Home Lingkungan 38 Tahun, Keausan Batuan Tangga Candi Borobudur Capai 4 Cm

38 Tahun, Keausan Batuan Tangga Candi Borobudur Capai 4 Cm

Yogyakarta, Gatra,com – Kepala Konservasi Borobudur Wiwit Kasiyati menegaskan tingkat akumulasi keausan batuan Candi Borobudur, khususnya pada tangga, di 38 tahun terakhir mencapai 4 Cm.

Selain mendukung pembatasan jumlah pengunjung, upaya mengurangi tingkat keausan batuan adalah mewajibkan pengunjung memakai sandal khusus.

“Pasca dibuka bagi umum pada 1983, aspek keretakan batu, keausan pada relief maupun batuan tangga yang disebabkan penggaraman, cuaca dan perilaku manusia juga naik. Termasuk juga deformasi vertikalnya juga meningkat,” kata Wiwit, Jumat (10/6).

Dalam webinar ‘Membicarakan (lagi) Borobudur; antara Konservasi dan Pariwisata’ yang digelar Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Wiwit menjadi salah satu pembicara kunci.

Tidak hanya itu, Wiwit memaparkan tingkat sementasi mengalami kenaikan, pengelupasan mengalami kenaikan, kondisi alveolus batu candi batu dan kondisi pustule candi mengalami kenaikan.

Hanya dua faktor kerusakan candi yang mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir yaitu sampah dan vandalisme, sebut Wiwit.

Dalam paparannya, Wiwit menyebut kehadiran pengunjung selama bertahun-tahun, dan yang pernah mencapai puncaknya hingga 55 ribu orang per hari menyebabkan kerusakan pada lantai.

“Berdasarkan penelitian teman-teman nilai keausan itu kalau totalnya 0,175 centi per tahun. Akumulasi dari 1984 sampai sekarang 3,95 cm atau hampir mencapai mencapai 4 cm,” ucapnya.

Pihaknya sebenarnya sudah berupaya untuk mengurangi keausan batuan candi seperti tidak lagi menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan lumut. Tidak hanya itu, pelapisan batu tangga dengan kayu dan karet sempat ditempuh.

“Namun pelapisan itu tidak efisien dan efektif, bahkan karet yang ditempatkan membuat licin pengunjung. Akhirnya sandal khusus bagi pengunjung kami anggap solusi yang efektif dan efisien sementara ini,” katanya.

Upaya memperlambat kepuasan relief menurutnya ditengah perubahan cuaca, iklim hujan, dan pelapukan sangat sulit. Namun pihaknya mengaku sepenuhnya focus pada penanganan keausan ini dengan mencoba menghadirkan inovasi.

Baginya upaya penutupan total Candi Borobudur saat ini ditengah ketidaksiapan masyarakat sekitar sangatlah tidak mungkin. Entah jika sepuluh tahun lagi. Namun kebijakan pembatasan jumlah pengunjung dinilai menjadi solusi.

“Selain mewajibkan pengunjung memakai sandal, nantinya mereka wajib didampingi oleh pemandu professional. Menurut kami rencana kenaikan tiket hingga Rp750 ribu masih sangatlah wajar,” jelasnya.

Wiwit juga menjelaskan ketersediaan lahan terbuka hijau juga akan memberi pengaruh besar pada pengurangan keausan candi , dibandingkan lahan terbuka tanpa ada pepohonan.

Pemerhati warisan budaya Amiluhur Soeroso, membenarkan adanya kenaikan tarif dan kuota pengunjung Candi Borobudur. Baginya hal yang sama juga diterapkan pada keajaiban dunia lainnya, seperti Angkor Wat.

“Di sana kita hanya boleh di halamannya saja, tidak boleh naik ke candinya. Kenaikan harga tiket ini sepenuhnya harus disosialisasikan ini demi kelestarian cagar budaya kebanggaan bangsa,” ucapnya.