Home Milenial TP Rachmat: Rantai Pasok Pendidikan Harus Dibenahi

TP Rachmat: Rantai Pasok Pendidikan Harus Dibenahi

Jakarta, Gatra.com – Founder Triputra Group, Theodore Permadi (TP) Rachmat, menilai perlu dilakukan pembenahan soal rantai pasok atau supplay chain di sektor pendidikan.

Rachmat menyampaikan pandangan tersebut usai menerima Paramadina Award 2022 di Universitas Paramadina, Jakarta, akhir pekan ini. Menurutnya, harus dilakukan perbaikan soal itu karena terjadi ketidakseimbangan atau inbalance untuk bidang tertentu.

“Pendidikan kita sudah ada perbaikan, tapi ada inbalance di bagian tertentu masih ada kekurangan,” katanya.

Ia menyebutkan, kekurangan sumber daya manusia (SDM) tersebut misalnya di bidang informasi teknologi (IT), dokter, dan perawat. Sementara di bidang lain sangat banyak atau melimpah.

“Kita susah nyari orang IT, nyari dokter susah sekali, nyari perawat susah sekali. Tapi di bidang-bidang lain kebanyakan. Itu mungkin supplay chain-nya harus dibenarkan, supaya lebih lurus,” katanya.

Salah satu yang bisa dilakukan agar siswa berminat untuk mengambil jurusan yang jumlah lulusannya masih kurang, di antaranya dengan memberikan beasiswa. Menurutnya, ini merupakan salah satu solusi.

“Oh Iya, kan saya kira pemerintah ada program LPDP ya, itu sudah bagus sekali. Tapi saya bilang, jangan cuma LPDP buat keluar negeri, tapi juga bikin beasiswa yang ke dalam negeri,” ucapnya.

Rachmat menyampaikan, semua pihak harus mempunyai andil untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia sesuai kapasitasnya. Ia bertekad dan berupaya untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak dari kalangan tidak mampu.

“Ya kita sebisanya, saya sih konsentrasi memberikan beasiswa, yang satu ada 2000 mahasiswa kita kasih beasiswa sambil setiap tahun,” ujarnya.

Sedangkan saat ditanya apa kriteria untuk mendapatkan beasiswa tersebut, Rachmat mengatakan, tidak terlalu ketat yang penting pintar dan dari kalangan tidak mampu. “Jangan lihat golongan, hanya syaratnya pintar dan miskin,” katanya.

Rachmat menyampaikan, sangat peduli pada pendidikan, karena ini merupakan segalanya. “Menurut saya, is everithing. Karena gini, kalau saya lihat di tengah jalan, ada orang minta-minta, dia kan hidup sekali. Kenapa dia sampai minta-minta?” ujarnya.

Menurut Rachmat, itu pasti ada latar belakang yang salah, apakah itu orang tua atau anaknya. “Kan hidup dia sudah hilang dan dia hanya hidup sekali loh. Jangan lupa, setiap orang hanya hidup sekali. Kalau kita enggak mau memberi kesempatan yang seluas-luasnya ke setiap individu, kita itu harus merasa berdosa,” ujarnya. 

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR