Home Milenial Bangun Kesadaran Cinta Seni Budaya Asli Nusantara lewat Pameran

Bangun Kesadaran Cinta Seni Budaya Asli Nusantara lewat Pameran

Ungaran, Gatra.com - Komunitas penggiat seni dan pelestari benda cagar budaya menggelar pameran di Gedung Serbaguna Alun-Alun Bung Karno, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Ketua panitia Aziz Wahid mengatakan, pameran ini lahir atas dasar kebutuhan menyuarakan informasi yang benar dan keprihatinan atas masih rendahnya wawasan pengetahuan generasi muda saat ini tentang nilai-nilai budaya asli nusantara dan mahakarya peninggalan leluhur sebagai jatidiri bangsa.

“Hal ini penting terus di suarakan sebagai langkah pelestarian guna dikenalkan kepada generasi penerus utamanya anak muda yang saat ini kita sebut anak milenial,” katanya.

Menurutnya, acara semacam ini perlu terus menerus di selenggarakan sebagai sarana edukasi, khususnya generasi muda . "Biar mereka tahu bahwa di setiap benda cagar budaya atau pun benda pusaka terdapat nilai-nilai filosofinya,” sebutnya.

Benda cagar budaya, katanya, tidak melulu soal mistis, ghoib, sirik, klenik, serta apapun istilah yang mengaburkan, dan bahkan memberikan kesan horor atau menakutkan bagi anak muda.

“Untuk itu dalam acara ini kami coba kreasikan dengan kemasan yang lebih menarik, edukatif, dan komunikatif. Inilah momentum menjelaskan nilai-nilai budi pekerti atau pesan pesan moral sebenarnya dari para leluhur kita dengan berbagai macam maha karya peninggalannya,” bebernya.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha (tengah) saat hadir dalam acara. (IST)

Selain dukungan Pemerintah Kabupaten Semarang, acara ini sukses terselenggara dengan adanya dukungan dari berbagai komunitas pecinta seni budaya, lintas agama dan kepercayaan seperti, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Komunitas Jejak yang Terlupakan , Sanggar Seni Gedong Songo, Generasi Muda Penghayat Kepercayaan Indonesia (Gemapakti).

Adapula, Perempuan Berpusaka, Perempuan Penghayat Indonesia (Puan Hayati), Generasi Muda (Gema) FKUB, FKUB Jawa Tengah, Gemasaba Jawa Tengah, Karangjati Nyawiji. Komunitas Batik Serumbung Gunung, Patron Ambarawa, Benteng Pendem, dan lainnya.

Adapun hal lain dalam acara ini terdapat pengukuhan Komunitas Wanita Berpusaka. Ketua Wanita Berpusaka, Sundari Bondan mengatakan, bahwa perempuan merupakan empu atau pakar akan pengetahuan seni yang mendalam.

Selain itu perempuan juga berperan penting merawat nilai-nilai kehidupan yang baik. "Perempuan juga memiliki tanggungjawab mendidik dan menularkan pada generasi yang akan datang,” ujarnya.

Acara ini diselenggarakan selama 3 hari mulai dari tanggal 3, 4, dan 5 Juni 2022. Selain pameran benda-benda pusaka bersejarah seperti keris, lukisan, batik, uang kuno hingga arca peninggalan sejarah dipamerkan dalam acara tersebut.

Ada juga sarasehan pengetahuan tosan Aji, batik, dan benda cagar budaya, pementasan tarian tradisional, kesenian jatilan. Dengan mengusung konsep yang santai, edukatif dan komunikatif menjadikan acara semakin menarik.

“Harapan kami selaku panitia, acara semacam ini terus bisa dilakukan dan menjadi agenda tahunan dan kalau bisa semakin semakin banyak diselenggarakan di berbagai daerah sebagai upaya pelestarian dan didukung seluruh masyarakat yang lebih luas,” tandas Azis.