Home Ekonomi Inovasi Bioflok Peri Sakti Dongkrak Pendapatan Warga Kapar

Inovasi Bioflok Peri Sakti Dongkrak Pendapatan Warga Kapar

Jakarta, Gatra – Inovasi sistem bioflok yang diinisiasi oleh PEP Tanjung Field berhasil mendokngkrak sangat signifikan pendapatan anggota kelompok pembudidayaan perikanan di Desa Kapar, Murung Pudak, Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Pendapatan anggota kelompok pembudidayaan perikanan di Desa Kapar ikut meningkat signifikan melalui inovasi sistem bioflok yang diinisiasi oleh PEP Tanjung Field,” ujar Juhin, anggoa mitra binaan PEP Tanjung Field dalam keterangan pers pada Kamis (16/12).

Lebih lanjut Juhin dalam sharing session secara virtual bertajuk "Journey to Empowerment: Berbagi Nilai dan Cita-Cita Bersama Masyarakat di Wilayah Operasi Migas" pada hari ini, mengungkapkan, inovasi sistem bioflok hasil dari Pusat Pembudidayaan Perikanan Desa Kapar Inovatif (Peri Sakti) ini menekan biaya pakan.

Pria yang juga Ketua Kelompok Peri Sakti di Desa Kapar tersebut menyampaikan, Desa Kapar adalah area ring 1 dari perusahaan dari unit bisnis PT Pertamina Hulu Indonesia di Kabupaten Tabalong. Ia menjadi mitra binaan PEP Tajung Field dalam program Peri Sakti sejak setahun lalu.

“Awalnya saya memelihara ikan pakai kolam tanah pada 2019. Hasilnya kurang memuaskan,” ungkapnya menceritakan sebelum menjadi mitra binaan PEP Tajung Field.

Juhin mengungkapkan, anggota Kelompok Peri Sakti telah merasakan sejumlah keunggulan dari inovasi bioflok, mulai kemampuan mengelola limbah organik menjadi pupuk cair, pemberian pakan menjadi tujuh karung dalam satu periode panen atau lebih hemat 13 karung dibandingkan kolam tanah yang memerlukan 20 karung.

Berkurangnya jumlah pakan, ungkap Juhin, membuat biaya budidaya ikan Rp4 juta per kolam dalam sekali periode panen, jauh lebih rendah dibandingkan kolam tanah yang bisa Rp12 juta. Keunggulan inovasi bioflok lainnya adalah padat tebar benih 500 ekor per m3 dibandingkan menggunakan kolam tanah 100 ekor. Hasil panen pun mencapai 120 kg per periode per panen dibandingkan memakai kolam tanah yang mencapai 80 kg.

“Pendapatan juga naik menjadi Rp3 juta per periode panen dibandingkan kolam tanah Rp2 juta per periode,” ungkapnya.

Menurut Juhin, penggunaan kolam tanah untuk memelihara ikan banyak kendala. Salah satunya karena lokasi kolam yang berdekatan dengan lahan industri dan pertambangan sehingga kalau banjir limbahnya bisa masuk ke kolam.

Setelah bermitra dengan PEP Tanjung Field, yang merupakan unit bisnis PT Pertamina Hulu Indonesia pada 2020, Juhin bersama-sama rekan-rekannya pun membuat kelompok kerja. Kelompok itu diajarkan budidaya ikan dalam terpal bundar, dan tidak lagi menggunakan kolam tanah. Awalnya, dibuat dengan tiga kolam dengan sistem bioflok.

Keunikannya adalah pada floknya. Cara pembuatan bioflok bahannya sangat mudah, probiotik, molase, dedak, dicampur dalam air di kolam terpal, didiamkan selama 7-14 hari atau dikatakan fermentasi. Lalu diberikan benih ikan. Pada usia 7-8 bulan bisa panen.

Menurut Juhin, air limbah dari kolam ramah lingkungan, sehingga bisa untuk pupuk cair tanaman. “Bioflok Peri Sakti adalah yang pertama dan satu satunya yang berhasil di Tabalong,” katanya.

Kegiatan Peri Sakti adalah pengadaan unit bioflok, tabur benih, pelatihan penerapan bioflok, panen raya, pelatihan pembuatan probiotik, hingga pemasaran hasil panen. Saat ini, Kelompok Peri Sakti mengelola 9 kolam bioflok.

“Ke depan kami akan mengikuti pelatihan cara membuat pakan sendiri, dan mendaftarkan paten produk kami,” ujarnya.

Field Manager PEP Tanjung, Sigit Setiawan, mengatakan, Pertamina berkomitmen menjaga lingkungan wilayah operasinya, salah satunya dengan pengelolaan limbah.

Menurutnya, ini merupakan bentuk komitmen pihaknya dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Keberadaan Peri Sakti bisa mengelola usaha perikanan menjadi lebih baik, dan tidak perlu membuang limbah ikan karena bisa digunakan untuk pertanian sangat penting. “Upaya ini bukan tanpa hambatan. Dengan kolaborasi kelompok lahir inovasi usaha online dan marinasi ikan,” katanya.

Menurut Sigit, program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan PEP Tanjung Field tentunya tidak berhenti. Salah satunya dengan meminta dinas terkait untuk memantau perkembangan Peri Sakti. Selain itu, program Peri Sakti juga akan direplikasi Lapas Tabalong.

“Pada 2022 rencananya akan direplikasi di lapas. Serta di tiga provinsi, Kalsel, Kalteng, dan Kaltim. Diharapkan demand pasar mudah di dapat, dan kawan kawan replikasi mudah mempelajarinya,” katanya.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tabalong, H Muhammad Mugeni, memberikan apresiasi kepada PEP Tanjung Field yang menjalankan program TJSL di bidang perikanan yang mengembangkan inovasi budidaya ikan sistem bioflok.

“Kami berharap Pertamina terus mendukung pemberdayaan masyarakat dalam bidang perikanan dan bidang lain. Diharapkan ini bisa menjadi momentum pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya setelah pandemi,” kata Mugeni.

Sementara itu, Camat Murung Pudak, Rahmatullah Hutabana, berharap kegiatan ini bisa terus dilanjutkan di wilayah lain dan perusahaan tetap komitmen dalam pengembangan masyarakat. “Saat ini masa pandemi, kegiatan seperti ini bisa bantu perekonomian.

242

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR