Home Kebencanaan Minta Maaf ke Keluarga bukan Sambut Ramadan, Tetapi Sebuah Pesan Maut

Minta Maaf ke Keluarga bukan Sambut Ramadan, Tetapi Sebuah Pesan Maut

Sragen, Gatra.com- Maaf-maafan menjelang Ramadan lazim dilakukan. Namun tidak dengan secarik kertas permintaan maaf di kebun jati ini. Surat itu merupakan permintaan maaf sebelum menyongsong kematian. Gantung diri. Adalah Joko Wiyono, 38 tahun, warga Kwangen Gemolong Sragen, Jateng, kedapatan gantung diri pada, Rabu (30/3) pukul 05.15 WIB.

Pada secarik kertas yang ditemukan di kebun jati wilayah Dukuh Sambirejo Desa Soko Kecamatan Miri itu tertulis:  Maaf istri dan anakku, Maaf sedulur kabeh, Maaf kedua mertuaku. Selain tertulis pesan kematian berupa permintaan maaf, juga tertera alamat.

Tubuh tak bernyawa korban ditemukan kali pertama oleh seorang petani bernama Yulianto. Ia mendapati korban menggantung di tengah kebun. Ia pun langsung melapor ke warga setempat kemudian diteruskan ke Polsek Miri.

"Korban menggantung dengan tali sepanjang 80 centimeter yang ditambatkan di pohon. Dari lokasi kejadian kami amankan barang bukti tali yang digunakan untuk menggantung, sepasang sandal dan topi yang dikenakan korban. Ada juga secarik kertas," papar Kapolsek Miri, AKP Suyono.

Tak lama berselang, tim Polsek bersama Inafis dan Puskesmas tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi korban dan olah TKP.

Dari hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan di tubuh korban. Ia memastikan korban meninggal karena gantung diri.

"Ada bekas jeratan di leher dengan kedalaman 1 cm. Keluarga sudah menerima sebagai musibah dan tidak menghendaki dilakukan otopsi. Sehingga jenazah korban diserahkan untuk dimakamkan," tandasnya.

Perihal penyebab gantung diri, Suyono menyebut korban diduga depresi. Ia memiliki masalah keluarga dengan sang istri yang tinggal di Tangerang. Selama ini korban bekerja di Tangerang dan baru dua hari pulang ke Sragen atau sepekan sebelum Ramadan.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS