Home Regional Pedagang Musiman Panen Rezeki Jualan Selongsong Ketupat

Pedagang Musiman Panen Rezeki Jualan Selongsong Ketupat

Karanganyar, Gatra.com - Rombongan perajin selongsong ketupat asal Jumantono menyudahi jualannya di pelataran Pasar Jungke Karanganyar, Jateng, Selasa (10/5). Mereka kembali ke perkampungannya usai dagangannya ludes dibeli selama sepekan menggelar lapak di pasar tradisional.

Keuntungan berjualan selongsong ketupat dirasa sudah cukup dijadikan modal bercocok tanam. Ada yang mengantongi Rp2 juta, lainnya sampai Rp3 juta.

Berjualan selongsong ketupat sudah dilakoni para pedagang musiman ini selama belasan tahun. Bermodal keterampilan merangkai selongsong dan bahan baku daun kelapa muda, mereka menjelajah pasar tradisional di wilayah Karanganyar, Solo, Sragen dan sekitarnya.

Ditemui di pelataran Pasar Jungke, seorang perajin selongsong ketupat bernama Satiyem (45) menuturkan dirinya masih menunggu pembeli mengambil pesanannya. Rombongannya sudah terlebih dulu menyudahi jualan sejak Minggu (8/5) dan Senin (9/5).

"Sebenarnya sudah enggak jualan. Capai mas. Seminggu saja jualannya. Ini bawa pesanan saja dari orang Cangakan. Selongsongnya dibuat acara halal bi halal," katanya kepada Gatra.com, Selasa (10/5).

Diceritakannya, sekitar 20 orang warga Jumantono jualan selongsong ketupat di Pasar Jungke. Mereka terdiri dari remaja sampai lansia. Hampir seluruh dagangannya habis terjual.

"Alhamdulilah sudah normal lagi jualannya. Setelah dua tahun vakum. Yang beli juga enggak pilih-pilih," ujarnya.

Ia menjual selongsong per ikat isi 10 biji. Dalam sehari, ia menyiapkan bahan untuk 40 ikat. Ukuran kecil, per ikat Rp7 ribu. Sedangkan ukuran sedang Rp10 ribu per ikat. Harga tersebut berlaku ke pedagang tengkulak. Apabila dijual eceran dilepas dengan harga lebih tinggi.

Ketupat merupakan menu paling umum di meja makan saat momen lebaran. Bagi masyarakat Jawa, lebaran ketupat biasanya pada sepekan setelah Idul Fitri. Ketupat dijadikan pengganti nasi. Potongannya diguyur sayur nangka, sambal goreng, dan opor daging ayam.

Satiyem mengatakan bahan baku selongsong tersedia melimpah di kampungnya. Untuk membuat selongsong tidaklah lama, namun butuh ketelitian dan estetika. Daun kelapa segar atau janur setelah diambil bagiannya, kemudian dianyam membentuk bagian luar selongsong. Daya tahan selongsong yang tak terlalu lama membuat pedagang harus cepat-cepat menjualnya. Warna daun berubah tua setelah dikukus bersama beras di dalamnya.

Pedagang selongsong ketupat asal Desa Genengan, Jumantono, Giyono (50) mengaku rela menunda silaturahmi lebaran demi berjualan selongsong ketupat.

"Saya memilih jualan di Pasar Jungke karena tak terlalu jauh dari rumah. Tapi sebagian tetangga sampai ke Pasar Gading dan Pasar Legi Solo. Di sana, mungkin penjualannya lebih bagus dan untungnya lebih banyak," tuturnya.

Giyono membawa istri dan menantu perempuannya untuk membantu memproduksi dagangannya itu. Selama sepekan usai Idul Fitri, mereka berangkat sehabis subuh dan pulang setelah ashar.

"Dagangannya habis mas. Masih bikin hanya pesanan dikit-dikit," imbuhnya.

1830