Home Nasional Prediksi Bung Hatta Tentang Konflik Papua

Prediksi Bung Hatta Tentang Konflik Papua

670

Jakarta, Gatra.com – Pengamat politik, Rocky Gerung, membeberkan relevansi pikiran wakil presiden RI pertama, Mohammad Hatta, yang muncul di masa-masa awal kemerdekaan dengan kondisi kemanusiaan Papua di masa kini.

“Hatta udah deteksi dari awal bahwa Papua itu bukan bagian dari Indonesia,” ujar Rocky dalam sebuah webinar yang digelar oleh LP3ES pada Jumat, (3/12/2021).

“Bukan karena kita tak ingin Papua itu menjadi bagian dari NKRI, [tapi] karena Hatta mengerti bahwa Papua itu bukan bagian dari Melayu, dia bagian dari Melanesia. Jadi Hatta dari awal bisa melihat di masa depan Papua itu ini akan jadi problem, padahal itu 70 tahun lalu,” imbuh Rocky.

“Hatta mengerti bahwa kemampuan bangsa Indonesia untuk menghasilkan persatuan sering kali diandalkan pada ambisi, bukan pada kondisi, dan Hatta melihat dengan cermat bahwa Papua adalah entitas yang berbeda dan karena itu harus dihormati kalau Papua tidak perlu dimasukkan di dalam naskah kemerdekaan,” tandas Rocky.

Rocky menambahkan bahwa berbeda bukan berarti harus dibedakan, tetapi lebih ke diberi penghormatan. Pasalnya, katanya, Hatta melihat nasionalisme bangsa Papua berbeda dengan nasionalisme yang dipegang rakyat Indonesia.

Kemampuan sebuah negara untuk menghargai rakyatnya sendiri, kata Rocky, adalah harga pertama demokrasi. Itulah yang menurutnya yang bisa diambil dari pemikiran-pemikiran Hatta, terutama terkait dengan problematika Papua saat ini.

Soal mengapa Hatta mampu membaca masa depan Papua, kata Rocky, itu disebabkan karena wakil presiden kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, tersebut rajin berkontemplasi tentang kerumitan berbangsa dan bernegara serta ke arah mana bangsa ini akan melaju.

Sejak awal, imbuh Rocky, Hatta memang berpikir dengan metode ilmu pengetahuan. Bagi Hatta, ilmu bukanlah perihal keahlian teknis, tetapi keahlian etis, untuk diinvestasikan kepada manusia, bukan untuk diinvestasikan dengan metodologi yang kering.

“Ini yang menimbulkan apresiasi saya bahwa fasilitas berpikir Hatta itu lengkap. Dia tahu tentang kekerasan berpikir metodologis. Dia paham bagaimana intervensi ideologi bisa menyebabkan filsafat itu berkelahi dengan dirinya sendiri. Dia juga tahu bahwa fungsi dari discourse [wacana] itu adalah untuk menghasilkan sesuatu yang ethical, bukan hanya yang rasional,” tandas Rocky.

Rocky menyampaikan pemaparannya tersebut dalam rangka diskusi publik daring yang membahas tentang salah satu seri Karya Lengkap Bung Hatta yang bertajuk “Buku 7: Filosofi, Ilmu, dan Pengetahuan” yang dikarang dan diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 2020 lalu.


 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS