukan hal yang mustahil. "Semoga Oase melahirkan bibit-bibit unggul dan sang juara di dalam olah pikir di bidang agama, sains dan riset," katanya.

Sebagai informasi, dalam Oase 2021 yang diikuti 2.955 peserta dari 184 PTKI dan PTKIS se-Indonesia dengan 23 cabang lomba yang diperlombakan inihasil di Oase pertama ini juara umum disabet oleh tuan rumah UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kedua UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ketiga UIN Maulana Malik Ibrahim.

Perlombaan dilaksanakan dengan sistem blanded, yakni daring dan luring. Sistem daring dilaksanakan melalui zoom meeting dan sistem CBT (Computer Based Test atau Tes Berbasis Komputer).

Sedangkan sistem luring, khusus dilaksanakan bagi finalis dari 11 cabang lomba Karya Inovasi, dengan cara melakukan presentasi yaitu dengan membawa produk inovasi hasil karyanya ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Sebelas cabang karya inovasi yang dilombakan secara luring yakni Literasi dan Inovasi Teknologi, Nanoteknologi, Produk Halal dan Ketahanan Pangan, Iklim, Limbah, Lingkungan dan Sumberdaya Terbarukan.

Kemudian cabang Deteksi dan Mitigasi Bencana, Sosial Keagamaan, Media Pembelajaran, Astronomi Islam atau Ilmu Falak, Robotik dan Programming, dan Desain Arsitektur Islam.

Sementara itu, ada delapan bidang lomba yang digelar secara daring, yaitu Sains (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi), Karya Inovasi, Debat Ilmiah, Pemilihan Dai Mahasiswa, Business Plan, Qiratul Kutub, Fahmil Quran, dan Bidang Story Telling.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS