Home Kolom Kolaborasi Apik Ilmuwan-Masyarakat Tangani Banjir

Kolaborasi Apik Ilmuwan-Masyarakat Tangani Banjir

26

Belajar dari Indonesia: Kolaborasi Ilmuwan-Masyarakat Menangani Banjir

Erich Wolff & Diego Ramirez-Lovering*

 

Banjir dan badai adalah jenis bencana paling umum yang memengaruhi kota-kota di Indonesia, menurut laporan PBB”.

------------

 

Jutaan orang di Indonesia, kepulauan dataran rendah yang luas di Asia Tenggara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, tinggal di daerah sungai dan pesisir yang rawan banjir. Banjir dan badai adalah jenis bencana paling umum yang memengaruhi kota-kota di Indonesia, menurut laporan PBB.

Upaya untuk mengelola bencana ini sangat bergantung pada investasi di tembok dan kanal banjir. Langkah ini tampaknya tidak cukup, karena bencana terus berlanjut setiap tahun, merugikan ekonomi.

Penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan masyarakat dapat berkontribusi untuk menemukan solusi dengan membantu para ilmuwan memahami dampak banjir.

Citizen science adalah cara bagi komunitas untuk berkolaborasi dengan peneliti. Pendekatan ini telah mendapatkan daya tarik di bidang-bidang seperti ekologi, perencanaan lingkungan dan hidrologi.

Terlibat dengan Komunitas

Setelah meninjau 40 publikasi dari lima tahun terakhir, kami menemukan bahwa para ilmuwan semakin tertarik untuk melibatkan masyarakat dalam studi banjir.

Di Australia, misalnya, para ilmuwan menganalisis foto yang diposting di media sosial selama banjir Queensland 2010 untuk memetakan ketinggian air. Demikian pula, para ilmuwan di Argentina menggunakan pengukuran komunitas dari banjir Buenos Aires 2014 untuk memodelkan hidrologi lokal.

Namun, sebagian besar proyek ini hanya melibatkan warga sebagai pengumpul data. Mereka menawarkan kesempatan terbatas bagi para ilmuwan untuk bekerja sama dengan, dan belajar dari, masyarakat.

Beberapa contoh menunjukkan masyarakat dapat berpartisipasi lebih langsung sebagai penafsir dan pemangku kepentingan pusat dalam proses memahami, mengelola, dan merespons banjir.

Di Indonesia, misalnya, proyek PetaBencana adalah aplikasi telepon yang memungkinkan warga untuk berkontribusi dalam studi banjir dengan berbagi informasi tentang ketinggian air. Informasi ini tersedia untuk pengguna lain dan dapat menginformasikan layanan darurat dan kegiatan pemerintah.

Contoh ini menunjukkan bahwa penerapan ilmu warga untuk mempelajari banjir, di luar pengumpulan data, dapat membantu komunikasi risiko dan melibatkan komunitas ini dalam diskusi teknis.

Belajar dari Makassar

Di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, kami bermitra dengan anggota masyarakat untuk mengumpulkan foto-foto banjir selama dua tahun terakhir.

Proyek sains warga ini dikembangkan sebagai bagian dari program Revitalisasi Permukiman Informal dan Lingkungan (RISE). Program ini menguji sistem infrastruktur inovatif di 12 pemukiman di Makassar dan 12 pemukiman di Fiji.

Para desainer di RISE segera menyadari bahwa memahami banjir di lokasi tertentu sangat penting untuk memastikan infrastruktur akan bekerja dengan baik.

Bermitra dengan relawan dari enam permukiman di Makassar, RISE telah mendokumentasikan banjir sepanjang musim hujan 2018, 2019 dan 2020.

Sejauh ini, telah menerima lebih dari 2.800 foto dari komunitas lokal di Makassar. Gambar-gambar tersebut memungkinkan para ilmuwan untuk lebih memahami banjir, dan merancang infrastruktur yang lebih tangguh.

Pengalaman RISE dan inisiatif sains warga lainnya menunjukkan bahwa proyek semacam ini dapat secara positif mengubah hubungan antara ilmuwan dan masyarakat.

Selain mendukung pengumpulan data sains warga, peneliti dimungkinkan untuk bekerja lebih dengan masyarakat sambil menciptakan peluang bagi sains untuk terhubung dengan pengetahuan lokal dan strategi adaptasi.

Penting untuk digarisbawahi bahwa masyarakat tidak harus bertanggung jawab untuk mengelola banjir sendirian. Ilmu warga bukan pengganti tetapi pelengkap kebijakan berbasis bukti dan perencanaan infrastruktur.

Kearifan Lokal

Di pinggiran kota-kota terbesar di Indonesia, penduduk kampung dan permukiman informal yang dekat dengan kanal dan sungai mengandalkan kearifan lokal untuk hidup berdampingan dengan banjir.

Penelitian kami menunjukkan penduduk kampung di Makassar sering bekerja dengan tetangga untuk melindungi aset berharga atau untuk mengevakuasi orang tua dan anak-anak.

Mereka juga telah mengembangkan strategi penting untuk melindungi rumah mereka, seperti menggunakan karung pasir dan membangun panggung.

Bagaimana para Ilmuwan Belajar dari Mereka?

Akses ke internet dan media sosial telah menunjukkan bahwa orang dapat mengumpulkan informasi tentang banjir, tetapi contoh dari program RISE menunjukkan bagaimana hal ini dapat dilakukan dengan menghubungkan ilmuwan dan komunitas lokal.

Efek jangka panjang dari proyek ini masih dipelajari, tetapi para peserta telah memberi tahu kami bahwa proyek sains warga RISE membantu mereka lebih memahami banjir di lingkungan mereka. Selain itu juga menjadi wadah bagi mereka untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Sementara, kami masih mempelajari bagaimana para ilmuwan dapat bekerja dengan masyarakat, pelajaran dari program RISE menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan masyarakat dapat menjadi sekutu yang kuat dalam membangun ketahanan dan mendukung pengetahuan dan agensi lokal di kota-kota di Indonesia.

*Erich Wolff saat ini sedang mengembangkan studi doktoral di program RISE, dan menerima beasiswa dari Monash University. Diego Ramirez-Lovering adalah Profesor Arsitektur di Monash University, dan bagian dari tim eksekutif untuk Program RISE.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS