Home Apa Siapa Kisah Ustaz Abu Tholut Veteran Perang Afganistan, yang Lantang Bongkar Kesesatan ISIS

Kisah Ustaz Abu Tholut Veteran Perang Afganistan, yang Lantang Bongkar Kesesatan ISIS

1183

Kudus, Gatra.com – “Saya menolak dituduh sebagai teroris karena pernah ke Afganistan. Ingat, Kami di Afganistan ada 100 orang lebih, tetapi yang terjerat kasus terorisme menurut undang-undang itu hanya segelintir," begitu pendirian Ustadz Abu Tholut seorang aktivis pergerakan Islam pada masanya. 

Ia pernah ikut perang melawan komunisme di Afganistan, berjuang dengan bangsa Moro di Filipina, juga ikut aktif saat terjadi konflik horisontal di Poso, Sulawesi Tengah. Namun ia menolak dianggap sebagai teroris, terutama karena ia pernah menjadi pejuang di Afganistan. 

Kini, Abu Tholut memilih perjuangan dengan berdakwah di kampung. Saat Gatra.com mengunjunginya, Ahad, (17/4) lalu, belasan orang nampak bersila, mendengarkan ceramah sang ustaz paruh baya berpenampilan sederhana di musala yang telah berdiri sejak lima generasi di Desa/Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Ustaz Imron Baihaqi atau karib disapa Abu Tholut ini sempat mendapatkan cobaan terungku pada tahun 2010 karena kasus di Jantho, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ia terdengar mentausiahkan keistimewaan bulan suci Ramadan dengan pembawaan yang indah.

Pria yang kini memfokuskan diri berdakwah dan menyerukan penolakan terhadap paham radikalisme destruktif seperti yang dibawakan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) itu, dikenal di lingkungannya sebagai sauri tauladan. Menjadi penengah dalam meredam konflik, dan tokoh yang memberikan kontribusi kebaikan. Tidak ada stigma yang melekat pada dirinya.

Meski Kudus bukanlah kota kelahirannya, tetapi ia sangat mencintai daerah di Pantura Timur Jawa Tengah itu. Sehingga pria kelahiran Semarang dan besar di DKI Jakarta ini, memutuskan untuk hijrah, menetap, dan menghabiskan masa tuanya sejak tahun 2008 di lereng Pegunungan Muria.

Selain gigih dalam melantangkan kesesatan ISIS sejak kemunculannya, Ustaz Abu Tholut dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia mencukupi keperluan dapur dengan cara berniaga, mulai dari memproduksi dimsum, cireng, hingga kebab, sampai menjual aneka obat herbal dan madu, ia tempuh selama tidak melenceng dari ajaran agama.

**

Di bulan suci, dalam kesederhanaanya, kelapangan waktu telah terpadati oleh jadwal ceramah. Acap kali ia harus pulang-pergi memenuhi panggilan umat di luar kota, seperti Jakarta. Meski begitu tak enggan dirinya untuk tetap menentramkan hati Jemaah di Kota Kretek dan sekitarnya. Semuanya dilakukan atas dasar keridaan atas takdir yang telah diberikan Allah SWT.

Selain disibukkan dengan kegiatan dakwah, Ustadz Abu Tholut sering direngkuh oleh instansi pemerintah, ormas, akademisi, dan masyarakat untuk menjadi narasumber dalam meja diskusi luring serta daring, membahas isu terkini seperti isu Taliban dan bagaimana pengaruhnya kepada Indonesia.

Meski sempat ambil bagian Jemaah Islamiyah (JI) yang disebut sebagai salah satu organisasi militan Islam di Asia Tenggara. Hingga akhirnya organisasi yang lahir pada tahun 1992 itu, dilabeli sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2008. Ia menegaskan sudah tidak berhubungan lagi dengan JI, jauh sebelum itu.

“Pada tahun 2009 tepatnya, mereka (JI) mendatangi saya dan menyatakan untuk memutuskan hubungan dengan saya secara resmi, tanpa alasan. JI adalah organiasi yang anomali, jadi saya maklumi. Saya menilai ini adalah skenario Allah SWT bagi saya untuk membuka lembaran baru. Dan hari ini nampak sekali hikmahnya, mungkin kalau saya terus-terusan sama mereka, bisa tiga kali masuk penjara,” kelakar Ustadz Abu Tholut.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pun juga merangkulnya lantaran memiliki kepentingan yang sama, pasca Ustaz Abu Tholut menghirup udara bebas pada tahun 2015. Di mana saat itu, ia getol mengungkap keburukan dan penyimpangan ISIS.

“Saya yang awal anti ISIS. Jadi banyak teman baik saya yang terekrut oleh ISIS. Hingga di antara kami ada konflik yang cukup tajam. Setelah saya pelajari, ternyata ISIS ini banyak ditemukan kesesatannya dari pendapat banyak ulama. Maka saya banyak bicara untuk mengungkap penyimpangan kesesatan ISIS di mana-mana. Kemudian pihak pemerintah dalam hal ini BNPT itu punya kepentingan yang sama, mereka juga menganggap ISIS ini berbahaya,” terangnya.

