Home Info Sawit Bangsa Tanahmu Apa?

Bangsa Tanahmu Apa?

Jakarta, Gatra.com - Di satu sisi, petani sudah pas ketika memilih Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi lokasi budidaya kelapa sawit.

Sebab di dua pulau ini curah hujannya tinggi, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh tanaman kelapa sawit yang membutuhkan minimal 2500 mm/tahun.

Keinginan ini pun musti ditambah dengan keadaan bahwa dalam setahun, musim kering yang terjadi, maksimal hanya tiga bulan.

Hanya saja persoalan yang kemudian muncul adalah, daerah curah hujan tinggi ini justru membikin proses leaching (pencucian tanah) menjadi intensif.

Alhasil, unsur hara yang dikandung tanah lebih cepat habis --- yang tersisa hanya pH asam --- lantaran kationnya mudah tercuci.

Itulah makanya tanah-tanah di daerah seperti ini boleh dibilang kurang subur. Sebab kebetulan, bahan induk (bahan pembentuk tanahnya) dari batuan sedimen --- batuan yang terbentuk dari pengendapan --- yang asalnya tidak subur.

Nah, sudahlah bahan induk miskin hara, ditambah curah hujan tinggi, terbentuklah tanah yang kurang subur tadi.

"Memang, kelapa sawit mampu beradaptasi pada tanah yang normal hingga miskin unsur hara nya. Yang penting curah hujannya tinggi. Tapi kalau tidak ada perlakuan yang baik, kondisi ini akan berdampak pada produksi," ujar Peneliti Muda Badan Penelitian Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian, Nurjaya, saat berbincang dengan Gatra.com, kemarin.

Pada tanah yang normal --- unsur hara nya mencukupi --- kata lelaki 60 tahun ini, puncak produksi kelapa sawit akan berada di umur 12-14 tahun.

"Nah di tanah bermasalah --- unsur hara nya miskin --- sawit juga bisa mencapai puncak produksi di umur segitu. Hanya saja, hasilnya enggak sebanding dengan tanaman sawit di tanah normal. Sudahlah begitu, umur tanaman pun pendek dibanding di tanah normal," terangnya.

Sebetulnya kata Nurjaya, tidak sulit untuk menormalkan unsur hara tanah di daerah bercurah hujan tinggi itu.

Apalagi hasil penelitian kesesuaian tanah untuk kelapa sawit sebenarnya sudah ada di Balai Besar Penelitian Tanah.

Yang penting petani kenal dulu ordo tanah yang dipakai untuk budidaya. "Secara garis besar, ada tiga ordo tanah --- Entisol, Inceptisol dan Oxisols --- yang dipakai untuk budidaya kelapa sawit meski yang dikenal di Indonesia, ada 12 ordo tanah.

"Dari sisi genesis pembentukan, tanah kelihatan benda mati, tapi secara kimiawi dia berproses. itulah makanya ada tanah muda, tanah berkembang, berkembang lanjut dan tanah tua," Nurjaya kembali mengurai.

Entisol misalnya. Tanah semacam ini dikenal sebagai tanah muda lantaran solumnya masih dangkal dan hanya terdiri dari horizon A, C dan R, sehingga tanah semacam ini termasuk tanah belum berkembang.

Kalau Inceptisol, justru tanah yang sudah berkembang dan bersolum dalam. Horizonnya pun sudah lengkap; A,B, C dan R.

Sementara Oxisols, dia mempunyai horison penciri oksik atau kandik, kandungan liat nya tinggi. Tapi sayang, liat ini enggak aktif, makanya KTK Kapasitas Tukar Ion (KTK) nya rendah.

Kalau ordo tanah ini sudah diketahui, untuk mendapatkan tabungan unsur hara nya sudah lebih gampang.

Apalagi sekarang perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan Smart Soil Sensor Kit sudah ada. Dalam 15 menit, petani sudah bisa tahu kadar hara tanahnya berapa.

"Paham curah hujan, bahan induk dan kelerengan tanah, maka ketemulah apa persoalan tanahnya. Hanya saja selama ini, jangankan petani, sekelas perusahaan saja enggak paham soal yang beginian. Ada juga perusahaan yang sudah paham, tapi giliran di pengaplikasian susah, terbentur biaya," terangnya.

Intinya kata Nurjaya, ketika petani paham dengan ordo dan bahan induk tanah, dia akan tahu berapa unsur hara yang tersedia. Dengan begitu, akan bisa didapatkan takaran yang pas untuk penyediaan pupuknya.

"Soal teknis berapa kebutuhan satu ton Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kan sudah ada, tapi ketersediaan hara, gimana?" dia bertanya.

Unsur hara pokok di tanah itu kata Nurjaya adalah Pospat, Kalium dan Natrium. Sumber P enggak lagi SP36 atau TSP, tapi harus P alam.

"Dulu Indonesia masih punya P alam yang bagus di Ciamis Jawa Barat. Kadarnya mencapai 27. Sekarang sudah habis. Kalaupun ada di Indonesia paling berkadar 11. itulah makanya pabrik pupuk mengimpor P alam dari Maroko maupun Cristmas Island," katanya.

Yang jelas kata Nurjaya, ketika petani mapun perusahaan paham dengan ordo dan bahan induk tanahnya, maka proses pemupukan akan bagus dan pada akhirnya, produksi kelapa sawit pun akan meningkat.

Hanya saja itu tadi, boro-boro paham, teknis pemupukan saja sampai sekarang masih salah. "Di daerah bercurah hujan tinggi, menabur pupuk di piringan akan berpotensi tinggi kehilangan hara. Yang terbaik itu adalah dengan menugal --- membuat lobang di sekitar pohon --- dan kemudian ditaruh pupuk. Kalau polanya seperti itu, potensi kehilangan hara nya menjadi kecil," ujarnya.