Home Apa Siapa Liwa Supriyanti dan Ekonomi Silkular Industri Baja

Liwa Supriyanti dan Ekonomi Silkular Industri Baja

266

Jakarta, Gatra.com - Liwa Supriyanti seorang pengusaha yang juga merupakan direksi PT Gunung Prisma – perusahaan baja yang menjadi mitra dan pemasok proyek di berbagai wilayah Indonesia ini berpandangan, bahwa kehidupan masyarakat dunia saat ini berjalan cepat perubahannya dibanding puluhan dekade sebelumnya.

Hal ini, kata Liwa berkat adanya komunikasi dan interaksi yang semakin mudah serta praktis. “Tetapi pada saat yang sama memerlukan pemikiran kembali dalam tatanan kehidupan seperti perlu adanya ekonomi sirkular,” kata Liwa kepada Gatra.com, Jumat (14/01).

Liwa melihat relevansi kondisi saat ini dan ke depan untuk industri baja. Baginya, industri baja merupakan salah satu pilar dalam berbagai pembangunan infrastruktur, untuk masa depan berkesinambungan yang berada dalam ekonomi sirkular.

Maksudnya, limbah yang ada diupayakan nihil, bahan baku yang dibutuhkan seminimal mungkin dan mendorong semakin meningkatnya penggunaan kembali serta mendaur ulang semua material tersebut.

Liwa Supriyanti, yang telah berkecimpung dalam manajemen bisnis baja selama 20 tahun ini menuturkan, saat ini merupakan momentum untuk memikirkan kembali siklus antara lain besarnya energi yang diperlukan dari produksi, distribusi sampai siap dipakai dalam konstruksi hingga pada beban terhadap lingkungan.

“Dalam Bahasa Inggris mungkin sudah sering mendengar istilah life cycle of product, sementara dalam Bahasa Indonesia barangkali lebih mudah untuk memahami pendekatan ekonomi sirkular ini dengan menggunakan istilah ‘masa pakai produk’,” kata Liwa menuturkan.

Dituturkan Liwa, menurut World Steel Association (WSA), baja 100% bisa didaur ulang lagi dan lagi, dengan closed-mateial loop. Baja daur ulang itu tetap memiliki unsur-unsur yang sudah ada di dalamnya dari sejak awalnya.

Bergeser dari model bisnis linier, yang memandang produk mulai dari bahan mentah untuk produksi sampai akhirnya dibuang pada akhir masa pakainya, maka model ekonomi sirkular juga memikirkan strategi dan desain bagaimana produk itu bisa diperbaiki, digunakan kembali, dikembalikan dan didaur ulang oleh produsennya.

Masih dikutip dari WSA, dengan investasi, riset dan perencanaan yang baik, produsen baja dalam rentang 50 tahun ini telah mengurangi secara drastis jumlah bahan mentah dan energi yang dibutuhkan, turun sebesar 60% dalam konsumsi energi per ton, untuk menghasilkan baja. Sehingga, dimungkinkannya penggunaan baja pada turbin angin, konstruksi panel dan otomotif, dengan kekuatan dan fungsionalitas yang sama.

Baja juga termasuk material yang paling banyak didaur ulang di dunia. Lebih dari 650 Mt baja yang didaur ulang setiap tahun termasuk besi tua (scrap) pra- dan paskapemakaian.

World Steel Association sendiri memperkenalkan pendekatan metodologi Life Cycle Assessment (LCA) dan termasuk didalamnya database Life Cycle Inventory (LCI). LCA menjadi alat yang bisa dipakai untuk mengukur dampak lingkungan atau kinerja produk pada setiap tahapnya dan bisa menjadi pembanding dengan produk dan jasa lain dengan fungsionalitas yang sama.

Sementara database LCI merupakan kumpulan data yang mencakup bahan mentah dan fase produksi. Didalamnya ada input dan output seperti penggunaan sumber daya (bahan baku, energi, air) dan emisi terhadap tanah, udara dan air dari setiap proses dalam fabrikasi. Baja merupakan bahan bangunan dan konstruksi yang memiliki daya tahan dengan rentang waktu 40 sampai 100 tahun dan bisa lebih panjang jika pemeliharaan rutin dilaksanakan sesuai standar.

Sydney Harbour Bridge kata Liwa mencontohkan, hingga kini masih menampung beban lalu lintas kendaraan dan kereta sejak dibuka pada 1932, dengan total baja sebanyak 53.000 ton, yang bisa didaur ulang kapan saja. “Di Indonesia sendiri juga masih dijumpai jembatan dan jalur kereta yang masih eksis sejak dibangun pada abad yang lalu,” kata Liwa.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS