Home Ekonomi Sistem Pembayaran Digital Dorong Ekonomi Digital

Sistem Pembayaran Digital Dorong Ekonomi Digital

Jakarta, Gatra com- Sistem pembayaran dan pola transaksi ekonomi terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi dalam sistem pembayaran menggeser peran uang tunai sebagai alat pembayaran, menjadi alat pembayaran non tunai yang lebih efisien.

Sistem pembayaran yang efektif dan efisien berpengaruh terhadap kelancaran aktivitas perekonomian. Lancarnya sistem pembayaran juga mendukung perdagangan dan transaksi baik di tingkat domestik maupun internasional terutama bagi negara berkembang.

Sistem pembayaran dikatakan efisien apabila dapat meminimalisir biaya untuk mendapat manfaat dari sebuah transaksi. “Salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia adalah sistem pembayaran digital yang semakin seamless," kata Group Chief Editor SWA Media, Kemal E.Gani dalam konferensi virtual bertajuk “Business Operations Enablement Through The use of Integrated Payment Solutions” pada Selasa (28/6).

Kemal mengatakan, selama dua tahun pandemi melanda Indonesia, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjoyo menyebut akselerasi pembayaran digital di tanah air telah menjadi solusi untuk pemulihan ekonomi."Mengapa bisa demikian? sebab lewat digitalisasi pembayaran ini, aktivitas ekonomi kita tetap dapat berjalan meskipun mobilitas masyarakat sangat dibatasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kemal menambahkan bahwa yang perlu menjadi catatan dalam konteks layanan, ternyata digital banking dan digital payment telah berkembang secara baik dalam pembayaran di bidang ritel. Namun perkembangannya ini memerlukan kunci utama yakni keseimbangan antara inovasi dan mitigasi risiko.

Bersamaan dengan itu, diharapkan akan berkembang menjadi pelayanan pembayaran digital antar negara. Mengutip dari hasil riset IDC, Kemal mengungkap bahwa di tahun 2025 akan ada 125 juta pengguna baru  e-wallet, jumlah ini akan membuat  Indonesia menjadi negara pengguna e-wallet terbanyak di asia tenggara.

“Sistem pembayaran digital akan membawa potensi bisnis yang besar bagi pelaku usaha, terutama ritel. Terutama dalam hal memperkuat hubungan penjual dan pelanggan, yang kedua memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik atau customer experience yang lebih baik," paparnya.

Kepala Grup Operasional – Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Andiwiana Saptonarwanto menambahkan bahwa Bank Indonesia sudah menyiapkan sejumlah regulasi pendukung sistem transaksi keuangan elektronik.  Melalui sinergi dan kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan terkait, penyediaan infrastruktur dan perubahan perilaku menuju ekosistem digital.

Bank Indonesia saat ini sudah siap untuk memfasilitasi transaksi keuangan elektronik untuk semua model bisnis. Kedua, BI juga telah menyiapkan regulasi dan kebijakan yang mendukung. Ketiga, Optimalisasi sumber daya lokal. Keempat edukasi dan monitoring.

Strategi elektronifikasi transaksi keuangan BI telah mencakup empat bidang penting, yakni Elektronifikasi Bantuan Sosial dan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah. Serta Elektronifikasi transportasi dan tol juga Elektronifikasi ritel lainnya.

"Kedepan pemerintah sedang siapkan untuk bidang kesehatan, pariwisata serta bidang layanan masyarakat lainnya," papar Andiwiana.

Professor of Finance Management, IPMI Business School, Roy Sembel menuturkan digital inequality menjadi isu perhatian dunia. “Salah satu isu global yang menjadi perhatian dunia selain isu-isu lingkungan hidup, adalah isu digital inequality. Jadi dengan adanya digital payment system itu akan bisa mengurangi digital inequality," jelasnya.

Saat ini dengan terjadinya perang rusia Ukraina dampaknya ke GDP dan inflasi negara-negara di dunia sangat terasa. Untuk itu efisiensi makin dibutuhkan salah satunya dengan digitalisasi termasuk digitalisasi sistem pembayaran.

"Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi dari seluruh stakeholder untuk menangkap peluang ekonomi digital yg didalamnya digerakkan oleh digital payment.”

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Roy N Mandey memaparkan, beberapa peluang yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan revenue jika retailer menggunakan digital payments. Pertama, membuka cross-border sales yang tinggi. Kedua, membuka konversi yang tinggi.

Ketiga, kemudahan user atau customer untuk membeli secara kontekstual (mereka bisa mengatur kapan dan dimana) ini membawa mereka pada pada seamless checkout. Keempat, sistem pembayaran tertaut (linking payments) mendorong kekuatan belanja customer, semakin besar nilai belanjanya. Kelima, meningkatkan belanja dan loyalitas pelanggan.

Dilain pihak, sebagai pelaku bisnis procurement digital,
CCO MBIZ, Andhie Saad menjelaskan bahwa MBiz mengambil bagian untuk mendorong ekonomi digital Indonesia. Salah satunya dengan layanan MBizmarket.

"ni adalah layanan procurement untuk pemerintah daerah dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemda, karena adanya kebijakan pemerintah untuk mengganti cara procurement manual menjadi digital akan transparansi transaksi bisa diawasi dan di evualuasi," jelas Andhie.

Head of Business Development Xendit, Nor Meydia menekankan pentingnya pembayaran digital untuk bisnis. "Untuk perusahaan B2C, ini akan membawa bisnis memasuki pasar yang berisi pelanggan yang digital literasinya sudah sangat baik dan mereka ini adalah kelompok usia 25-34 tahun yang menyumbang lebih dari 50% belanja online," jelasnya.

Menurut dia, pembayaran digital akan memberikan pengalaman pembayaran yang disukai kustomer karena sederhana dan mudah. Riset menunjukkan 70% chart ditinggalkan calon pembeli karena tidak dapat menemukan metode pembayaran yang paling disukai saat checkout.

607