Home Apa Siapa Kisah Edwin Soeryadjaya dan Prinsip Tabur Tuai

Kisah Edwin Soeryadjaya dan Prinsip Tabur Tuai

323

Jakarta, Gatra com- Bagi sebagian besar pebisnis, nama Edwin Soeryadjaya mungkin sudah tak asing lagi. Sang ayah, William Soeryadjaya adalah pemilik Astra dan juga Bank Summa.

Kini, Edwin berkibar lewat perusahaan yang didirikannya bersama Sandiaga Uno yaitu PT Saratoga Investama Sedaya. Namun siapa sangka kalau ia pernah mengalami masa-masa sulit, ketika sang ayah menjual semua saham di Astra untuk membayar utang Bank Summa yang dilikuidasi.

Ketika itu, Edwin sempat kesulitan untuk memberi nafkah keluarganya. Secara perlahan, ia bangkit dari keterpurukan berkat prinsip tabur tuai. “Anda tahu tabur tuai?," katanya bertanya saat diwawancara Co-Founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra, dalam rangkaian event IDE Katadata 2022 di sesi Unlocking Opportunities in The New Future, Selasa (5/4).

Jadi, cerita Edwin, kedua orangtuanya adalah pemurah hati, banyak menabur di mana-mana, gereja, masjid dan juga anak yatim piatu. "Mereka banyak membantu tanpa imbalan. Mungkin karena itu hasil dari taburan orangtua saya, saya yang menuai,” katanya.

Edwin mengatakan, usai menjual Astra dia sempat membuka dua tiga usaha dan gagal. Hingga akhirnya dia mendapat kesempatan untuk ikut tender Kerja Sama Operasi PT Telkom.

Beruntung, ketika masih di Astra, Edwin sempat mengurusi bagian telekomunikasi. Dia pun memberanikan diri untuk mengikuti tender tersebut. Ternyata, ada 50 perusahaan yang ikut tender dan hanya dipilih lima pemenang.

“Ketika itu saya mencari pinjaman Rp 15 juta untuk mengikuti tender tersebut. Saya tahu tender ini berat bahkan Pak Teddy Rachmat sempat meminta saya untuk mundur karena banyak saingan. Dia juga mengatakan bahwa saya bukan lagi pemilik Astra sehingga akan sulit untuk menang tender. Tapi saya memutuskan untuk tetap mencoba,” kata Edwin.

Ternyata, perusahaan miliknya menjadi satu dari lima pemenang tender KSO tersebut. Itu menjadi awal kebangkitan bisnis Edwin Soeryadjaya. Karena, tender itu bernilai US$1 miliar dan mulai jalan pada 1997.

“Saya tidak tahu kenapa ketika itu ada 40 bank yang bersedia memberikan kredit kepada saya untuk menjalani proyek itu. Lalu saya berpikir mungkin ini karena nama baik ayah saya yang sering membantu orang lain sehingga saya yang merasakan dampaknya. Kita hanya berusaha tapi Tuhan juga yang menentukan,” ungkap Edwin.

Ketika sejumlah negara di Asia termasuk Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1998, Edwin justru membeli perusahaan Astra Microtronic berkongsi dengan Sandiaga Uno lewat perusahaan Saratoga Capital.

Setelah itu, Edwin membeli saham perusahaan batubara Adaro. Namun, proses membeli Adaro bukan hal yang mudah.

“Ketika itu, adik saya tidak memberikan approval untuk memakai nama perusahaan keluarga MPM yang juga berkongsi dengan sejumlah eksekutif Astra untuk mengajukan kredit. Akhirnya saya mengajak Benny Subianto untuk membeli saham Adaro,” kata Edwin.

Kini, Edwin menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Adaro Energy Tbk. Saat ini, Edwin sudah menjajaki kerjasama dengan supplier baterai terbesar di Cina yang menyuplai Tesla. Rencananya, baterai tersebut akan dibuat di Indonesia.

“Terobosan-terobosan seperti ini akan mengangkat citra Indonesia, bukan hanya ekspor barang mentah tapi ada nilai tambah,” pungkas Edwin.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS