Home Info Sawit Tofan: Jangan Pernah Menyerah

Tofan: Jangan Pernah Menyerah

Jakarta, Gatra.com  - Di zamrud katulistiwa, dari barat hingga ke timur, hamparan elaeis guineensis itu telah seluas 16,38 juta hektar. Tanaman yang hanya bermula dari 4 butir biji yang dibawa oleh serdadu kumpeni dari Afrika sana.

Tak ada sesiapa yang menyangka kelapa sawit ini akan menjadi seluas dan sesubur itu hingga kemudian jadi gantungan hidup lebih dari 17 juta rakyat Indonesia dan menyetor lebih dari USD35 miliar devisa.

"Sawit sudah jadi tulang punggung perekonomian nasional. Pakai statistik apapun ditengok, semua bakal menunjuk ke arah itu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang akan kita dustakan?" kata lelaki 48 tahun ini saat berbincang dengan Gatra.com tadi pagi.

Soal adanya dinamika pada industri sawit, baik itu harga yang turun dan bahkan sawit dijelek-jeleknya pihak lain, bagi Tofan Mahdi, itu hal biasa. "Segala berkah yang kita rasakan, pasti ada cobaannya. Tinggal lagi bagaimana kita memaknai cobaan itu dengan berjiwa besar," ujarnya.

Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bilang begitu lantaran dia yakin sampai kapan pun prospek sawit akan tetap menjanjikan. Sebab semakin hari minyak sawit akan semakin dibutuhkan.

Keyakinan inilah yang kemudian dia tautkan dengan keyakinan lain bahwa siapapun yang memegang kendali pemerintahan, pasti akan berusaha menjaga industri sawit tetap menjadi sektor unggulan.

Presiden Jokowi sendiri kata Tofan malah terang-terangan bilang bahwa ada 17 juta petani dan pekerja di sektor kelapa sawit. "Ungkapan presiden ini menjadi penanda kalau sektor kelapa sawit sangat strategis. Lantaran itu, pemerintah pasti akan mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit. Kalau sudah begini, kayaknya enggak adalah yang perlu kita khawatirkan bukan?" Tofan optimis.

Kalau sekarang ada kekurangsingkronan pada industri sawit nasional, lagi-lagi kata peneliti di Paramadina Public Policy Institute ini, itu adalah dinamika yang akan menjadi perekat.

"Ibarat di sebuah rumah tangga, kekurangsepahaman bahkan jadi polemik, itu bunga-bunga rasa pertanda masih sama-sama sayang. Yang penting, jangan pernah menyerah" bekas Wakil Pimpinan Redaksi Harian Jawa Pos ini berumpama.

Dan paham tak boleh menyerah itu kata Tofan sudah dibuktikan lewat pola-pola yang dilakukan GAPKI kepada stakeholder terdekat di hulu; petani kelapa sawit.

"Kami sering diskusi, sama-sama merumuskan masukan kepada pemerintah, khususnya terkait situasi sulit yang sekarang sama-sama kita rasakan," katanya.

Industri sendiri kata Tofan tetap dan selalu mendukung serta menjalankan sebaik mungkin semua arahan dan kebijakan pemerintah, termasuk mendukung pemenuhan bahan pokok minyak goreng dengan harga terjangkau.

Ke depan kata Tofan, sinergi antar pelaku usaha hulu dan hilir tentu harus terus ditingkatkan. Komunikasi dengan pemerintah juga harus lebih baik lagi.

Tapi ingat, nanti kalau kondisi di dalam negeri sudah kembali stabil kata Tofan, bukan berarti persoalan yang dihadapi industri sawit sudah selesai.

Sebab selama minyak sawit menjadi nomor satu di pasar minyak nabati dunia, selama itu pula gelombang tekanan dan tuntutan keberlanjutan dari negara-negara maju terus bergulir.

"Di dalam negeri, kita sudah sepakat dan komit akan keberlanjutan dan itu mutlak. Misalnya Sustainable Development Goals (SDGs) maupun Environment, Social and Governance (ESG). Tapi kita juga musti tetap waspada jangan sampai keberlanjutan yang sering didengungkan pihak luar itu, cuma kamuflase negara-negara produsen minyak nabati non sawit untuk menurunkan daya saing sawit kita," Tofan mengingatkan.


Abdul Aziz