Home Lingkungan Persoalan Ekosida di Jakarta Versi Walhi

Persoalan Ekosida di Jakarta Versi Walhi

117

Jakarta, Gatra.com - Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi, mengungkapkan bahwa ekosida sedang terjadi di Jakarta. Ia mendefinisikan ekosida sebagai suatu tindakan terencana yang bertujuan untuk menghancurkan suatu eksistensi ekologi di suatu wilayah.

Tubagus memandang bahwa ekosida tersebut terjadi dalam bentuk alih fungsi ruang terbuka hijau kota menjadi kawasan komersil. Menurutnya, alih fungsi dan pembangunan infrastruktur yang mengiringinya berbuntut pada pencemaran lintas batas, yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab tidak sehatnya lingkungan ibu kota.

“Begitu pula yang terjadi di Jakarta. Kalau teman-teman lihat aglomerasi di Jakarta, itu juga akan berdampak serius terhadap beban emisi dan polusi di Jakarta. Bagaimana besarnya pencemaran lintas batas itu sangat meempengaruhi Jakarta,” ujar Tubagus dalam sebuah webinar yang digelar pada Selasa, (30/11/2021).

Hal tersebut sudah terjadi sekira dekade 80-an dan puncaknya, kata Tubagus, terjadi pada tahun 2006. Tedapat apa yang ia sebut sebagai krisis alih fungsi ruang terbuka hijau menjadi kawasan komersil, bisnis, pusat pemerintahan, ekonomi, dan politik.

Dalam beberapa tahun ke belakang, sejumlah penggusuran sempat terjadi. Ironisnya, kata Tubagus, penggusuran tersebut dilakukan untuk membuka ruang terbuka hijau. “Jadi publik itu dalam kasus itu dikambinghitamkan,” katanya.

“Terus kemudian warga Jakarta mau ke mana? Kalau kita lihat di sekitar Jakarta perluasan kota itu juga tanah itu dikuasai oleh business property. Dari sisi beban kita, pencemaran itu sudah multidimensional. Tanah kita, air kita, dan udara kita,” ucap Tubagus.

Tubagus menambahkan bahwa persoalan kerusakan lingkungan itu tak hanya terjadi di wilayah hilir, yaitu ibu kota, di mana wilayah perkotaan dibangun dan diperluas. Pembangunan di kota, katanya, juga berimbas pada situasi di daerah.

“Kita harus tahu bahwa pembangunan di kota, pembangunan infrastruktur, perluasan jalan, termasuk juga tol, itu ada sumber daya di luar Jakarta yang terus dikeruk. Semennya, tambangnya, hutannya,” ujar Tubagus.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS