Home Ekonomi Resmi Diluncurkan Ini Peran Project Management Office Kopi Nusantara

Resmi Diluncurkan Ini Peran Project Management Office Kopi Nusantara

Bali, Gatra.com– Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas biji kopi dalam negeri,  Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meluncurkan Program Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara. Saat ini PMO Kopi Nusantara memiliki sembilan pilot projects di enam wilayah yang tersebar di seluruh  Indonesia.

“Total lahan yang kita fasilitasi hingga saat ini lebih dari 6.500 hektar yang dikelola oleh 2.500 petani. Kami berharap hasil panen dari lahan tersebut akan dipergunakan untuk  memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional,” ujar Ketua PMO Kopi Nusantara, Dwi Sutoro dalan keterangan tertulisnya, Rabu (22/6).

Direktur Pemasaran Holding Perkebunan  Nusantara PTPN III (Persero) ini menyebut, peluang Indonesia menjadi pemain utama (key leader) industri kopi internasional terbuka lebar. Karena biji kopi Indonesia, dengan proses on farm dan off farm yang baik, memiliki cita rasa dan kualitas level premium.

Potensi ini perlu mendapatkan perhatian, khususnya terkait  instrumen perlindungan Kekayaan Intelektual, dalam hal ini Indikasi Geografis (IG). Selain Kementerian BUMN, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) turut aktif mengembangkan  dan merumuskan inovasi demi peningkatan daya saing kopi asal Indonesia.

Ketua PMO Kopi Nusantara, Dwi Sutoro (GATRA/Dok PMO)

Kemenlu, melalui  Direktorat Jenderal Kerja sama Multilateral, mengadakan Kegiatan “Jaring Masukan ‘Commodities Update’: Sinergi Diplomasi Kopi Indonesia dalam kerangka Peningkatan  Komoditas Kopi Berkelanjutan dan Berdaya Saing”. Kegiatan ini terselenggara secara hybrid (kombinasi pertemuan luring dan daring) pada Selasa (21/6) di Hotel Pullman Legian Beach, Bali.

Acara ini merupakan inisiatif Kemenlu untuk merumuskan sebuah kebijakan holistik dan  melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Salah satu tujuan utama acara ini adalah  menemukan solusi inovatif yang dapat mendukung upaya peningkatan ekspor kopi Indonesia di pasar global melalui peningkatan daya saing.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan produsen biji kopi terbesar ke empat di dunia. Brazil, Vietnam, Kolombia, merupakan tiga negara produsen kopi terbesar di dunia. 

Merujuk data International Coffee Organization (ICO), pada tahun 2019/2020, total kebutuhan kopi dunia mencapai 9,8 juta ton per tahun. Sedangkan total produksi kopi dalam negeri baru sebatas 686 ribu ton.

Saat ini terdapat beberapa tantangan dalam sistem rantai pasok (supply chain) kopi di dunia. Beberapa di antaranya adalah hambatan tarif, ketatnya persaingan dan persyaratan untuk masuk ke pasar global, serta beberapa persyaratan sertifikasi berkelanjutan.

Namun, Dwi  optimis, melalui sinergi dan kerja sama seluruh pihak dalam payung PMO Kopi Nusantara, Indonesia mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas biji kopi. “PMO Kopi Nusantara mengembangkan
berbagai program pendampingan dan mendorong terciptanya ekosistem bisnis yang berkelanjutan dengan target peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani kopi di tanah air,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dwi menyatakan, pendampingan kepada petani, menjadi langkah mutlak untuk meningkatkan kapasitas produksi kopi, karena 96,1% lahan kopi, merupakan lahan milik petani rakyat.

PMO Kopi Nusantara menerapkan strategi holistik, dalam proses pendampingan kepada petani. Mulai dari aspek pengolahan budidaya tanaman berkelanjutan, informasi dan pendampingan budidaya pertanian.

Juga digital farming dan mekanisasi pertanian, serta akses permodalan dan perlindungan risiko pertanian, pengembangan sosial masyarakat petani dan
bisnis inklusif. Serta kemitraan pertanian pasar (Farm to Market Partnership).

Tenaga Ahli Menteri BUMN Bidang Global Value Chains, Reynaldi Istanto, menyampaikan bahwa kerja sama dalam ekosistem bisnis ini perlu segera direplikasi. “Dalam proses pendampingan ini, PMO Kopi Nusantara melibatkan BUMN produsen pupuk, perkebunan,
perbankan, asuransi, perdagangan, serta pemerintah daerah," jelasnya.

Selain pemerintah, peran swasta juga didorong untuk ikut serta dalam inisiatif ini. "Hal ini perlu kita replikasi di banyak tempat di Indonesia. PMO Kopi Nusantara berupaya agar supply chain kopi dalam
negeri segera membaik, sehingga mampu menjadi market leader di pasar internasional,” pungkas
Reynaldi.

 

54