Bahkan untuk memberikan pemahaman akan penyimpangan ISIS, ia rela menyambangi belasan kota di Indonesia guna memberikan pemahaman kepada awam. Seiring tumbuhnya paham ISIS di luar negeri, agar tidak mengakar di tanah air.

“Kebanyakan (dana) swadaya, artinya inisiatif saya dan teman yang kontra ISIS. Pemerintah sepertiganya saja, sekitar 5-6 kali saja dari total 17 kabupaten/kota yang kami datangi,” jelasnya.

**

Menilisik jauh kebelakang, Ustaz Abu Tholut sempat memerangi komunisme yang didalangi oleh Uni Soviet di Afganistan. Di usianya yang terbilang muda yakni 24 tahun, ia bersama sejumlah mahasiswa dari Indonesia rela meninggalkan bangku kuliah, lantaran terpanggil untuk membantu perjuangan umat muslim yang tertindas di sana sejak tahun 1985 hingga 1993.

“Umat muslim di sana (kala itu) sedang konflik bersenjata dengan rezim komunis yang di-backup Uni Soviet. Jadi Afganistan sebuah negeri Islam mau dikomuniskan dan mendapatkan perlawanan dari umat Islam. Kita terpanggil," katanya. 

Sementara, Pemerintah Soeharto (presiden) mendukung mujahidin waktu itu. Terbukti dengan adanya pimpinan (mujahidin) sering datang ke Indonesia sebagai tamu negara. Seperti Amat Syah  petinggi mujahidin Afganistan. Lalu Prof Robani, sebagai tamu negaranya presiden.

"Di PBB sikap Indonesia mendukung mujahidin Afganistan. Di OKI (Organiasi Kerjasama Islam) juga sama sikapnya mendukung. Itu semua terjadi ketika kami di sana. Artinya langkah saya ke sana, sejalan dengan kebijakan politik luar negeri pemerintah saat itu. Jadi saya tidak merasa radikal atau apa,” bebernya.

Begitu pun ketika ia berada di Filipina, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat itu ingin mengunjungi Mindanau dan bertemu bertemu pimpinan Mujahidin Moro, selepas kunjungan kenegaraan ke Manila. Hanya saja, kunjungan itu urung karena tidak diberikan izin oleh pemerintah Filipina. Bahkan Indonesia berkali mengajukan diri untuk menjadi mediator antara Mujahidin Moro dan pemerintah Filipina untuk meredam konflik.

“Bahwasanya riwayat saya di Afganistan atau Filipina itu dikaitkan oleh pihak-pihak, sebagai penyebab kepada aksi terorisme, saya tidak sepakat. Kalau seperti itu, banyak orang yang kena (kasus terorisme). Harusnya pemerintah waktu itu kena juga, karena sejalan. Saya di medan tempurnya, pemerintah di medan politiknya. Sama-sama dukung mujahidin. Ada pihak yang mengaitkan latar bekalang ke sana yang menjadikan teroris, itu tidak ada korelasinya,” imbuh Ustaz Abu Tholut.

Di akhir percakapan dengan Gatra.com, ia berpesan agar tokoh masyarakat maupun ulama di suatu wilayah, agar peduli dengan lingkungan tempat tinggal. Terlebih memperhatikan nasib anak muda.

“Anak muda dengan modal pengetahuan agama yang dangkal, rentan terpengaruh paham-paham yang negatif. Kalau toh tidak atas nama agama, itu nanti terjerumus hal yang negatif, seperti narkoba, ataupun keruskan moral lainnya. Kerusakan moral ini juga harus kita perhatikan. Karena agama ini obatnya, kalau agamanya bagus dia bisa mengontrol. Terus agama gimana yang baik, kalau kita kan jelas ya Ahlusunnah Wal Jamaah. Terserah mau di NU mau di Muhammadiyah terserah, itukan organisasi saja,” pesannya.

Menurutnya, saat ini sedikit anak muda yang terjerumus paham agama yang sesat. nsmuin lebih banyak yang terjerumus narkoba. "Itu juga radikal," tegasnya.

Menurut Abu Tholut, radikal itu ada dua, ada yang konstruktif dan destruktif. Konstruktif itu dalam hal ini, beragama harus radikal, radikal dari kata radik secara etimologi mengakar. Orang kalau beragama harus mengakar tahu dasarnya. Dalam Islam harus paham rukun Islam rukun iman.

"Kalau enggak radikal ngambang dong. Beragama harus radikal yang konstruktif. Yang tidak boleh adalah radikal destruktif, versi agama misalnya ISIS,” imbuhnya.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS