Home Ekonomi Exit Strategy Terbaik di Kawasan, Indonesia Bersiap Hadapi Risiko Geopolitik

Exit Strategy Terbaik di Kawasan, Indonesia Bersiap Hadapi Risiko Geopolitik

Jakarta, Gatra com- Sejak awal pandemi melanda Indonesia dua tahun lalu, pemerintah bersama regulator sektor keuangan telah bekerja sama menangani dampak dari merebaknya Covid-19 hingga menjadi krisis ekonomi. Otoritas fiskal, otoritas moneter, dan pengawas sektor keuangan telah banyak mengeluarkan kebijakan penanganan dampak pandemi.

Pemerintah telah mengambil keputusan memperbesar defisit anggaran dengan lewat Undang-undang. Bank Indonesia juga telah melakukan banyak langkah kebijakan terkait dengan pelonggaran kebijakan moneter, burden sharing pembiayaan APBN, terkait pembiayaan penanganan pandemi Covid-19.

Otoritas Jasa Keuangan juga telah menerbitkan berbagai relaksasi kebijakan. “Alhamdulilah ini semua bisa diterima dengan baik oleh dunia internasional, oleh financial market, papar Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia ( LPPI ), Mirza Adityaswara dalam Virtual Seminar LPPI ke-72, Kamis (7/4).

Kini sedikit demi sedikit situasi ekonomi mengalami perbaikan secara gradual dan cukup solid, mengalami pemulihan ekonomi baik di sektor ril maupun sektor keuangan. Maka dari itu, saat ini baik otoritas fiskal dan moneter di seluruh dunia mulai menyiapkan exit strategy pasca pandemi ini.

“Bagaimana dari sisi kebijakan fiskal, bagaimana kita kembali ke defisit di bawah 3 persen. Bagaimana dengan exit strategi di BI, menyesuaikan dengan apa yang terjadi di Internasional, The Federal Reserve telah menaikan suku bunga, BI sudah mengumumkan peningkatan sedikit demi sedikit tentang Giro Wajib Minimum. Juga bagaiamana exit strategy dari OJK terkait dengan relaksasi di sektor perbankan seperti pencadangan dan kredit restrukturisasi, dan sebagaimnya," jelas Mirza.

Kepala Badan Kebijakan FIskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menambahkan, Indonesia saat ini merupakan salah satu negara yang relatif sangat baik dalam mengelola pandemi. Dia mengungkapkan, di 2020, kontraksi perekonomian Indonesia hanya 2,1 persen, di tengah-tengah banyak negara mayoritas kontraksi ekonominya minus double digit, bakkan ada yang minus 15 hingga minus 20 persen.

“Kita belajar banyak dari tahun 2020 dan 2021, dan kalau dibandingkan dengan negara kawasan, kebetulan hari ini saya ada meeting dengan negara-negara ASEAN, Indonesia adalah negara yang paling berhasil mengelola pandemi. Baik dari sisi keuangan negara, perekonomian, hingga dalam melindungi masyarakatnya," jelasnya.

Memasuki tahun 2021, tantangannya memang lebih berat dari sebelumnya. Perekonomian kita di 2021 memang mengalami pemulihan dengan kuat. Namun di akhir kuartal I 2021 Indonesia kembali mengalami lonjakan kasus covid-19.

“Perekonomian kita waktu itu minus 0,7. Kemudian kita berhasil rebound yang sangat kuat dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua 7,1 persen. Jadi ada delta yang sangat kuat dampaknya, kalau oksigen yang sulit dicarai saat itu, tetapi kita bisa tahan ekonoinya dan bisa tumbuh di 3,5 persen. Lalu di kuartal empat, kita tumbuh 5 persen. Keseluruhan 2021 kita tumbuh 3,7 persen," tuturnya.

Ketika memasuki tahun 2022, lanjutnya, semua pihak sadari pemulihan terus berjalan dan semakin kuat. Namun tiba-tiba terjadi gejolak geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Harga komoditas melonjak tajam.

"Inilah tantangan berat buat Indonesia saat ini. Tadinya kita sudah siap, setelah belajar berbagai tantangan di dua tahun lalu, pertumbuhan ekonomi kita diproyeksikan 5,2 persen di akhir tahun ini," papar Febrio.

67