Home Sumbagsel Ekspor di Sumsel Capai Rp9,8 Triliun, Tapi Impor Turun, Apa Sebabnya?

Ekspor di Sumsel Capai Rp9,8 Triliun, Tapi Impor Turun, Apa Sebabnya?

Palembang, Gatra.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), mencatat nilai ekspor pada April 2022 mengalami mencapai US$699,04 juta atau sekitar Rp9,8 triliun. Nilai tersebut mengalami kenaikan sebesar 8,46% dibandingkan pada Maret 2022 lalu.

Berdasarkan data BPS provinsi setempat, naiknya perkembangan ekspor tersebut juga terjadi di beberapa sektor. Di antaranya sektor nonmigas pada April 2022 mencapai US$643,25 juta atau sekitar Rp9,02 triliun, hal ini mengalami kenaikan sebesar 2,46% dibanding Maret 2022.

Kepala BPS Provinsi Sumsel, Zulkipli, melalui Humas BPS Sumsel, Trio Wira Dharma, mengatakan memang ada peningkatan pada perkembangan ekspor di Bumi Sriwijaya.

“Ya, pada April tahun ini perkembangan ekspor di Sumsel terjadi peningkatan,” ujarnya di Palembang, Jumat (3/6).

Menurutnya, adapun peningkatan ekspor nonmigas terbesar naik pada bahan bakar mineral, di antranya Batubara dan Lignit sebesar US$56,30 juta atau sebesar 21,91%. Begitu juga ekspor nonmigas berdasarkan hasil pertanian, pada Januari hingga April 2022 sebesar 46,17% dibanding dengan periode tahun 2021, ekspor hasil industri pengolahan naik sebesar 3,62% dan ekspor hasil tambang lainnya sebesar 141,52%.

“Dari catatan kita, terjadinya kenaikan tersebut juga berdasarkan permintaan yang tinggi di beberapa negara tujuan,” katanya.

Pihaknya mencatat, ekspor pada bulan April 2022 terbesar adalah ke Tiongkok sebesar US$195,49 juta, disusul ke India sebesar US$111,68 juta dan ke Malaysia sebesar US$66,03 juta dengan kontribusi ketiganya mencapai 53,39%. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa tercatat ada 27 negara masing-masing sebesar US$171,86 juta dan US$47,70 juta.

Secara kumulatif, lanjutnya, nilai ekspor terbesar Sumsel pada Januari hingga April 2022 ditujukan ke Tiongkok, India dan Amerika Serikat, dengan nilai masing-masing sebesar US$6669,92 juta, US$241,87 juta dan US$163,34 juta.

Sementara itu, nilai impor di Sumsel pada April 2022 mengalami penurunan dengan nilai US$77,65 juta atau turun US$11,97 juta (13,36%) dibanding Maret 2022. Hal tersebut disebabkan oleh turunnya impor nonmigas sebesar US$11,16 juta (14,80%) dan migas sebesar US$809,92 ribu (5,72%).

Dijelaskannya, bahwa impor di Sumsel mengalami penurunan disebabkan adanya kemungkinan masyarakat Sumsel yang mengutamakan penggunaan produk lokal.

“Kemungkinan adanya masyarakat Sumsel yang mengutamakan produk lokal. Apalagi, saat ini kecenderungan impor barang konsumsi bila dibanding April 2021 menurun,” tutup Trio.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS