Home Regional Pencarian Korban Semeru Dihentikan, Fokus Berganti ke Rehabilitasi-Rekonstruksi

Pencarian Korban Semeru Dihentikan, Fokus Berganti ke Rehabilitasi-Rekonstruksi

Jakarta, Gatra.com– Penjabat Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa proses evakuasi bencana erupsi Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur saat ini sedang berganti fokus dari pencarian jenazah korban menjadi fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Mulai dari hari kesembilan ini tim di lapangan tidak lagi menemukan tambahan jasad korban yang ditemukan di lokasi kejadian sehingga per kemarin dari Basarnas sudah menetapkan penghentian pencarian korban secara official, tetapi untuk upaya pencarian itu sendiri itu tidak dihentikan,” kata Abdul dalam konferensi pers daring yang digelar pada Jumat, (17/12/2021).

“Jadi, [saat ini sedang] berjalan menuju fase awal rehab-rekon. Akan ada kegiatan pemulihan alur sungai. Ini juga berbarengan dengan pencarian korban yang belum ditemukan,” imbuh Abdul.

Hingga per 16 Desember 2021 kemarin, total jumlah korban jiwa yang ditemukan meninggal adalah sejumlah 48 orang. Jumlah tersebut tak bertambah sejak 13 Desember 2021. Sementara jumlah korban luka-luka adalah 27 orang.

Walau begitu, kata Abdul, ada penambahan dari sisi jumlah warga yang terdampak dan mengungsi. Data BNPB per hari kemarin mencatat sudah ada sebanyak 10.571 pengungsi yang tersebar di sebanyak 203 titik pengungsian.

“Ini yang menjadi fokus perhatian kita saat ini dan ke depan kita harapkan bahwa masyarakat terdampak di pengungsian tidak terlalu lama di tempat pengungsian. Jadi proses saat ini mulai bergeser dari fokus pencarian korban ke fase awal pemulihan di mana pemetaan dan pembersihan lahan sudah mulai dilakukan dan akan dimatangkan sehingga proses pembangunan hunian sementara bisa berjalan dengan efektif,” kata Abdul.

Akan tetapi, fase baru tersebut dikhawatirkan kembali terganggu lantaran per tanggal 16 Desember kemarin, Badan Geologi menyampaikan bahwa status aktivitas Gunung Semeru naik dari level 2 (waspada) menjadi level 3 (siaga).

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Andiani, mengungkapkan bahwa dengan naiknya level aktivitas Semeru itu, terdapat dua kondisi yang harus diperhatikan.

Pertama, kata Andiani, masih ada potensi terjadi awan panas guguran (APG) dan gempa-gempa permukaan. “Jadi pada dua hari sebelumnya menunjukkan ada awan panas guguran meluncur hingga 3-3,5 kilometer. Hari kemarin awan panas guguran kejadian hingga 3-4,5 kilometer,” katanya.

Kedua, terkait gempa vulkanik, Andiani menyebut bahwa setidaknya hingga hari ini, Gunung Semeru belum menunjukkan adanya gempa vulkanik. Kalau pun ada, katanya, gempa tersebut tak signifikan.

“Tentunya kami tetap mewaspadai mengingat aliran lava itu sudah mencapai 2 kilometer dari puncak gunung dan lidah lava ini merupakan material yang sangat tidak stabil sehingga dia akan mudah longsor ke bawah,” kata Andiani.

Dengan situasi terkini bencana Semeru yang masih belum sepenuhnya pulih tersebut, ditambah juga dengan kenaikan level aktivitas gunung api, Abdul menyarankan beberapa hal kepada masyarakat sekitar untuk meminimalisir bertambahnya korban.

Pertama, Abdul meminta warga untuk tidak melakukan antivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.

Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi luasan awan panas dan aliran lahar bisa mencapai hingga 17 km dari puncak.

Abdul juga meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas pada radius 5 km dari puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap lontaran batu pijar.

Terakhir, Abdul meminta warga untuk mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar, di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

 

230