Home Kalimantan Digoda Bertubi-tubi Oleh Investor, Pemkab HST Kokoh Tolak Sawit dan Tambang

Digoda Bertubi-tubi Oleh Investor, Pemkab HST Kokoh Tolak Sawit dan Tambang

Banjarmasin, Gatra.com - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), tetap berkomitmen mempertahankan daerahnya bebas dari perkebunan sawit dan pertambangan batubara.

Padahal, di kabupaten berjuluk 'Bumi Murakata' itu, potensi batubaranya sangat luar biasa karena berbatasan langsung dengan pegunungan Meratus yang membentang dari Kabupaten Kotabaru hingga Tabalong.

Wakil Bupati HST, Mansyah Sabri mengungkapkan, perkebunan sawit untuk Kabupaten HST tidak pas dan hanya akan membawa banyak mudarat daripada manfaat.

"Perkebunan sawit memerlukan lahan yang tidak sedikit, memerlukan banyak air dan tanaman disekitarnya akan mati. Sedangkan tambang merusak hutan sehingga potensi banjir akan lebih besar lagi melanda HST. Banjir awal tahun 2021 saja menelan korban jiwa 10 orang, ini yang kita khawatirkan," ujar Mansyah kepada Gatra.com, Jumat (3/6).

Pemda HST, beber Mansyah, dengan tegas tetap menolak sawit dan tambang meski diakuinya godaan datang bertubi-tubi dari pemodal besar untuk berinvestasi di sektor sawit dan tambang.

"Yang namanya godaan itu pasti ada dan sering datang. Tapi kita tidak tergoda. Kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat HST jauh lebih penting," tegasnya.

Meskipun menolak sawit dan tambang batubara, Pemda HST tidak diam begitu saja. Perkebunan kopi kini sedang dikembangkan di beberapa wilayah dataran tinggi di kabupaten tersebut seperti di Kecamatan Hantakan, Batu Benawa dan Limpaso.

"Tanaman kopi tidak merusak lingkungan. Saat ini sudah kami kembangkan lebih dari 100 hektar dengan bermacam jenis dan masyarakat sangat mendukung," ujarnya.

Pemda HST, ujar Mansyah, meminta kepada Dinas Kehutanan Provinsi agar dapat memberikan kelenturan agar Kopi bisa di tanam di hutan lindung karena kopi tidak merusak lingkungan.

"Selain kopi, kami masih mencari jenis tanaman lain yang bisa dikembangkan di HST yang mempunyai nilai ekonomi tinggi namun tidak merusak lingkungan," cetusnya.

Ekonom Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Ahmad Yunani sangat sependapat dan mendukung dengan kebijakan menolak sawit dan tambang di HST.

Menurutnya, HST selama ini sebagai sentra pertanian, perikanan dan holtikultura sehingga tidak cocok dijadikan sebagai lahan perkebunan sawit. "Kalau dipaksakan juga, dalam jangka panjang petani akan rugi. Kalau jangka pendek memang untung karena dapat uang dari menjual lahan. Yang untung itu korporasi," ucapnya.

Dia menyebut, tanpa sawit pun masyarakat HST bisa sejahtera. Apalagi HST punya alam sangat indah yang bisa dijadikan obyek wisata menarik disamping sebagai sentra industri, jasa dan perdagangan.

Dari segi ekonomi, beber Yunani, kopi jauh lebih menguntungkan karena kebutuhan kopi saat ini sangat besar sekali seiring menjamurnya cafe yang menyuguhkan minuman berbahan dasar kopi. "Kopi jelas tidak merusak lingkungan, nilai ekonominya tinggi dan bisa untuk diekspor," tukasnya.