Home Kesehatan Buzzer dalam Pusaran Serangan Terhadap Galon

Buzzer dalam Pusaran Serangan Terhadap Galon

Jakarta, Gatra.com - Dalam dua hari terakhir, akun akun pseudoname @NinjaCir3ng @PRADA_IPB @Si_Bigau @negativisme secara serentak menaikkan thread tentang isu BPA pada kemasan galon polikarbonat. Padahal akun-akun sosmed ini sebelumnya tidak pernah membahas isu air kemasan maupun kesehatan, namun tiba-tiba serentak mengangkat narasi kampanye negatif terhadap isu BPA pada galon polikarbonat.

Menurut Astari Yanuarti, Co-founder REDAXI (Indonesian Antihoax Education Volunteers), kemungkinan akun-akun tersebut digerakkan sangat terbuka, dan patut diduga ada motif komersial di baliknya. Menurutnya, secara umum, salah satu karakter penyebaran hoaks adalah daur ulang isu yang serupa. Artinya, hoaks yang sudah disebarkan dalam periode tertentu, akan disebarkan lagi di masa mendatang, meskipun sudah ada klarifikasi terhadap hoaks tersebut. 

Pola ini juga terjadi pada hoaks terkait bahaya BPA pada balita, ibu hamil, dan menyusui. Hoaks yang sudah tersebar sejak beberapa tahun lalu dan sudah diklarifikasi oleh berbagai pihak yang berwenang seperti Badan POM dan para dokter, namun sampai hari ini masih diedarkan oleh berbagai pihak di media sosial. Bahkan hoaks ini masih dipercaya oleh sebagian pihak sehingga tidak heran jika sampai hari ini masih beredar," ujar Astari Yanuarti, Ahad (2/1).

Dia mengungkapkan penyebaran hoaks  tidak hanya dilakukan oleh buzzer, tapi semua orang bisa menjadi penyebar hoaks secara sadar maupun tidak. Katanya, motif penyebar hoaks pun beraneka rupa, ada yang karena uang, ideologi, kesehatan, kepedulian, politik, dan emosional. 

"Terkait dengan masalah bahaya BPA dalam kemasan produk makanan dan minuman yang melibatkan penyebaran berulang  hoaks yang sama selama beberapa tahun terakhir, saya menilai berbau kepentingan bisnis, bertameng kepedulian pada masalah kesehatan. Sehingga beberapa kali terjadi perang tagar di media sosial terkait dengan isu ini," tukasnya. 

Dikatakannya, hoaks akan selalu ada di media sosial. Keberadaan lembaga-lembaga cek fakta memang membantu publik untuk mengetahui apakah informasi yang mereka terima itu benar atau salah. Namun, tidak akan bisa menghentikan peredarannya, sebab jumlah penyebaran hoaks jauh lebih tinggi daripada klarifikasinya. 

Karena itu, yang paling penting adalah melatih daya kritis pengguna media sosial, sehingga mereka tidak mudah percaya dengan semua info yang beredar di media sosial, serta mencari bahan pembanding lain agar memahami keseluruhan fakta. Bila pengguna media sosial belum memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, maka mereka bisa dibiasakan untuk tidak mudah menekan tombol berbagi pada info-info tersebut, ujarnya. 

Dia juga memprediksi perang tagar soal BPA pada galon air minum masih akan berulang di tahun ini, termasuk hoaks-hoaksnya.

Di sisi lain, ASPADIN berulang kali menyatakan bahwa ada kampanye negatif terhadap kemasan polikarbonat. Padahal selama ini anggota ASPADIN menggunakan beragam kemasan yang diperbolehkan oleh peraturan perundangan di Indonesia termasuk kemasan polikarbonat.

"Dalam dua tahun belakangan, muncul narasi yang menyudutkan salah satu jenis kemasan, padahal semua kemasan memiliki resiko masing masing. Itulah kenapa kami keberatan dengan kebijakan yang diskriminatif terhadap satu jenis kemasan atau produk saja," ucap Ketua ASPADIN, Rachmat Hidayat.

Seperti terlihat, serangan negatif di sosial media bahkan secara terang terangan menyerang merk Aqua, pionir industri air kemasan di Indonesia. Namun, Aqua tidak menanggapi serangan serangan itu di sosial media, karena percaya bahwa netizen bisa membedakan konten organik dan konten bayaran.

Sebelumnya, ada narasi yang mengaitkan BPA dengan autisme, hal yang secara tegas dibantah oleh dokter spesialis anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Anak, dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH yang menegaskan bahwa tidak pernah ada anak menjadi autis karena mengkonsumsi air galon guna ulang. 

3739