Home Lingkungan RMU Bina Petani Kalteng Lewat Program Bertani Tanpa Bakar dan Tanpa Kimia

RMU Bina Petani Kalteng Lewat Program Bertani Tanpa Bakar dan Tanpa Kimia

Sampit, Gatra.com- General Field Manager PT Rimba Makmur Utama (RMU), Taryono Darusman mengatakan, ekosistem hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang memiliki cadangan karbon tertinggi di dunia. "Sangat penting dijaga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global," ujarnya dalam keterangan persnya, Selasa (28/6).

Menurutnya, masyarakat yang bermukim di sekitar area hutan gambut berperan utama dalam menjaga kelestarian hutan. Alternatifnya adalah cara bercocok tanam tanpa membakar dan tanpa memakai bahan kimia atau TBTK (Tanpa Bakar Tanpa Kimia). 

"Upaya konservasi seperti apapun tidak akan efektif tanpa peran serta mereka. Itulah yang menggerakkan kami di RMU untuk bekerjasama dengan masyarakat untuk memberikan alternatif cara bercocok tanam yang lebih ramah lingkungan," katanya.

Sekolah Tani Agroekologi adalah salah satu wujud dari kerja sama tersebut. Melalui program ini, kami bersama para mitra dan warga bahu membahu untuk memberikan solusi bagi para petani untuk dapat terus mempertahankan dan meningkatkan penghasilannya melalui cocok tanam, sambil memastikan bahwa ekosistem hutan tetap terjaga.

Dalam program ini, petani diberi pelatihan mengenai cara bertani yang berkelanjutan, dan mendapat akses ke pendanaan mikro yang disiapkan oleh RMU. Seperti diketahui, pembukaan lahan yang sering dilakukan selama ini, yakni dengan metode slash and burn (babat dan bakar), berisiko besar terhadap terjadinya kebakaran hutan yang lebih luas.

Selain itu,  lahan yang dibuka dengan cara dibakar atau dengan menggunakan bahan kimia tanpa kendali akan kehilangan kesuburannya dalam jangka panjang, sehingga tidak akan efektif lagi untuk kegiatan cocok tanam, sehingga petani terpaksa membuka lahan baru.

“Dengan cara bertani tanpa bakar dan tanpa kimia, hal ini dapat diatasi. Lahan yang dibuka serta dikelola secara ramah lingkungan memang tidak memberikan hasil yang instan, namun akan dapat terus digarap dan memberikan hasil yang berkelanjutan," tuturnya.

Sehingga dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan bagi petani. "Petani tidak perlu membuka lahan baru , dan ekosistemnya pun akan tetap terproteksi,” kata Taryono.

Bagi petani, ungkap Taryono, mengubah cara bertani yang sudah lama diterapkan menjadi cara bertani yang lebih ramah lingkungan memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan pendekatan dan proses menyeluruh untuk membangun pemahaman bahwa cara bertani TBTK adalah yang paling aman untuk keberlanjutan mata pencaharian petani dan keberlanjutan ekosistem.

Salah satu wilayah yang menerapkan ada di Kalimantan Tengah, tepatnya di desa-desa seputar sungai Katingan dan Mentaya. Di sana, sekitar 800 petani dari 16 desa telah berinisiatif untuk mempraktekkan cara membuka lahan dan bercocok tanam secara TBTK.

Dengan total lahan garapan seluas sekitar 780 hektar, para petani ini tergabung dalam  Sebuah inisiatif restorasi dan konservasi ekosistem hutan gambut seluas 157.875 hektar di Kalimantan Tengah

Aliansyah, seorang petani sayur dan buah dan peserta program Sekolah Tani Agroekologi adalah salah satu contoh petani yang sudah menikmati keuntungan dari hasil panen pertanian organik yang dipraktekkannya.   Ditemui di kebunnya di desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, ia bercocok tanam jeruk, kacang panjang, cabai dan beberapa jenis sayuran lain.

Aliansyah mengungkapkan pengalamannya setelah ikut serta dalam program Sekolah Tani Agroekologi. “Sebelum tahun 2020, saya bercocok tanam secara non-organik, dan hasil yang saya dapat jauh di bawah harapan. Kondisi tanah yang rusak akibat bahan kimia yang dipakai terus menerus menyebabkan modal yang harus saya keluarkan untuk perawatan mencapai lebih dari dua kali lipat dari hasil panen waktu itu," jelasnya.

Dalam tiga bulan dia bisa memanen 1 ton jeruk. "Kini, kebun jeruk saya selalu berbuah sepanjang tahun, tanpa henti, dan tidak mengenal musim,” ujarnya.