Home Kesehatan BRIN Sebut Perubahan Iklim Bisa Picu Peningkatan Penyakit

BRIN Sebut Perubahan Iklim Bisa Picu Peningkatan Penyakit

134

Jakarta, Gatra.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mengkaji dan meneliti ihwal dampak perubahan iklim. Upaya ini dimaksudkan untuk menemukan solusi inovatif guna mencegah dampak negatif perubahan iklim.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer. Hal ini menyebabkan efek gas rumah kaca.

Dia menambahkan, kondisi tersebut memicu perubahan signifikan pada iklim, suhu udara, dan curah hujan. Selanjutnya, keadaan ini dapat menimbulkan peningkatan penyakit dan masalah kesehatan masyarakat.

“Perubahan iklim berefek pada transmisi penyakit infeksius, baik melalui rute manusia-patogen, manusia-vektor, maupun manusia-host,” kata Indi dalam webinar bertajuk ‘Dampak Perubahan Iklim terhadap Penyakit dan Kesehatan’, Rabu (22/6).

Menurut Indi, perubahan iklim berperan penting pada pola aktivitas manusia dan host lain. Berbagai agen penyakit (patogen) seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur juga turut mengalami dampak perubahan iklim.

“Secara langsung, perubahan iklim memengaruhi tingkat survival, reproduksi, dan siklus hidup patogen. Sementara, secara tidak langsung bisa memengaruhi habitat, lingkungan, atau kompetisi dari patogen,” jelasnya.

Indi menambahkan, kenaikan temperatur akibat musim panas yang berkepanjangan dapat memengaruhi reproduksi dan masa inkubasi ekstrinsik (EIP) patogen. Kondisi itu juga bisa membatasi proliferasi patogen lewat kerja sama dengan pesaingnya.

Kenaikan suhu juga bisa memengaruhi temperatur air di muka bumi dan ketersediaan nutrisi di lingkungan. Hal ini akan menjadi lingkungan yang tepat bagi mikroorganisme untuk melangsungkan siklus reproduksi, serta dapat menyebabkan ledakan alga.

“Selain berdampak pada penyakit infeksius, perubahan iklim juga berdampak pada biofilm, kejadian antimicrobial resistance (AMR), dan kesehatan mental,” imbuhnya.

Pada 2022, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebut perubahan iklim secara signifikan meningkatkan risiko terhadap kesehatan mental dan kondisi psikososial. Mulai dari tekanan emosional, kecemasan, depresi, hingga kecenderungan bunuh diri.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS